Mengapa RAPBN 2027 Dinilai Belum Cukup Mendukung Ekonomi Hijau?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 17:55 WIB
Mengapa RAPBN 2027 Dinilai Belum Cukup Mendukung Ekonomi Hijau?
Ilustrasi Ekonomi Hijau. Sumber: Magnific.com

Suara.com - Narasi mengenai ekonomi hijau mulai banyak muncul dalam arah pembangunan Indonesia, mulai dari transisi energi, pengembangan energi terbarukan hingga penciptaan lapangan kerja hijau.

Namun, arah tersebut dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan fiskal pemerintah melalui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Kritik itu disampaikan dalam forum “Menguliahi Kabinet Bayangan: Mengurai Paradoks Lingkungan dan Energi dalam RAPBN 2027” yang digelar Koalisi Masyarakat Sipil untuk Pendanaan Ekologi (KMSPE) di Jakarta, Rabu (19/8/2026). 

Direktur Kanal Foundation, Roy Salam, mengatakan pemerintah memang telah memasukkan sejumlah agenda yang berkaitan dengan ekonomi hijau dalam desain pembangunan.

Namun, keberadaan program tersebut, menurut dia, belum otomatis membuat keseluruhan kebijakan anggaran negara berorientasi pada ekonomi hijau.

“Program hijau belum otomatis menjadikan keseluruhan APBN hijau,” kata Roy.

Menurut Roy, paradoks itu terlihat ketika kebijakan fiskal digunakan untuk membiayai perlindungan lingkungan, tetapi pada saat yang sama tetap memberi ruang bagi aktivitas ekonomi yang berisiko meningkatkan tekanan terhadap sumber daya alam dan ekosistem.

Salah satu indikator yang disorot adalah struktur investasi. Berdasarkan pemetaan sektoral yang disampaikan Roy, sekitar 75,8 persen atau Rp151,3 triliun realisasi investasi sepanjang 2023–2025 berada pada sektor dengan risiko ekologis tinggi dan sangat tinggi. (

Karena itu, menurut dia, ekonomi hijau tidak cukup dibangun dengan menambah program yang diberi label hijau. Pemerintah juga perlu mengubah cara manfaat ekonomi dari pemanfaatan sumber daya alam dihitung dan dibagikan.

baca juga

Subsidi energi dan anggaran lingkungan

Kritik terhadap RAPBN 2027 juga datang dari Bhima Yudhistira yang dalam forum tersebut berperan sebagai “Menteri Keuangan dan Tata Kelola Anggaran” dalam Kabinet Bayangan.

Bhima menilai rancangan anggaran tersebut belum menunjukkan terobosan yang cukup untuk mengurangi ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap aktivitas ekstraktif.

Ia juga menyoroti besarnya dukungan fiskal terhadap energi, sementara alokasi untuk lingkungan dan perlindungan hutan dinilai masih terbatas.

Bhima menyebut anggaran lingkungan hidup hanya sekitar Rp1,2 triliun. Pada saat yang sama, subsidi LPG, listrik dan BBM tetap mendapat porsi besar. Ia juga mempertanyakan tidak munculnya pajak karbon dalam nota keuangan RAPBN 2027.

Menurutnya, instrumen fiskal seperti pajak karbon dapat memberikan sinyal ekonomi agar kegiatan dengan emisi dan dampak lingkungan tinggi tidak terus memperoleh insentif yang sama dengan kegiatan yang lebih berkelanjutan.

Bukan hanya soal anggaran lingkungan

Perdebatan mengenai RAPBN 2027 kemudian meluas dari pertanyaan tentang berapa besar anggaran untuk lingkungan menjadi soal bagaimana keseluruhan anggaran negara diarahkan.

Iqbal Damanik dari Kabinet Bayangan mengatakan kebijakan fiskal perlu memperhitungkan dampak jangka panjang karena keputusan yang dibuat pemerintah saat ini akan memengaruhi generasi mendatang.

Ia juga menyoroti perlunya memastikan masyarakat adat dan komunitas yang menjaga hutan memperoleh manfaat dari nilai ekonomi karbon yang dihasilkan ekosistem tersebut.

Menurut Iqbal, pemerintah juga perlu lebih banyak mempertimbangkan solusi berbasis alam, seperti mangrove dan gambut, dalam menghadapi perubahan iklim.

Sementara itu, Deputy Director The Reform Initiatives (TRI) Achmad Taufik mengatakan persoalan yang sama terlihat dalam anggaran pemerintah daerah.

Ia menyebut anggaran urusan kehutanan dalam APBD 2026 secara agregat nasional hanya mencapai 0,23% dari belanja daerah. Hampir 60% belanja urusan kehutanan tersebut digunakan untuk gaji dan tunjangan aparatur sipil negara. (indonews.id)

Bagi KMSPE, persoalannya bukan sekadar menambah program lingkungan dalam dokumen anggaran.

Jika ekonomi hijau benar-benar hendak dijadikan arah pembangunan, perubahan juga perlu terlihat dalam struktur belanja negara dan daerah, mulai dari perlindungan ekosistem, penguatan ekonomi masyarakat, hingga pemulihan sumber daya alam.

Dengan kata lain, ukuran ekonomi hijau bukan hanya seberapa banyak program yang disebut “hijau”, tetapi juga apakah keseluruhan kebijakan fiskal ikut mendorong perubahan menuju ekonomi yang lebih rendah emisi dan tidak memperbesar tekanan terhadap lingkungan.

Penulis: Inesia Dian

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Saat Membeli Rumah, Mengapa Jejak Karbon Sering Tak Jadi Pertimbangan?

Saat Membeli Rumah, Mengapa Jejak Karbon Sering Tak Jadi Pertimbangan?

Lifestyle | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 17:06 WIB

Subsidi Energi 2027 Membengkak, Beban APBN Makin Berat

Subsidi Energi 2027 Membengkak, Beban APBN Makin Berat

Bisnis | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 13:43 WIB

Riset CORE Ungkap Trik Pemerintah Sembunyikan Utang, Dari Whoosh hingga Burden Sharing BI

Riset CORE Ungkap Trik Pemerintah Sembunyikan Utang, Dari Whoosh hingga Burden Sharing BI

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:55 WIB

Terkini

Semarak Oishi Matsuri 2026: Kuliner, Perencanaan Finansial, dan Privilese Spesial Barca BRI

Semarak Oishi Matsuri 2026: Kuliner, Perencanaan Finansial, dan Privilese Spesial Barca BRI

Bri | Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:07 WIB

Kematian Sutrimo Disebut Bukan Tindak Pidana, Pengacara Febrie: Jangan Ada Spekulasi

Kematian Sutrimo Disebut Bukan Tindak Pidana, Pengacara Febrie: Jangan Ada Spekulasi

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:05 WIB

Cara Pre-Order iPhone 18 Series Ekstra Hemat Pakai BRImo

Cara Pre-Order iPhone 18 Series Ekstra Hemat Pakai BRImo

Bri | Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:58 WIB

Pilihan Skincare Lokal Makin Beragam di Tengah Tren Beauty

Pilihan Skincare Lokal Makin Beragam di Tengah Tren Beauty

Lifestyle | Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:48 WIB

Beauty Routine Makin Personal, 100 Skincare hingga Fragrance Jadi Pilihan Konsumen 2026

Beauty Routine Makin Personal, 100 Skincare hingga Fragrance Jadi Pilihan Konsumen 2026

Lifestyle | Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:36 WIB

Daftar Rincian Isi 7 Koper Emas 74 Kg dan Dolar di Brankas Rumah Febrie Adriansyah

Daftar Rincian Isi 7 Koper Emas 74 Kg dan Dolar di Brankas Rumah Febrie Adriansyah

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:35 WIB

KPK Tetapkan 8 Tersangka Baru Kasus Jalan Sumut, Salah Satunya dari BBPJN

KPK Tetapkan 8 Tersangka Baru Kasus Jalan Sumut, Salah Satunya dari BBPJN

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:34 WIB

Penerimaan Pajak Melesat 24,1% di Agustus 2026 karena Pemerintah Tunda Restitusi ke Pengusaha

Penerimaan Pajak Melesat 24,1% di Agustus 2026 karena Pemerintah Tunda Restitusi ke Pengusaha

Bisnis | Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:33 WIB

Istanbul Jadi Sumber Inspirasi, Brand Fashion Indonesia Perkuat Jejak di Turkiye

Istanbul Jadi Sumber Inspirasi, Brand Fashion Indonesia Perkuat Jejak di Turkiye

Lifestyle | Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:31 WIB

12 Perusahaan di Sumsel Disegel KLH Terkait Karhutla, Sampel Diuji untuk Tentukan Sanksi

12 Perusahaan di Sumsel Disegel KLH Terkait Karhutla, Sampel Diuji untuk Tentukan Sanksi

Sumsel | Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:15 WIB

×