Bukan Pertumbuhan Ekonomi, Riset CORE Bongkar RAPBN 2027 Justru Bikin Anggaran Makin Ketat

Dicky Prastya

Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:32 WIB
Bukan Pertumbuhan Ekonomi, Riset CORE Bongkar RAPBN 2027 Justru Bikin Anggaran Makin Ketat
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: Suasana gedung bertingkat perkantoran di Jakarta, Kamis (7-3-2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • CORE Indonesia merilis analisis pada Kamis (20/8/2026) yang menyatakan RAPBN 2027 sebenarnya mengalami pengetatan anggaran.
  • Hampir separuh tambahan belanja negara tahun 2027 habis tersedot untuk membayar kewajiban bunga utang masa lalu.
  • Pemerintah memangkas anggaran Kementerian/Lembaga sebesar 7,7 persen akibat sempitnya ruang fiskal untuk belanja negara.

Suara.com - Pemerintah mengklaim Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dirancang tetap bersifat ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, analisis terbaru dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia membongkar narasi tersebut. Di balik label ekspansif yang digaungkan, indikator postur anggaran 2027 justru menunjukkan pengetatan.

Berdasarkan kajian CORE Insight bertajuk Di Balik Label Ekspansif: Beban Tersembunyi RAPBN 2027, ekspansi belanja yang dijanjikan pemerintah sebenarnya nyaris tidak dirasakan oleh sektor riil. Sebab, porsi terbesar dari tambahan belanja negara habis tersedot hanya untuk membayar kewajiban bunga utang masa lalu.

"Label ekspansif dan angka tidak selalu searah. Belanja negara yang hanya tumbuh 3,9 persen, defisit yang menyusut menjadi Rp671,2 triliun, dan keseimbangan primer yang diatur lebih kecil menunjukkan postur 2027 tidak seekspansif yang disampaikan dalam pidato," tulis riset CORE Indonesia, dikutip Kamis (20/8/2026).

Porsi Kenaikan Belanja Habis untuk Bunga Utang

Riset mencontohkan, jika pembayaran bunga utang dikeluarkan dari perhitungan, belanja negara 2027 secara riil hanya tumbuh 2,6 persen, dari Rp3.360,2 triliun menjadi Rp3.446,9 triliun. Laju ini berjarak jauh jika dibandingkan dengan pertumbuhan belanja tahun sebelumnya yang mencapai 15,0 persen.

Pertumbuhan belanja yang melambat ini bahkan tertinggal dari proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal yang diperkirakan sebesar 8,6 persen pada 2027. Dampaknya, peran belanja negara sebagai mesin pendorong perekonomian justru semakin mengecil.

Dari total tambahan belanja negara sebesar Rp154,8 triliun pada RAPBN 2027, sebanyak Rp68,1 triliun atau sekitar 44 persen langsung ludes untuk menutup porsi kenaikan bunga utang.

"Artinya, hampir separuh dari kenaikan belanja tidak menambah kegiatan ekonomi apa pun, hanya menutup kewajiban lama," tulis laporan tersebut.

Keseimbangan Primer dan Ruang Gerak yang Terkunci

Gambaran pengetatan ini diperkuat oleh indikator Keseimbangan Primer, alias selisih antara total pendapatan dan belanja di luar pembayaran bunga utang. Angka Keseimbangan Primer dirancang membaik dari minus Rp152,1 triliun menjadi minus Rp20,9 triliun.

baca juga

Secara teknis, perbaikan ini mengindikasikan bahwa aliran dana bersih dari APBN ke perekonomian justru menyusut hingga Rp131,2 triliun dalam satu tahun.

Kondisi ini dinilai ironis karena terjadi tepat di saat pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi ambisius hingga 5,9 persen sampai 6 persen.

Penyebab utama dari kontraksi aliran dana ini bukanlah pemotongan belanja secara langsung, melainkan target pendapatan negara yang dipatok naik jauh lebih cepat. Akibatnya, postur anggaran terancam bergerak melawan target pertumbuhannya sendiri.

Pergeseran Alokasi Anggaran

Sempitnya ruang gerak fiskal juga memicu pergeseran alokasi belanja di internal pemerintah pusat. Anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) dipangkas 7,7 persen menjadi Rp1.504,7 triliun atau berkurang Rp125,7 triliun.

Sebaliknya, belanja Non-K/L melesat 15,0 persen menjadi Rp1.857,5 triliun. Lonjakan belanja Non-K/L ini didorong oleh pos kewajiban yang tidak bisa dihindari, yakni pembayaran bunga utang dan Program Pengelolaan Belanja Lainnya, termasuk tagihan kompensasi energi.

CORE mengingatkan bahwa penyesuaian pos anggaran ini dilakukan bukan berdasarkan evaluasi objektif, melainkan keterdesakan ruang fiskal semata.

"Jadi, tambahan pada pos yang sulit dipangkas dua kali lebih besar daripada kenaikan belanja pusat, dan kekurangannya ditutup dengan memotong anggaran kementerian. Program pemerintah dikurangi bukan karena kinerjanya buruk, tetapi karena hanya pos itu yang secara hukum bisa disesuaikan," jelas CORE Indonesia dalam kajiannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi

Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:31 WIB

Investasi Data Center Naik 5 Kali Lipat, RI Masuk Fase Baru Ekonomi Digital

Investasi Data Center Naik 5 Kali Lipat, RI Masuk Fase Baru Ekonomi Digital

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:32 WIB

Ilusi Desil DTSEN, Pakar Soroti Risiko Data Keliru yang Bisa Rampas Hak Subsidi Rakyat

Ilusi Desil DTSEN, Pakar Soroti Risiko Data Keliru yang Bisa Rampas Hak Subsidi Rakyat

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:07 WIB

Donald Trump Ancam Hukuman Ekonomi Berat Bagi Negara yang Berbisnis dengan Iran

Donald Trump Ancam Hukuman Ekonomi Berat Bagi Negara yang Berbisnis dengan Iran

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 12:49 WIB

Penentuan Desil Tak Sesuai Ekonomi Warga, Menko Airlangga Akui Data DTSEN Tak Permanen

Penentuan Desil Tak Sesuai Ekonomi Warga, Menko Airlangga Akui Data DTSEN Tak Permanen

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:43 WIB

Dari Belajar - Menjadi Dampak, United Tractors Hadirkan UNTUK Indonesia

Dari Belajar - Menjadi Dampak, United Tractors Hadirkan UNTUK Indonesia

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:32 WIB

Terkini

Dewi Perssik Jadi Diva Penuh Rahasia di Serial Terbaru Suara Hati

Dewi Perssik Jadi Diva Penuh Rahasia di Serial Terbaru Suara Hati

Entertainment | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:42 WIB

6 Urutan Zodiak Paling Bucin dan Rela Berkorban demi Pasangan

6 Urutan Zodiak Paling Bucin dan Rela Berkorban demi Pasangan

Lifestyle | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:40 WIB

Jo Bo Ah Dilirik Gantikan Lee Chung Ah di Drama Aksi The Obedient Killer

Jo Bo Ah Dilirik Gantikan Lee Chung Ah di Drama Aksi The Obedient Killer

Your Say | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:40 WIB

Kritik Pedas Berujung Dapat Jabatan, Pengamat Sebut Politik Indonesia Mudah Dikompromikan

Kritik Pedas Berujung Dapat Jabatan, Pengamat Sebut Politik Indonesia Mudah Dikompromikan

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:39 WIB

Anak Pendiri NU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Meninggal Dunia

Anak Pendiri NU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Meninggal Dunia

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:34 WIB

Pengusaha Akui Beri 3 Gepok Uang ke Pegawai Bea Cukai Budiman Bayu, Disebut untuk Banjir Aceh

Pengusaha Akui Beri 3 Gepok Uang ke Pegawai Bea Cukai Budiman Bayu, Disebut untuk Banjir Aceh

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:32 WIB

HUT ke-81 TNI, DPR Ingatkan Modernisasi Alutsista Tak Sekadar Soal Kecanggihan

HUT ke-81 TNI, DPR Ingatkan Modernisasi Alutsista Tak Sekadar Soal Kecanggihan

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:32 WIB

Prabowo Minta TNI Utamakan Prestasi: Bukan Sekadar Senioritas dan Loyalitas Sempit

Prabowo Minta TNI Utamakan Prestasi: Bukan Sekadar Senioritas dan Loyalitas Sempit

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:31 WIB

Harga BBM Indonesia vs ASEAN: RON 92 Rp15.950, Singapura Tembus Rp48.514 per Liter

Harga BBM Indonesia vs ASEAN: RON 92 Rp15.950, Singapura Tembus Rp48.514 per Liter

Bisnis | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Review Lagu Sesi Potret: Penyesalan Perantau yang Sering Menunda Pulang

Review Lagu Sesi Potret: Penyesalan Perantau yang Sering Menunda Pulang

Your Say | Senin, 05 Oktober 2026 | 13:30 WIB

×