Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.394,125
LQ45 627,469
Srikehati 306,090
JII 380,924
USD/IDR 17.839

Bukan Pertumbuhan Ekonomi, Riset CORE Bongkar RAPBN 2027 Justru Bikin Anggaran Makin Ketat

Dicky Prastya

Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:32 WIB
Bukan Pertumbuhan Ekonomi, Riset CORE Bongkar RAPBN 2027 Justru Bikin Anggaran Makin Ketat
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: Suasana gedung bertingkat perkantoran di Jakarta, Kamis (7-3-2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • CORE Indonesia merilis analisis pada Kamis (20/8/2026) yang menyatakan RAPBN 2027 sebenarnya mengalami pengetatan anggaran.
  • Hampir separuh tambahan belanja negara tahun 2027 habis tersedot untuk membayar kewajiban bunga utang masa lalu.
  • Pemerintah memangkas anggaran Kementerian/Lembaga sebesar 7,7 persen akibat sempitnya ruang fiskal untuk belanja negara.

Suara.com - Pemerintah mengklaim Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dirancang tetap bersifat ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, analisis terbaru dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia membongkar narasi tersebut. Di balik label ekspansif yang digaungkan, indikator postur anggaran 2027 justru menunjukkan pengetatan.

Berdasarkan kajian CORE Insight bertajuk Di Balik Label Ekspansif: Beban Tersembunyi RAPBN 2027, ekspansi belanja yang dijanjikan pemerintah sebenarnya nyaris tidak dirasakan oleh sektor riil. Sebab, porsi terbesar dari tambahan belanja negara habis tersedot hanya untuk membayar kewajiban bunga utang masa lalu.

"Label ekspansif dan angka tidak selalu searah. Belanja negara yang hanya tumbuh 3,9 persen, defisit yang menyusut menjadi Rp671,2 triliun, dan keseimbangan primer yang diatur lebih kecil menunjukkan postur 2027 tidak seekspansif yang disampaikan dalam pidato," tulis riset CORE Indonesia, dikutip Kamis (20/8/2026).

Porsi Kenaikan Belanja Habis untuk Bunga Utang

Riset mencontohkan, jika pembayaran bunga utang dikeluarkan dari perhitungan, belanja negara 2027 secara riil hanya tumbuh 2,6 persen, dari Rp3.360,2 triliun menjadi Rp3.446,9 triliun. Laju ini berjarak jauh jika dibandingkan dengan pertumbuhan belanja tahun sebelumnya yang mencapai 15,0 persen.

Pertumbuhan belanja yang melambat ini bahkan tertinggal dari proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal yang diperkirakan sebesar 8,6 persen pada 2027. Dampaknya, peran belanja negara sebagai mesin pendorong perekonomian justru semakin mengecil.

Dari total tambahan belanja negara sebesar Rp154,8 triliun pada RAPBN 2027, sebanyak Rp68,1 triliun atau sekitar 44 persen langsung ludes untuk menutup porsi kenaikan bunga utang.

"Artinya, hampir separuh dari kenaikan belanja tidak menambah kegiatan ekonomi apa pun, hanya menutup kewajiban lama," tulis laporan tersebut.

Keseimbangan Primer dan Ruang Gerak yang Terkunci

Gambaran pengetatan ini diperkuat oleh indikator Keseimbangan Primer, alias selisih antara total pendapatan dan belanja di luar pembayaran bunga utang. Angka Keseimbangan Primer dirancang membaik dari minus Rp152,1 triliun menjadi minus Rp20,9 triliun.

baca juga

Secara teknis, perbaikan ini mengindikasikan bahwa aliran dana bersih dari APBN ke perekonomian justru menyusut hingga Rp131,2 triliun dalam satu tahun.

Kondisi ini dinilai ironis karena terjadi tepat di saat pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi ambisius hingga 5,9 persen sampai 6 persen.

Penyebab utama dari kontraksi aliran dana ini bukanlah pemotongan belanja secara langsung, melainkan target pendapatan negara yang dipatok naik jauh lebih cepat. Akibatnya, postur anggaran terancam bergerak melawan target pertumbuhannya sendiri.

Pergeseran Alokasi Anggaran

Sempitnya ruang gerak fiskal juga memicu pergeseran alokasi belanja di internal pemerintah pusat. Anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) dipangkas 7,7 persen menjadi Rp1.504,7 triliun atau berkurang Rp125,7 triliun.

Sebaliknya, belanja Non-K/L melesat 15,0 persen menjadi Rp1.857,5 triliun. Lonjakan belanja Non-K/L ini didorong oleh pos kewajiban yang tidak bisa dihindari, yakni pembayaran bunga utang dan Program Pengelolaan Belanja Lainnya, termasuk tagihan kompensasi energi.

CORE mengingatkan bahwa penyesuaian pos anggaran ini dilakukan bukan berdasarkan evaluasi objektif, melainkan keterdesakan ruang fiskal semata.

"Jadi, tambahan pada pos yang sulit dipangkas dua kali lebih besar daripada kenaikan belanja pusat, dan kekurangannya ditutup dengan memotong anggaran kementerian. Program pemerintah dikurangi bukan karena kinerjanya buruk, tetapi karena hanya pos itu yang secara hukum bisa disesuaikan," jelas CORE Indonesia dalam kajiannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi

Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:31 WIB

Investasi Data Center Naik 5 Kali Lipat, RI Masuk Fase Baru Ekonomi Digital

Investasi Data Center Naik 5 Kali Lipat, RI Masuk Fase Baru Ekonomi Digital

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:32 WIB

Ilusi Desil DTSEN, Pakar Soroti Risiko Data Keliru yang Bisa Rampas Hak Subsidi Rakyat

Ilusi Desil DTSEN, Pakar Soroti Risiko Data Keliru yang Bisa Rampas Hak Subsidi Rakyat

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:07 WIB

Donald Trump Ancam Hukuman Ekonomi Berat Bagi Negara yang Berbisnis dengan Iran

Donald Trump Ancam Hukuman Ekonomi Berat Bagi Negara yang Berbisnis dengan Iran

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 12:49 WIB

Penentuan Desil Tak Sesuai Ekonomi Warga, Menko Airlangga Akui Data DTSEN Tak Permanen

Penentuan Desil Tak Sesuai Ekonomi Warga, Menko Airlangga Akui Data DTSEN Tak Permanen

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:43 WIB

Dari Belajar - Menjadi Dampak, United Tractors Hadirkan UNTUK Indonesia

Dari Belajar - Menjadi Dampak, United Tractors Hadirkan UNTUK Indonesia

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:32 WIB

Terkini

Bukan Pertumbuhan Ekonomi, Riset CORE Bongkar RAPBN 2027 Justru Bikin Anggaran Makin Ketat

Bukan Pertumbuhan Ekonomi, Riset CORE Bongkar RAPBN 2027 Justru Bikin Anggaran Makin Ketat

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:32 WIB

Diperiksa KPK 7 Jam, Bupati Kuansing Bungkam Soal Selisih Amplop di Meja Raja Juli

Diperiksa KPK 7 Jam, Bupati Kuansing Bungkam Soal Selisih Amplop di Meja Raja Juli

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:32 WIB

Dari Dapur Rumah ke Restoran, Bisnis Alumni SisBerdaya Ini Catat Kenaikan Omzet 70%

Dari Dapur Rumah ke Restoran, Bisnis Alumni SisBerdaya Ini Catat Kenaikan Omzet 70%

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:30 WIB

Review Loki Season 2: Dari God of Mischief Menjadi Penjaga Multisemesta

Review Loki Season 2: Dari God of Mischief Menjadi Penjaga Multisemesta

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:30 WIB

Mengantuk Sekejap, Pikap L300 Terjun Bebas ke Sungai di Blitar

Mengantuk Sekejap, Pikap L300 Terjun Bebas ke Sungai di Blitar

Jatim | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:29 WIB

Panas! Korea Utara Luncurkan 10 Rudal Balistik saat Korsel dan AS Latihan Militer

Panas! Korea Utara Luncurkan 10 Rudal Balistik saat Korsel dan AS Latihan Militer

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:22 WIB

Nasib Ribuan Mahasiswa Jakarta Terancam Data Desil

Nasib Ribuan Mahasiswa Jakarta Terancam Data Desil

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:22 WIB

Mendag Dorong Pelaku Industri Manfaatkan Trade Expo Indonesia

Mendag Dorong Pelaku Industri Manfaatkan Trade Expo Indonesia

Jawa Tengah | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:20 WIB

81 Tahun Merdeka: Memaknai Ulang Ikigai di Tengah Realitas Anak Muda Indonesia

81 Tahun Merdeka: Memaknai Ulang Ikigai di Tengah Realitas Anak Muda Indonesia

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:20 WIB

Diskon Belanja di GrandLucky Spesial dari BRI, Ini Syaratnya

Diskon Belanja di GrandLucky Spesial dari BRI, Ini Syaratnya

Bri | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:16 WIB

×