Udara Singapura Tembus Rekor Terburuk Pertama Kali Sejak 7 Tahun karena Kebakaran Hutan Kalimantan

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 15 September 2026 | 10:53 WIB
Udara Singapura Tembus Rekor Terburuk Pertama Kali Sejak 7 Tahun karena Kebakaran Hutan Kalimantan
Kualitas udara wilayah pusat Singapura memburuk hingga masuk kategori tidak sehat pada Jumat pagi. (CNA)
baca 10 detik
  • Kabut asap kebakaran hutan Kalimantan memperburuk kualitas udara di seluruh wilayah Singapura.

  • Indeks Pollutant Standards Index di wilayah tengah Singapura sempat melonjak hingga skala 154.

  • Angin kencang dan cuaca kering diprediksi membuat kabut asap bertahan lebih lama.

Suara.com - Singapura mencatat penurunan kualitas udara hingga menembus level tidak sehat di seluruh wilayahnya pada Selasa pagi (15/9/2026) sejak 7 tahun terakhir. Lonjakan polusi udara ini dipicu oleh sebaran kebakaran hutan dan lahan yang terus membesar di wilayah Kalimantan, Indonesia.

Pergerakan angin membawa asap tebal melintasi wilayah perbatasan dan menyelimuti pusat pemukiman serta bisnis di negara tetangga tersebut. Fenomena alam ini menghentikan tren udara bersih yang sempat bertahan cukup lama di wilayah semenanjung.

Gumpalan asap dengan intensitas sedang hingga pekat melayang memasuki ruang udara Singapura akibat dorongan angin timur laut. Dampak paparan polutan kini dirasakan secara langsung oleh masyarakat di berbagai pelosok kota.

potret Singapura (Unsplash/Mike Enerio)
potret Singapura (Unsplash/Mike Enerio)

Titik panas yang membakar vegetasi di Kalimantan memicu penurunan drastis pada efisiensi jarak pandang ruang publik. Kondisi lingkungan yang memburuk membuat otoritas terkait segera mengaktifkan status kewaspadaan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Lonjakan paparan partikel berbahaya ini menjadi catatan terburuk dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. Tingkat pencemaran udara kini telah melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan untuk aktivitas luar ruangan.

Pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa kepulan asap dari Kalimantan menjadi faktor utama pemburukan kondisi atmosfer saat ini.

"Kondisi kering yang diperkirakan terjadi dan angin yang cenderung berhembus dari tenggara ke timur-tenggara, kabut asap kemungkinan akan terus memengaruhi Singapura," kata National Environment Agency, dikutip dari CNA.

Angka pemantauan menunjukkan bahwa wilayah bagian tengah mengalami penurunan kualitas udara yang paling parah dibanding area lain. Pada satu titik pemantauan, indikator pencemaran udara di kawasan tersebut sempat menyentuh angka 154.

Hingga pukul 11.00 waktu setempat, indeks standar pencemaran udara atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di wilayah tengah bertahan di level 143. Sementara itu, wilayah barat mencatat skala 121 dan wilayah timur berada pada tingkat 119.

baca juga

Area bagian selatan mengular di angka 103, yang menandakan bahwa hampir seluruh zona pemukiman telah terkontaminasi kabut tebal. Hanya wilayah utara yang sempat menunjukkan penurunan ke level moderat di angka 99 setelah sebelumnya menembus zona berbahaya.

Kondisi cuaca kering yang memicu kemunculan titik api diprediksi masih akan bertahan dalam beberapa hari ke depan. Pola arah angin yang konsisten berpotensi memperpanjang durasi ancaman krisis udara bersih ini.

Ancaman kabut asap akibat pembakaran lahan di Indonesia merupakan isu lingkungan musiman yang terus berulang di kawasan Asia Tenggara. Kebakaran hutan berskala besar kerap memicu ketegangan diplomatik dan gangguan kesehatan publik lintas negara.

Singapura terakhir kali menghadapi krisis kualitas udara parah serupa pada kurun waktu beberapa tahun lalu. Peristiwa berulang ini kembali mendorong pentingnya mitigasi titik panas secara terpadu di sumber kebakaran.

Pengawasan ketat terhadap pergerakan asap dan angka PSI terus dilakukan secara berkesinambungan sepanjang hari. Warga diimbau untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan guna meminimalkan risiko gangguan pernapasan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Asap Karhutla Kalimantan Terbawa Angin, Kualitas Udara Seluruh Singapura Tak Sehat

Asap Karhutla Kalimantan Terbawa Angin, Kualitas Udara Seluruh Singapura Tak Sehat

News | Selasa, 15 September 2026 | 08:48 WIB

Purbaya Dicopot, Media Singapura Ungkit 'Offside' Wacana Tarif Selat Malaka

Purbaya Dicopot, Media Singapura Ungkit 'Offside' Wacana Tarif Selat Malaka

News | Senin, 14 September 2026 | 17:08 WIB

Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?

Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 16:10 WIB

Terkini

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

News | Senin, 02 November 2026 | 01:02 WIB

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:11 WIB

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:09 WIB

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:45 WIB

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:42 WIB

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Sport | Minggu, 01 November 2026 | 23:37 WIB

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:29 WIB

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:00 WIB

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Lampung | Minggu, 01 November 2026 | 22:48 WIB

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:44 WIB

×