Soal MBG, Sosiolog Nilai Rakyat Sengaja Diadu di Isu Marjinal agar Akar Masalah Tak Tersentuh

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Rabu, 23 September 2026 | 21:52 WIB
Soal MBG, Sosiolog Nilai Rakyat Sengaja Diadu di Isu Marjinal agar Akar Masalah Tak Tersentuh
Ilustrasi petugas SPPG saat menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta memperingatkan pemecatan pengawas SPPG Bantul pada 22 September 2026 mengalihkan perhatian dari program MBG.
  • Anggaran besar program MBG bersumber dari dana publik dan pendidikan demi kepentingan politik populis untuk melanggengkan kekuasaan.
  • Perhatian publik yang tersedot pada kasus individu membuat pemerintah steril dari tuntutan akuntabilitas dan tanggung jawab korban jiwa.

Suara.com - Belum lama ini heboh kasus pemecatan pengawas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bantul akibat mengejek korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun kasus ini dinilai hanyalah riak kecil di permukaan. 

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, memperingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam selebrasi amarah moral atas kasus individu tersebut hingga melupakan kritik substansial terhadap program MBG.

Menurut Abe, sapaan akrabnya, tindakan staf SPPG tersebut memang terbukti tidak memiliki empati dan patut mendapat penilaian moral dari publik. 

Namun, menguras energi publik hanya untuk menghujat oknum individu justru menguntungkan penguasa karena perhatian terhadap cacat fundamental program MBG menjadi teralihkan.

"Ada dimensi fundamental yang saya kira tidak perlu diselebrasi berlebihan kasus-kasus seperti ini. Itu hanya kasus pinggiran, trivial, yang justru menjauhkan dari isu dasar dari akar persoalannya MBG itu sendiri," kata Abe, Rabu (22/9/2026).

Abe menegaskan bahwa akar persoalan MBG terletak pada narasi pemerintah yang seolah menjadikan program APBN ini sebagai bantuan cuma-cuma dari penguasa. 

Padahal, alokasi anggaran yang sangat besar tersebut diambil dari dana publik dan sektor pendidikan, yang disinyalir sarat akan kepentingan politik populisme menuju Pemilu 2029.

"Nah yang perlu kita pikirkan adalah bahwa MBG ini memang secara fundamental jelas-jelas menjadi bagian dari politik populisnya pemerintah ini untuk melanggengkan kekuasaan kubu partai politik pendukungnya," tandasnya.

Ia menyoroti bagaimana respons pemerintah yang terkesan abai dan meremehkan jatuhnya korban jiwa maupun kesehatan anak-anak sekolah akibat implementasi program yang bermasalah. Ketimbang membenahi akar masalah secara ilmiah, pemerintah dinilai lebih memilih bersikap pekak terhadap kritik.

baca juga

"Satu korban anak itu nggak bisa dikuantifikasi hanya sekadar ini kan hanya 0,001 persen. Mana ada nyawa manusia dihargai dengan angka yang tidak punya nilainya sama sekali, kan enggak begitu. Ini bukan soal persentase, ini adalah soal humanity," tegasnya.

Lebih jauh, Abe melihat adanya fenomena adu domba horizontal di mana rakyat yang pro dan kontra saling serang di media sosial atas kasus-kasus marjinal. 

Kondisi ini dinilainya mirip dengan gambaran distopia kekuasaan yang sengaja memelihara pembelahan agar masyarakat lupa menagih tanggung jawab pemerintah.

"Akhirnya konflik horizontal head-to-head seperti inilah yang sebetulnya dimaui oleh kekuasaan. Karena nanti yang diperbincangkan adalah hal-hal yang pinggiran kayak gini. Orang lalu lupa ada persoalan besar BGN, MBG-nya sendiri tadi tidak menjadi disoal lagi oleh publik," ungkapnya.

Dengan tersedotnya perhatian publik pada drama-drama kecil di tingkat akar rumput, kata Abe penguasa praktis terbebas dari tekanan publik mengenai akuntabilitas anggaran negara. Rakyat justru dibuat sibuk beradu narasi satu sama lain menghadapi isu-isu turunan yang tidak menyasar inti masalah.

"Dengan kasus-kasus itu maka steril-lah para penguasa itu dari krecekan-krecekan yang ditimbulkan oleh para pengkritik pemerintah itu dihadapi oleh rakyat sendiri, bukan oleh pemerintah langsung," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ilusi Kesantunan Pejabat: Di Balik Permintaan Maaf Wapres soal MBG

Ilusi Kesantunan Pejabat: Di Balik Permintaan Maaf Wapres soal MBG

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 19:55 WIB

Siswa SD Meninggal Tersedak Biji Kelengkeng MBG, Anggota DPR Minta BGN Evaluasi Menu

Siswa SD Meninggal Tersedak Biji Kelengkeng MBG, Anggota DPR Minta BGN Evaluasi Menu

News | Rabu, 23 September 2026 | 15:22 WIB

Siswa SD Meninggal Tersedak Biji Kelengkeng MBG, DPR Desak BGN Investigasi

Siswa SD Meninggal Tersedak Biji Kelengkeng MBG, DPR Desak BGN Investigasi

News | Rabu, 23 September 2026 | 16:03 WIB

Terkini

Usut Korupsi ATR/BPN, KPK Bidik Proses Perpanjangan SHGB Kota Baru Parahyangan

Usut Korupsi ATR/BPN, KPK Bidik Proses Perpanjangan SHGB Kota Baru Parahyangan

Bekaci | Minggu, 08 November 2026 | 12:26 WIB

Kawal Hilirisasi dan Kedaulatan Mineral, MIND ID Gandeng KPK Integrasikan WBS

Kawal Hilirisasi dan Kedaulatan Mineral, MIND ID Gandeng KPK Integrasikan WBS

Bisnis | Minggu, 08 November 2026 | 12:21 WIB

Lantik 125 Pengurus, Ketum APKLI Sebut Penyadapan Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tak Stabil

Lantik 125 Pengurus, Ketum APKLI Sebut Penyadapan Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tak Stabil

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:19 WIB

Kerusuhan Tatura-Nunu Tewaskan Warga, Wali Kota Palu Minta Polisi Usut Dalang

Kerusuhan Tatura-Nunu Tewaskan Warga, Wali Kota Palu Minta Polisi Usut Dalang

Sulsel | Minggu, 08 November 2026 | 12:15 WIB

Seskab Teddy Ajak Masyarakat Kunjungi Sekolah Rakyat, Lebih dari 45 Ribu Anak Kembali Bersekolah

Seskab Teddy Ajak Masyarakat Kunjungi Sekolah Rakyat, Lebih dari 45 Ribu Anak Kembali Bersekolah

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:10 WIB

Seni Mengenang dan Mengikhlaskan dalam Drama The Rainbow in Our Memory

Seni Mengenang dan Mengikhlaskan dalam Drama The Rainbow in Our Memory

Your Say | Minggu, 08 November 2026 | 12:10 WIB

Serukan Boikot Raffi Ahmad, Dulu Prabowo-Gibran Endorse Artis Tapi Kini Rakyat Kecewa

Serukan Boikot Raffi Ahmad, Dulu Prabowo-Gibran Endorse Artis Tapi Kini Rakyat Kecewa

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:05 WIB

Mensos Gus Ipul Raih Penghargaan CNN Indonesia Awards 2026

Mensos Gus Ipul Raih Penghargaan CNN Indonesia Awards 2026

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:02 WIB

Gaji Dipotong Pajak tapi Cari Kerja Susah, Wajar Kalau Gen Z Makin 'Galak' soal APBN!

Gaji Dipotong Pajak tapi Cari Kerja Susah, Wajar Kalau Gen Z Makin 'Galak' soal APBN!

Your Say | Minggu, 08 November 2026 | 12:00 WIB

Punya Pisang Ambon Matang? Sulap Jadi Banana Muffin Cokelat yang Lembut dan Legit!

Punya Pisang Ambon Matang? Sulap Jadi Banana Muffin Cokelat yang Lembut dan Legit!

Sumut | Minggu, 08 November 2026 | 11:55 WIB

×