AS dan Eropa Mau Rekayasan Iklim Global, Kurangi Sinar Matahari Jatuh ke Bumi

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 24 September 2026 | 14:28 WIB
AS dan Eropa Mau Rekayasan Iklim Global, Kurangi Sinar Matahari Jatuh ke Bumi
Ilustrasi sinar matahari (pixabay/alohamalakhov)
baca 10 detik
  • Politisi AS dan UE mempertimbangkan teknologi solar geoengineering untuk meredupkan sinar matahari.

  • Aktivis lingkungan menolak rekayasa iklim karena berisiko merusak lapisan ozon dan merusak cuaca.

  • Rekayasa iklim dinilai tidak mengatasi akar krisis pemanasan global akibat bahan bakar fosil.

Suara.com - Politisi Amerika Serikat dan Uni Eropa mulai serius melirik teknologi solar geoengineering untuk meredupkan sinar matahari demi menekan lonjakan suhu bumi. Langkah kontroversial ini diambil sebagai pintasan darurat di tengah lambatnya penanganan krisis pemanasan global.

Pilihan meredupkan matahari mencerminkan keputusasaan global dalam menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pendekatan ekstrem tersebut berisiko menggeser fokus utama dari pengurangan emisi karbon yang seharusnya menjadi prioritas.

Sektor swasta menangkap peluang ini dengan mengalirkan modal dalam jumlah besar ke berbagai perusahaan rintisan solar geoengineering. Eskalasi investasi tersebut mendorong wacana rekayasa iklim masuk ke dalam agenda politik utama negara-negara Barat.

Ilustrasi sinar matahari (freepik/freepik.com)
Ilustrasi sinar matahari (freepik/freepik.com)

Aktivis lingkungan langsung melayangkan penolakan keras terhadap rencana manipulasi radiasi surya tersebut. Dikutip dari Sputnik, mereka menilai teknologi rekayasa cuaca berskala masif menyimpan bahaya laten yang belum terukur.

Penolakan tersebut berdasar pada ancaman kerusakan nyata pada lapisan ozon yang melindungi kehidupan di bumi. Selain itu, intervensi buatan ini berpotensi merusak pola cuaca alami dan memicu kekeringan atau banjir ekstrem di berbagai wilayah.

Teknologi redupkan matahari sama sekali tidak menyelesaikan akar masalah pemanasan global. Penggunaan minyak bumi, gas alam, serta batu bara yang masif tetap menjadi pemicu utama kerusakan iklim.

Para kritikus menekankan bahwa menyaring radiasi surya hanya menutupi gejala kerusakan, bukan menyembuhkan sumber penyakitnya. Tanpa penghentian bahan bakar fosil, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akan terus memenjarakan panas bumi.

Meskipun memicu perdebatan sengit, wacana rekayasa iklim buatan justru dinilai semakin relevan oleh sebagian pengamat. Kebutuhan akan penanganan iklim yang cepat membuat opsi ekstrim ini tetap bertahan di meja perundingan.

Isu rekayasa iklim ini mencuat berdasarkan laporan media Politico yang mengutip keterangan dari dua mantan pejabat pemerintah. Laporan tersebut membeberkan dinamika diskusi tertutup di tingkat pengambil kebijakan Barat mengenai pengelolaan radiasi matahari.

baca juga

Rencana rekayasa iklim ini berakar dari ancaman krisis pemanasan global yang kian memburuk akibat tingginya emisi karbon dunia. Kegagalan mencapai target penurunan emisi global akhirnya memaksa para pemangku kebijakan mempertimbangkan intervensi teknologi berskala besar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Iran Patok Syarat Tinggi untuk Buka Kembali Negosiasi dengan Amerika Serikat, Apa Saja?

Iran Patok Syarat Tinggi untuk Buka Kembali Negosiasi dengan Amerika Serikat, Apa Saja?

News | Kamis, 24 September 2026 | 11:05 WIB

Kembali ke Indonesia, Marselino Ferdinan Ungkap Target Besarnya Bersama Persija

Kembali ke Indonesia, Marselino Ferdinan Ungkap Target Besarnya Bersama Persija

Bola | Kamis, 24 September 2026 | 09:58 WIB

Iran Tolak Buka Selat Hormuz Jika Perang Berlanjut: Ogah Tunduk ke Amerika Serikat

Iran Tolak Buka Selat Hormuz Jika Perang Berlanjut: Ogah Tunduk ke Amerika Serikat

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:03 WIB

Terkini

Usut Korupsi ATR/BPN, KPK Bidik Proses Perpanjangan SHGB Kota Baru Parahyangan

Usut Korupsi ATR/BPN, KPK Bidik Proses Perpanjangan SHGB Kota Baru Parahyangan

Bekaci | Minggu, 08 November 2026 | 12:26 WIB

Kawal Hilirisasi dan Kedaulatan Mineral, MIND ID Gandeng KPK Integrasikan WBS

Kawal Hilirisasi dan Kedaulatan Mineral, MIND ID Gandeng KPK Integrasikan WBS

Bisnis | Minggu, 08 November 2026 | 12:21 WIB

Lantik 125 Pengurus, Ketum APKLI Sebut Penyadapan Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tak Stabil

Lantik 125 Pengurus, Ketum APKLI Sebut Penyadapan Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tak Stabil

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:19 WIB

Kerusuhan Tatura-Nunu Tewaskan Warga, Wali Kota Palu Minta Polisi Usut Dalang

Kerusuhan Tatura-Nunu Tewaskan Warga, Wali Kota Palu Minta Polisi Usut Dalang

Sulsel | Minggu, 08 November 2026 | 12:15 WIB

Seskab Teddy Ajak Masyarakat Kunjungi Sekolah Rakyat, Lebih dari 45 Ribu Anak Kembali Bersekolah

Seskab Teddy Ajak Masyarakat Kunjungi Sekolah Rakyat, Lebih dari 45 Ribu Anak Kembali Bersekolah

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:10 WIB

Seni Mengenang dan Mengikhlaskan dalam Drama The Rainbow in Our Memory

Seni Mengenang dan Mengikhlaskan dalam Drama The Rainbow in Our Memory

Your Say | Minggu, 08 November 2026 | 12:10 WIB

Serukan Boikot Raffi Ahmad, Dulu Prabowo-Gibran Endorse Artis Tapi Kini Rakyat Kecewa

Serukan Boikot Raffi Ahmad, Dulu Prabowo-Gibran Endorse Artis Tapi Kini Rakyat Kecewa

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:05 WIB

Mensos Gus Ipul Raih Penghargaan CNN Indonesia Awards 2026

Mensos Gus Ipul Raih Penghargaan CNN Indonesia Awards 2026

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:02 WIB

Gaji Dipotong Pajak tapi Cari Kerja Susah, Wajar Kalau Gen Z Makin 'Galak' soal APBN!

Gaji Dipotong Pajak tapi Cari Kerja Susah, Wajar Kalau Gen Z Makin 'Galak' soal APBN!

Your Say | Minggu, 08 November 2026 | 12:00 WIB

Punya Pisang Ambon Matang? Sulap Jadi Banana Muffin Cokelat yang Lembut dan Legit!

Punya Pisang Ambon Matang? Sulap Jadi Banana Muffin Cokelat yang Lembut dan Legit!

Sumut | Minggu, 08 November 2026 | 11:55 WIB

×