-
Politisi AS dan UE mempertimbangkan teknologi solar geoengineering untuk meredupkan sinar matahari.
-
Aktivis lingkungan menolak rekayasa iklim karena berisiko merusak lapisan ozon dan merusak cuaca.
-
Rekayasa iklim dinilai tidak mengatasi akar krisis pemanasan global akibat bahan bakar fosil.
Suara.com - Politisi Amerika Serikat dan Uni Eropa mulai serius melirik teknologi solar geoengineering untuk meredupkan sinar matahari demi menekan lonjakan suhu bumi. Langkah kontroversial ini diambil sebagai pintasan darurat di tengah lambatnya penanganan krisis pemanasan global.
Pilihan meredupkan matahari mencerminkan keputusasaan global dalam menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pendekatan ekstrem tersebut berisiko menggeser fokus utama dari pengurangan emisi karbon yang seharusnya menjadi prioritas.
Sektor swasta menangkap peluang ini dengan mengalirkan modal dalam jumlah besar ke berbagai perusahaan rintisan solar geoengineering. Eskalasi investasi tersebut mendorong wacana rekayasa iklim masuk ke dalam agenda politik utama negara-negara Barat.

Aktivis lingkungan langsung melayangkan penolakan keras terhadap rencana manipulasi radiasi surya tersebut. Dikutip dari Sputnik, mereka menilai teknologi rekayasa cuaca berskala masif menyimpan bahaya laten yang belum terukur.
Penolakan tersebut berdasar pada ancaman kerusakan nyata pada lapisan ozon yang melindungi kehidupan di bumi. Selain itu, intervensi buatan ini berpotensi merusak pola cuaca alami dan memicu kekeringan atau banjir ekstrem di berbagai wilayah.
Teknologi redupkan matahari sama sekali tidak menyelesaikan akar masalah pemanasan global. Penggunaan minyak bumi, gas alam, serta batu bara yang masif tetap menjadi pemicu utama kerusakan iklim.
Para kritikus menekankan bahwa menyaring radiasi surya hanya menutupi gejala kerusakan, bukan menyembuhkan sumber penyakitnya. Tanpa penghentian bahan bakar fosil, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akan terus memenjarakan panas bumi.
Meskipun memicu perdebatan sengit, wacana rekayasa iklim buatan justru dinilai semakin relevan oleh sebagian pengamat. Kebutuhan akan penanganan iklim yang cepat membuat opsi ekstrim ini tetap bertahan di meja perundingan.
Isu rekayasa iklim ini mencuat berdasarkan laporan media Politico yang mengutip keterangan dari dua mantan pejabat pemerintah. Laporan tersebut membeberkan dinamika diskusi tertutup di tingkat pengambil kebijakan Barat mengenai pengelolaan radiasi matahari.
Rencana rekayasa iklim ini berakar dari ancaman krisis pemanasan global yang kian memburuk akibat tingginya emisi karbon dunia. Kegagalan mencapai target penurunan emisi global akhirnya memaksa para pemangku kebijakan mempertimbangkan intervensi teknologi berskala besar.