- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berpeluang maju dalam Pilpres 2029 karena memiliki elektabilitas tinggi.
- Direktur IPO menyatakan rekam jejak menunjukkan Dedi Mulyadi berpotensi meninggalkan partai atau tokoh pendukung demi kepentingan politiknya.
- Survei Tempo Data Science pada Agustus 2026 mencatat elektabilitas Dedi Mulyadi mencapai 41 hingga 42 persen.
Suara.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM dinilai memiliki peluang terbuka untuk melangkah ke ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Modal elektabilitas yang tinggi serta rekam jejak manuver politiknya menjadi pendorong utama peluang tersebut.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai secara politik tidak ada yang menghalangi KDM untuk merambah kontestasi yang lebih besar.
"Secara politik mungkin saja (lepas dari Prabowo), KDM sejauh ini menunjukkan sikap mendahulukan kepentingan politik individu dibandikan soal loyalitas," kata Dedi saat dihubungi Suara.com, Rabu (30/9/2026).
Ia kemudian menyinggung perjalanan KDM bersama Partai Golkar. Menurutnya, hubungan KDM dengan Golkar tidak berlangsung singkat, tetapi keputusan meninggalkan partai tersebut ketika peluang kekuasaan tidak diberikan menjadi catatan dalam membaca sikap politiknya.
"Kebersamaan KDM dengan Golkar tidak dapat disebut sebentar, faktanya ia tetap meninggalkan Golkar saat potensi kekuasaan tidak diberikan oleh Golkar, itu sudah cukup menggambarkan pola sikap politik KDM," ujarnya.
Pola serupa dimungkinkan terjadi apabila peluang KDM menuju kontestasi nasional semakin besar. Ia menyebut kepentingan politik yang lebih besar dapat memengaruhi hubungan KDM dengan kekuatan politik yang saat ini menaunginya.
"Jika potensi KDM merambah ke kontestasi lebih besar, bukan tidak mungkin Prabowo Subianto juga akan ditinggalkan KDM demi wujudkan hasrat personal KDM yang lebih besar juga," tuturnya.
Nama KDM sendiri memang semakin sering muncul dalam pembicaraan mengenai Pilpres 2029.
Survei Tempo Data Science yang dilakukan terhadap 1.260 responden di 38 provinsi pada 31 Juli-11 Agustus 2026 mencatat Dedi Mulyadi memperoleh 41 persen dalam simulasi terbuka dan 42 persen dalam simulasi dengan daftar nama.
Selain peluang KDM maju sebagai calon presiden, ia bilang konfigurasi dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih memungkinkan secara politik.
Menurut dia, pasangan tersebut tetap membutuhkan dukungan partai politik yang memenuhi ketentuan sebagai pengusung pasangan calon.
"Tidak ada halangan jika memang KDM berpasangan dengan Gibran, sepanjang mendapatkan dukungan politik dari Parpol yang memenuhi syarat sebagai pengusung," tandasnya.