- Ipan beserta istri dan kelima anaknya tinggal bersama dalam satu rumah petak berukuran 4x3 meter di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
- Keluarga tersebut menyewa rumah petak beratap asbes itu seharga Rp30 ribu per hari atau Rp800 ribu setiap bulannya.
- Akibat keterbatasan ruang dan faktor ekonomi, Ipan dan anaknya terpaksa tidur terpisah serta merasakan ketidaknyamanan.
Suara.com - Sebuah rumah petak di wilayah Jatibaru, Kelurahan Kampung Bali, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, dihuni tujuh orang dalam satu keluarga.
Rumah berukuran 4x3 meter tersebut ditempati Ipan bersama istri dan lima anaknya.
“4x3, bini, kita, anak 5, tujuh bener, yang satu baru umur 9 bulan, yang satu 6 tahun, yang satu 7 tahun, 16 tahun, 20 tahun,” kata Ipan kepada Suara.com saat ditemui di kawasan Jatibaru, Kamis (8/10/2026).
Keterbatasan ruang membuat Ipan dan anaknya yang paling besar terkadang memilih mengalah dan tidak tidur di rumah petak tersebut.

“Kalau itu mah ngepres banget, makanya saya yang ngalah kadang-kadang sama anak saya yang paling gede,” katanya.
Ipan mengatakan dirinya terkadang tidur di rumah orang tuanya yang berada di seberang karena ruang rumah petak terlalu sempit, terlebih dengan adanya bayi.
“Jarang si tidur di sini saya tidur di rumah orang tua seberang, kasian anak orok gak muat gak bisa maksain,” ujarnya.
Kondisi rumah yang terbatas juga membuat tidak semua barang keluarga dapat dibawa masuk.
Ipan mengatakan barang-barang yang dibawa harus disesuaikan dengan kapasitas ruang di dalam rumah.
“Ya gak kebawa semua, kalo dibawa semua gak bakal muat,” ucapnya.
Untuk kebutuhan mandi, keluarga Ipan menggunakan kamar mandi bersama penghuni rumah petak lainnya.
Ia menyebut terdapat tiga kamar mandi yang digunakan bersama.
“Bareng bareng yang 3 biji itu tuh,” ucapnya.
Rumah petak tersebut disewa Ipan dengan tarif Rp30 ribu per hari.
Jika dihitung bulanan, tarif sewanya Rp800 ribu. Ipan memilih membayar harian meski mengaku biaya tersebut cukup berat.
“Iya, sehari 30 kalau bulanan 800, milih harian aja udah. Lumayan berat sih, berat lah,”katanya.
Dengan kondisi ruang yang terbatas dan harus membayar sewa, Ipan mengaku tidak nyaman tinggal bersama enam anggota keluarganya di rumah petak tersebut.
Terlebih, salah satu anaknya masih berusia sembilan bulan.
“Ya kurang nyaman lah apalagi ada anak orok begitu, pengennya sih yang gede cuman keadaannya,” katanya.
Ipan mengatakan dirinya sebenarnya ingin memiliki tempat tinggal yang lebih luas dan layak.
Namun, kondisi ekonomi membuatnya masih bertahan di rumah petak tersebut.
“Ya sebenernya pengen yang layak aja cuman keadaannya begini yang penting buat perut dulu dah,” pungkasnya.
Berdasarkan pantauan Suara.com di lokasi, bangunan rumah petak tersebut menggunakan material triplek dan beratap asbes. (Reporter : Agustin Dwi Anggraini)