Pakar UGM Kritik Solusi Kekeringan Cuma Dropping Air, Dorong Warga Panen Air Hujan

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:27 WIB
Pakar UGM Kritik Solusi Kekeringan Cuma Dropping Air, Dorong Warga Panen Air Hujan
Ilustrasi panen air hujan. (Pexels)
baca 10 detik
  • Pakar hidrologi UGM, Agus Maryono, menyatakan penanganan krisis air bersih dan kekeringan di Indonesia pada 12 Oktober 2026 masih bergantung pada solusi jangka pendek berupa bantuan dropping air.
  • Agus Maryono mengimbau pemerintah dan masyarakat melakukan aksi nyata seperti memanen air hujan, mencari sumber air bawah tanah, serta merevitalisasi mata air.
  • Kondisi lingkungan yang sangat kering selama musim kemarau ekstrem juga memicu peningkatan ancaman serius berupa kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.

Suara.com - Penanganan krisis air bersih dan kekeringan yang melanda berbagai wilayah di Indonesia dinilai masih terjebak pada solusi jangka pendek yang tidak menyelesaikan masalah secara mendasar. 

Ketergantungan daerah terhadap bantuan dropping air dinilai hanya menunda persoalan tanpa memberikan jaminan ketahanan air berkelanjutan bagi masyarakat.

Pakar hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Maryono, mengkritik skema distribusi air darurat yang terus diulang setiap musim kemarau tiba tanpa diimbangi upaya edukasi penampungan air mandiri.

"Tapi dropping air jangan sampai itu membuat tahun depan drop lagi. Sehingga mungkin bisa dibagi dua, dropping air sedikit tapi yang kemudian kedua edukasi untuk memanen air hujan," kata Agus, Senin (12/10/2026)

Agus mengingatkan bahwa ancaman kemarau panjang hingga ketidakpastian siklus cuaca menuntut tingkat kewaspadaan yang tinggi di seluruh Indonesia. Kewaspadaan ini harus diwujudkan melalui aksi nyata yang melibatkan seluruh jenjang pemerintahan dari tingkat terendah hingga pusat.

"Kita harus khawatir, makanya harus melakukan sesuatu. Jadi untuk masalah kering, air dan sebagainya itu masyarakat harus bergerak. Pemerintah desa harus bergerak, RT-RW bergerak untuk melakukan sesuatu," tegasnya.

Untuk mengatasi dampak kekeringan yang makin meluas, kata Agus, sejumlah strategi taktis yang perlu diterapkan masyarakat di daerah rawan. 

Langkah tersebut meliputi pencarian dan pendalaman sumber air bawah tanah, pengerukan sumuran kecil di dasar sungai yang mengering, hingga revitalisasi mata air yang mati melalui proses pembersihan (stripping).

Ia menjelaskan bahwa keberadaan mata air debit kecil sekalipun memiliki potensi besar untuk menyelamatkan populasi warga dari krisis air.

baca juga

"Mencari sumber air yang masih ada, mata air meskipun kecil mata air itu, 1 liter per detik setidaknya untuk 1000 orang. Kalau seperempat liter dari 250 orang bisa selamat dari itu," terangnya.

Selain krisis air, fenomena kemarau ekstrem turut memicu ancaman serius lainnya berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai penjuru negeri. 

Kondisi lingkungan yang sangat kering dipadukan dengan kecenderungan perilaku masyarakat yang gemar membakar sampah atau lahan pertanian menjadi pemicu utama timbulnya kebakaran hebat.

"Kering itu cenderung orang secara psikologis cenderung juga untuk membakar. Kalau kita ke desa-desa, banyak orang yang membakar sesuatu. Kalau kita di lahan-lahan pertanian banyak orang membakar sekarang ya," ujarnya.

"Itu tentu saja penyebab hal kecil pun akan menyebabkan kebakaran hebat itu alam maupun manusia. Jadi ada korelasi antara kering dan kebakaran, secara statistik memang ada," tambahnya.

Oleh karena itu, Agus menegaskan bahwa penanganan kemarau di Indonesia tidak bisa lagi dipandang secara parsial. Masyarakat dan pemerintah daerah dianjurkan menghidupkan kembali kearifan lokal panen air hujan (rainwater harvesting), merevitalisasi embung, serta menyalurkan air hujan ke sumur-sumur warga.

Langkah itu penting dilakukan guna memulihkan pasokan air tanah sekaligus menekan dampak karhutla di masa mendatang.

"Nah kita juga nggak tahu kemarau yang tahun 2027, 2028 itu Mega El Nino lagi atau tidak, kita nggak tahu. Sehingga harus preventif," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Waduk Jatigede Surut, Masjid yang 11 Tahun Terendam Kembali Muncul

Waduk Jatigede Surut, Masjid yang 11 Tahun Terendam Kembali Muncul

Foto | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:00 WIB

Danau Semayang Mengering, Warga Berburu Emas

Danau Semayang Mengering, Warga Berburu Emas

Foto | Senin, 12 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Suahasil Peringatkan Harga Pangan Bakal Naik buntut Ancaman El Nino

Suahasil Peringatkan Harga Pangan Bakal Naik buntut Ancaman El Nino

Bisnis | Minggu, 11 Oktober 2026 | 18:15 WIB

Terkini

Pakar UGM Kritik Solusi Kekeringan Cuma Dropping Air, Dorong Warga Panen Air Hujan

Pakar UGM Kritik Solusi Kekeringan Cuma Dropping Air, Dorong Warga Panen Air Hujan

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:27 WIB

7 Tips Memasak dengan Air Fryer agar Makanan Renyah dan Lebih Sehat, Tanpa Boros Listrik

7 Tips Memasak dengan Air Fryer agar Makanan Renyah dan Lebih Sehat, Tanpa Boros Listrik

Lifestyle | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:25 WIB

Sugiono Serahkan Jabatan Menlu kepada Arrmanatha Nasir, Keduanya Sempat Berpelukan

Sugiono Serahkan Jabatan Menlu kepada Arrmanatha Nasir, Keduanya Sempat Berpelukan

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:21 WIB

Bus EPA Persib U-18 Diserang, Ketum Jakmania: Jelas Salah, Mohon Maaf

Bus EPA Persib U-18 Diserang, Ketum Jakmania: Jelas Salah, Mohon Maaf

Bola | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:20 WIB

Berapa Biaya Haji 2027 di Kota Makassar? Lebih Mahal dari Aceh

Berapa Biaya Haji 2027 di Kota Makassar? Lebih Mahal dari Aceh

Sulsel | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:20 WIB

6 Rekomendasi Jam Tangan Pria Terbaik untuk Aktivitas Outdoor, Harga Mulai Rp500 Ribuan

6 Rekomendasi Jam Tangan Pria Terbaik untuk Aktivitas Outdoor, Harga Mulai Rp500 Ribuan

Lifestyle | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:17 WIB

DPR Dukung Mutasi 199 Perwira Polri, Sahroni Ingatkan Jangan Tunggu Viral Baru Bertindak

DPR Dukung Mutasi 199 Perwira Polri, Sahroni Ingatkan Jangan Tunggu Viral Baru Bertindak

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:14 WIB

PAN Mantap Usung Prabowo di 2029, Demokrat Belum Bicara Pilpres

PAN Mantap Usung Prabowo di 2029, Demokrat Belum Bicara Pilpres

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:13 WIB

Maia Estianty Disebut Tone Deaf usai Bahas Rezeki dan Sedekah, Apa Sih Artinya?

Maia Estianty Disebut Tone Deaf usai Bahas Rezeki dan Sedekah, Apa Sih Artinya?

Entertainment | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:11 WIB

PT Timah (TINS) Bongkar Rencana Besar Kuartal IV 2026, Sahamnya Masih Loyo

PT Timah (TINS) Bongkar Rencana Besar Kuartal IV 2026, Sahamnya Masih Loyo

Bisnis | Senin, 12 Oktober 2026 | 12:10 WIB

×