- Menteri Keuangan Suahasil Nazara memperingatkan potensi kenaikan harga pangan akibat kekeringan El Nino pada konferensi pers di Jakarta.
- Inflasi komponen pangan bergejolak per September 2026 tercatat menguat mencapai level 5,03 persen secara tahunan.
- Kenaikan harga dipicu penurunan produksi dan biaya input produksi yang berdampak pada komoditas seperti beras dan cabai.
Suara.com - Menteri Keuangan Suahasil Nazara mewanti-wanti harga pangan bakal naik seiring dengan fenomena kekeringan yang melanda Indonesia karena El Nino.
Dalam paparannya, inflasi komponen pangan bergejolak (volatile food) per September 2026 tercatat menguat ke level 5,03% secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan, inflasi volatile food melaju 1,46% (month-to-month/mtm), meningkat dibandingkan realisasi Agustus yang sebesar 0,88% (mtm).
"Volatile food perlu kita waspadai karena kita akan menuju El Nino, kekeringan, sehingga nanti dampaknya di pangan akan kelihatan," katanya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Minggu (11/10/2026).
Adapun sejumlah komoditas utama yang telah mencatatkan kenaikan harga dan memberikan andil inflasi di antaranya cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, hingga telur ayam ras.
Selain akibat penurunan produksi karena faktor cuaca, tren kenaikan ini juga terdorong oleh peningatan biaya input produksi.
Dari risiko tersebut, Suahasil meminta seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk memantau pergerakan rantai pasok pangan secara ketat.
"Kita minta nanti seluruh institusi yang terkait diperhatikan dengan sangat saksama. Bagaimana produksi di dalam negerinya, bagaimana permintaan dalam negerinya, kalau bisa jangan sampai ada kekurangan dan jangan sampai meningkatkan inflasi yang tidak perlu," tegasnya.