- Bandara Internasional King Khalid di Arab Saudi diserang empat kali sejak 8 hingga 11 Oktober 2026.
- Serangan tersebut menewaskan 13 orang, melukai 320 orang, serta menyebabkan penutupan total operasional bandara.
- Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut sebagai protes terhadap intervensi militer Saudi di Yaman.
Suara.com - Gelombang serangan udara melanda Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi.
Dalam rentang lima hari terakhir, pusat penerbangan utama Paman Sam dan sekutunya di kawasan Teluk ini setidaknya telah dihantam empat kali serangan mematikan.
Insiden terbaru yang terjadi pada Minggu malam (11/10/2026) menambah panjang daftar korban jiwa serta memicu tanda tanya besar mengenai peta kekuatan di balik aksi penyerangan ini.
Kronologi Serangan dari Kamis hingga Minggu
Eskalasi kekerasan di Bandara Riyadh menunjukkan situasi keamanan yang kian tak terkendali. Berdasarkan rincian kronologi, gelombang serangan bermula dari aksi pengeboman pada Kamis (8/10/2026) yang menewaskan tiga warga negara Arab Saudi, termasuk seorang pilot.
Situasi berubah menjadi peristiwa berdarah pada Sabtu (10/10/2026) ketika sebuah rudal menghantam fasilitas bandara, menewaskan 12 orang di tempat dan melukai lebih dari 300 orang.
Angka kematian akibat serangan Sabtu tersebut membengkak menjadi 13 orang setelah seorang warga negara India mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit akibat luka berat.
Belum sempat otoritas setempat mengonsolidasikan situasi, serangan susulan kembali terjadi pada Minggu malam (11/10/2026) sekitar pukul 20.30 waktu setempat.
Al Jazeera menyebutkan bahwa sebuah proyektil tak dikenal melesat dan menghantam Terminal 4 yang melayani penerbangan domestik.
Hantaman proyektil tepat di samping pesawat terparkir memicu kobaran api di landasan pacu dan membuat para penumpang yang sedang taxiing terpaksa dievakuasi kembali ke gerbang.
Pada saat bersamaan, sistem pertahanan udara koalisi pimpinan Arab Saudi berhasil mengintersepsi dan menghancurkan satu rudal jelajah di sekitar kawasan bandara.
Korban Tewas dan Luka Terus Bertambah
Rangkaian insiden bertubi-tubi ini menelan korban jiwa dan luka yang sangat besar. Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) mengonfirmasi bahwa serangan pada Minggu (11/10/2026) menyebabkan satu warga negara Pakistan tewas dan 11 orang lainnya mengalami luka-luka hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Jika diakumulasikan dari serangan Sabtu (10/10/2026) dan Minggu (11/10/2026), total korban mencapai 13 orang tewas dan 320 orang luka-luka.
Korban tewas mencakup warga lokal Arab Saudi serta warga negara asing asal Bangladesh, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, Sudan, India, hingga Pakistan.
![Rudal Houthi Serang Riyadh, Negara Arab Ramai-Ramai Bela Arab Saudi Desak DK PBB Bertindak [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/20/89211-riyadh.jpg)
Houthi Mengaku Serang Bandara dan Fasilitas Aramco
Pertanyaan mengenai siapa aktor utama di balik aksi penyerangan ini mengarah pada kelompok Houthi atau Ansar Allah di Yaman.
Dikutip dari Sputnik Globe, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, secara terbuka mengklaim bahwa pihaknya melancarkan tiga gelombang serangan sejak Jumat (9/10/2026) menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan armada drone.
Selain menargetkan Bandara Riyadh, Houthi mengklaim telah menyerang bandara di Dammam serta dua fasilitas vital milik perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco.
Meskipun demikian, terdapat dinamika menarik pada serangan Minggu (11/10/2026). Kelompok Houthi tidak secara langsung mengajukan klaim tanggung jawab atas hantaman proyektil di Terminal 4 tersebut.
Namun, mereka merilis peringatan keras kepada seluruh maskapai penerbangan dan calon penumpang agar segera menghentikan penggunaan seluruh bandara di Arab Saudi.
Pihak Houthi menegaskan bahwa gempuran akan terus memburuk selama Riyadh tidak menghentikan campur tangan militernya dalam konflik internal di Yaman.
Dampak ke Penerbangan, Minyak Dunia hingga Konflik Regional
Dampak dari rangkaian gempuran ini merembet luas ke berbagai sektor penting. Efek langsung yang paling dirasakan adalah penutupan total operasional Bandara Internasional King Khalid sejak Sabtu (10/10/2026) demi pemeriksaan keamanan dan penilaian kerusakan.
Di ranah geopolitik, eskalasi ini memicu serangan udara balasan dari koalisi pimpinan Saudi yang menjatuhkan lebih dari 124 bom di kawasan Sanaa dan Saada.
Dampak global dari ketegangan ini turut mengancam stabilitas pasokan serta harga minyak dunia. Jalur pelayaran komersial di Selat Bab al-Mandeb, jalur krusial selain Selat Hormuz, kini berada dalam bahaya nyata akibat kontrol wilayah oleh Houthi.
Kondisi ini semakin memanas seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mempertimbangkan intervensi langsung militer Amerika Serikat untuk membendung kekuatan Houthi, sebuah langkah yang dikhawatirkan dapat memicu penutupan total lalu lintas kapal tanker minyak di kawasan Teluk.