- Sejumlah partai politik mulai mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2029.
- Partai-partai pendukung belum menetapkan calon wakil presiden karena posisi tersebut akan diputuskan menjelang akhir pendaftaran.
- Partai Demokrat masih fokus mendukung pemerintahan Prabowo dan mempertimbangkan peluang pencalonan Agus Harimurti Yudhoyono.
Suara.com - Percaturan politik nasional sudah mulai membuka langkah, meski pilpres baru akan digelar tiga tahun mendatang. Sejumlah partai, telah menyatakan bakal mengusung Prabowo Subianto sebagai calon petahana.
Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Gerindra, dan Partai Amanat Nasional, sudah menyatakan sikap untuk mengusung Prabowo sebagai capres pada Pilpres 2029, tanpa menetapkan siapa yang bakal menjadi cawapres.
Presiden ke-7 RI Jokowi yang kekinian menjadi Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), sebenarnya menjadi entitas politik pertama yang menggaungkan Prabowo menjadi capres pada 2029. Tentunya, masih berpasangan dengan sang anak, Gibran Rakabuming Raka, sebagai cawapres.
Namun, setelah Mahkamah Konstitusi membacakan amar putusan bahwa tak ditemukan ijazah setara SMA milik Gibran, Jokowi tampaknya berpikir ulang.
Saat ditanya apakah Gibran masih tetap akan dimajukan sebagai cawapres mendampingi Prabowo pada Pilpres 2029, Jokowi menjawab, "Pemilu masih jauh," Jumat (9/10).
Partai-partai politik yang sudah menyatakan bakal mendukung Prabowo sebagai capres 2029 juga enggan menyebut bakal mengusung Gibran.
"Kalau Prabowo menjadi capres, itu sudah keputusan Rapimnas Golkar. Soal cawapres belum, karena posisi itu kan nanti melihat komposisi koalisi pendukung Prabowo seperti apa," kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia, dikutip hari Rabu (14/10/2026).
Biasanya, kata Doli, sosok yang akan mengisi blangko cawapres akan ditentukan menjelang hari-hari pendaftaran ke KPU. Tentunya, itu melalui persetujuan bersama partai-partai koalisi pendukung Prabowo.
Pun begitu pula sikap PAN. Viva Yoga Mauladi, Wakil Ketua Umum partai itu, menegaskan siapa yang nantinya menjadi cawapres masih misteri.
"Secara empiris, penentuan pasangan calon itu diputuskan saat-saat last minute," kata dia.
Viva juga tak mau menjawab saat jurnalis ramai-ramai bertanya apakah masih akan mengusung Gibran sebagai cawapres.
"Secara organisasi, PAN akan menyerahkan siapa sosok cawapres kepada capres. Siapa yang dipilih oleh capres, itulah pilihan terbaik untuk berjuang bersama," kata Viva.
Lain lagi Partai Demokrat, yang disebut-sebut akan membawa nama ketua umumnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres bagi Prabowo pada Pilpres 2029.
Herman Khaeron, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, menegaskan belum ada pembicaraan tentang Pilpres 2029 di internal organisasinya. Partai berlambang Bintang Mercy itu masih fokus mendukung pemerintahan Prabowo, di mana AHY kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
"Demokrat sepertinya punya kalkulasi sendiri sehingga tak seperti partai lain yang sudah menyatakan mendukung Prabowo. Pertanyaannya, apakah Demokrat akan memajukan AHY sebagai capres, cawapres atau ada strategi lain," kata pengamat politik Arifki Chaniago.
Menurutnya, hal ini lumrah dalam 'catur politik'. Sebab partai-partai yang lebih dulu menyatakan dukungan, belum tentu mendapatkan jatah cawapres. Sebaliknya, partai yang belum menyatakan dukungan, tak bakal kehilangan peluang menempatkan kadernya sebagai cawapres.
Demokrat masih berhitung
"Demokrat masih menghitung, mempertimbangkan AHY sebagai cawapres Prabowo, itu sudah pasti. Tantangannya bukan soal membangun komunikasi politik, tapi memerkan nilai tambah AHY untuk memenangkan posisi itu," kata dia.
Nilai tambah ini penting, karena kalau jadi berpasangan, Prabowo dan AHY sama-sama berasal dari kalangan militer. Karenanya, AHY perlu menunjukkan nilai lebih dari cawapres lain, daya jangkau pemilih, serta dukungan politik.
Atur posisi
Efriza, pengamat politik dari Citra Institut, mengatakan partai-partai yang sudah menyatakan dukungan kepada Prabowo tampak hanya ingin mengamankan posisi.
"Tentu artinya belum bisa dipercayai sepenuhnya. Bisa saja hanya untuk mengamankan posisi dalam konfigurasi politik saat ini, sekadar komunikasi manis serta menjaga stabilitas politik," kata dia.
Tentu saja pilihan untuk mengumumkan mendukung Prabowo kembali maju sebagai cawapres secara dini mempunyai risiko besar bagi partai-partai tersebut.
Bila pemerintahan Prabowo tak berjalan baik dan disukai masyarakat, maka partai-partai itu harus menanggung renteng citra buruknya.
Lili Romli, Peneliti Senior politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, partai-partai sebenarnya sudah memiliki kalkulasi politik saat secara dini mendukung Prabowo pada Pilpres 2029.
"Sebabnya, kandidat petahana mempunyai peluang besar memenangkan pertarungan. Karena itu, wajar saja partai-partai sudah mulai menyatakan dukungannya," kata Lili.
Harapannya, kata dia, partai-partai itu akan mendapatkan nilai positif di kalangan pemilih sejak dini pula, yang tentunya menjadi investasi politik guna Pemilu 2029.
Berbeda dengan Gibran yang sedang menghadapi badai hukum, Prabowo secara politik masih mempunyai nilai jual tinggi bagi partai-partai politik untuk mendulang suara pemilih pada pemilu.
Akhir 'Dinasti Jokowi'
Nurul Fatta, pengamat politik, menafsirkan partai-partai yang sudah menyatakan mendukung Prabowo pada Pilpres 2029 tanpa menyebut nama Gibran sebagai pendampingnya, bisa jadi adalah akhir dari drama 'Dinasti Jokowi'.
Ia mengatakan, hal itu tampak terlihat pada perubahan sikap Jokowi saat menanggapi banyaknya dukungan parpol agar Prabowo menjabat presiden dua periode.
"Dulu, Jokowi selalu meminta relawan mendukung Prabowo-Gibran dua periode. Tapi belakangan, jawabannya 'pemilu masih lama'. Itu tidak salah, tapi tentu tidak setegas sebelumnya. Layar mulai berputar mengikuti arah angin," kata Fatta.
Tanpa mengesampingkan peran parpol, Fatta mengatakan Prabowo lah yang nantinya akan menentukan siapa cawapresnya, "Bukan lagi keluarga Solo."
Adi Prayitno, juga pengamat politik, mengatakan Gibran harus menunjukkan nilai lebihnya ketimbang sosok lain agar tetap dipilih Prabowo sebagai cawapres.
"Selain soal ijazah, hambatan Gibran tentu adalah minimnya dukungan dari partai-partai yang mempunyai kursi di DPR," kata dia.
Elektabilitas Gibran juga menjadi hambatan, sehingga partai-partai tak mau menyatakan dia sebagai kandidat kuat cawapres secara dini.
"Elektabilitasnya tidak mentereng-mentereng amat. Ini yang jadi variabel kunci kenapa partai-partai tak memberikan dukungan secara dini."