Cerita WNI Kapten Kapal MT Honour 25 Disandera Perompak Somalia: Jangan Tembak, Saya Muslim

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41 WIB
Cerita WNI Kapten Kapal MT Honour 25 Disandera Perompak Somalia: Jangan Tembak, Saya Muslim
Kapten MT Honour 25 Ashari Samadikun menceritakan perjuangan bertahan hidup lima bulan disandera perompak Somalia. (BBC)
baca 10 detik
  • Kapten MT Honour 25 Ashari Samadikun selamat usai disandera perompak Somalia selama lima bulan.

  • Operasi pembebasan militer Puntland mengakibatkan lima ABK meninggal dunia dan lima lainnya terluka.

  • Empat pelaut asal Indonesia berhasil dipulangkan ke tanah air pada 6 Oktober 2026.

Suara.com - Perjuangan bertahan hidup selama lebih dari lima bulan di perairan Somalia meninggalkan luka traumatis mendalam bagi Nahkoda Kapal MT Honour 25, Ashari Samadikun. Pelaut asal Kabupaten Gowa tersebut masih sering panik setiap kali mendengar bunyi benturan keras yang menyerupai dentuman senjata api.

Inisiatif diplomasi keagamaan dan keahlian bernegosiasi sang kapten menjadi kunci utama selamatnya belasan awak kapal dari ancaman pembunuhan. Kepemimpinan Ashari di atas kapal tanker tersebut berhasil meredam emosi kelompok pembajak bersenjata sejak awal perampasan.

Pengalaman ekstrem ini memberikan gambaran nyata mengenai besarnya risiko keamanan maritim yang mengintai para pelaut internasional di sekitar tanduk Afrika. Taktik pendekatan persuasif terbukti mampu melunakkan sikap ekstrem para milisi pemegang senjata.

Aksi pembajakan bermula ketika gerombolan bersenjata menyergap kapal tanpa perlawanan pada 21 April 2026. Seluruh kru yang tidak dibekali senjata api langsung dikumpulkan dalam posisi menunduk di depan kamar nahkoda.

"Jadi hari itu cuma saya yang berdiri. Saya bilang: 'Tenang, jangan takut, jangan ada panik, jangan berbuat apa-apa'. Jadi semua kru saya itu tunduk, jongkok, angkat tangan semua. Cuma saya berdiri," terang Ashari kepada jurnalis M Aidil yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

"Baru ditodong semua [senjata] di situ," katanya.

Nahkoda berupaya meyakinkan para perompak agar tidak melepaskan tembakan ke arah belasan anak buah kapal. Pendekatan berbasis kesamaan keyakinan langsung digunakan untuk meluluhkan situasi yang sangat tegang.

"Saya bilang: 'Don't shoot, I am Muslim' (Jangan tembak, saya Muslim). Langsung dia [perompak] bilang: 'Ok, no shoot," kata Ashari.

"Dia [perompak] bilang: 'Mana kapten?' Saya bilang: 'Saya kapten. Assalamu'alaikum'. Dia bilang: 'Waalaikumsalam," paparnya.

baca juga

"Saya bilang: 'Saya muslim, kalian muslim, semua muslim bersaudara'."

Siasat meredakan emosi perompak dilanjutkan dengan mengajak seluruh rombongan melakukan ibadah bersama. Langkah spiritual ini terbukti efektif mencegah tindakan kekerasan fisik terhadap para sandera.

"Saya awalnya itu minta izin salat Ashar, habis itu kami salat berjamaah semua. Mulai di situ, mereka [perompak] agak turun [emosi]. Cuma kami tetap ditodong [senjata]. Alhamdulillah kami tidak diikat dan dipukul," tambah Ashari.

Kelompok pembajak kemudian menguras uang tunai operasional kapal sebesar US$4.400 beserta seluruh telepon seluler milik kru. Beruntung, sinyal darurat Ship Security Alert System (SSAS) sempat diaktifkan kapten sebelum kamarnya dikuasai perompak.

Penyanderaan selama berbulan-bulan tanpa kiriman logistik memaksa belasan pelaut mengandalkan alat pancing seadanya demi bertahan hidup. Kelangkaan air bersih dan rusaknya mesin pembuat air tawar makin memperburuk krisis kesehatan di atas kapal.

"Seingat saya, selama hampir lima bulan itu, kami disuplai kambing 15 ekor. Itu pun kambingnya kurus-kurus, kecil. Tapi mau bagaimana lagi,"

"Saya bilang ke anggota saya, setidaknya kita punya makanan. Kalau pun mancing, kadang dapat kadang tidak. Itu yang berat. Belum lagi minuman," katanya.

"Kami [sandera] bertahan makan seadanya. Saya yang penting bisa kenyang, bisa bertahan. Alhamdulillah kru saya kompak semua, mereka bisa sabar. Kami bisa bertahan."

Akses komunikasi menuju keluarga diputus total begitu masa penyanderaan memasuki bulan ketiga. Keputusasaan mulai melanda seluruh kru saat pasokan makanan habis dan pasokan listrik kapal mati total.

"Di bulan ketiga itu tidak ada lagi telepon, tidak ada lagi komunikasi sama sekali. Terus makanan sudah habis, alat generator semua sudah [mati]."

"Semua sudah kritis. Makanan sudah kritis, minuman sudah kritis. Sudah betul-betul saya bilang," kata dia.

"Mesin produksi air tawar kita itu sudah rusak semua."

Tekanan psikologis makin bertambah lantaran perompak menuntut uang tebusan awal bernilai fantatis hingga US$7 juta. Angka gila tersebut membuat sang kapten sempat merasa pasrah pada nasib akhir hidupnya.

"Saya sudah merasa mungkin sampai di sini hidup kami. Mungkin sampai di sini perjuangan kami," kata Ashari.

"Saya tidak berani bilang sama anggota saya. Saya cuma yakinkan, Insya Allah kita pulang. Makanya, di situ beratnya ketika ada yang meninggal ujung-ujungnya," tutur Ashari sembari menyeka air matanya.

"Yang menguatkan kami sebenarnya cuma pasrah kepada Allah. Itu saja," katanya.

Sebagai satu-satunya orang yang memegang akses telepon di bulan keempat, Ashari rajin menghubungi keluarga para anak buah kapal. Ia terus menyalurkan semangat serta harapan agar keluarga di kampung halaman tetap optimistis.

Proses tawar-menawar nilai tebusan berlangsung sangat alot akibat tingginya permintaan awal kelompok perompak. Kapten kapal berulang kali menjelaskan kalkulasi logis nilai kargo serta aset kapal agar nilai tebusan dipangkas.

"Saya jelaskan kapal ini cuma muat segini minyaknya, harga minyak segini, harga kapal segini. Itu tidak logis, tidak bakal ada yang bisa kau [perompak] dibayar," terang Ashari.

Debat keras selama sepekan berhasil menekan angka tebusan secara bertahap hingga menyentuh US$1,5 juta. Di tengah proses tersebut, pergerakan kapal menuju lokasi pemeriksaan medis terhambat oleh kerusakan mesin serta kuatnya arus laut.

Kepanikan milisi bersenjata memuncak saat mendengar kabar pertempuran di lokasi lain, sehingga seluruh tubuh sandera diikat rapat. Pengawasan ketat dipasang di sekeliling kapal menggunakan berbagai jenis senjata berat anti-udara.

"Dia [perompak] bilang; 'Kalau mereka menyerang, kalian yang pertama kali mati, baru saya. Saya akan taruh kau di depan, saya di belakangmu'," terang Ashari menirukan ucapan perompak.

"Saya bilang: 'Oke, tidak masalah'."

Ancaman dieksekusi membuat Ashari berinisiatif mengontak otoritas lokal via radio maritim agar tidak melancarkan penyerangan. Imbauan tersebut sempat menahan aksi militer sebelum akhirnya perompak memaksa kapal kembali berlayar.

Puncak krisis pecah pada Selasa pagi, 29 September 2026, ketika pasukan keamanan Puntland mendadak mendekati lokasi dengan kapal tanker. Operasi penyerbuan langsung dilancarkan menggunakan rentetan tembakan senjata mesin berat.

"Saya kaget, tidak lama kemudian terdengar tembakan dari kapal itu, senapan mesin," paparnya.

"Tembakannya bertubi-tubi. Itu suara peluru saya sudah tidak bisa kenali yang mana peluru besar," tambah Ashari.

Meski kapten telah memohon melalui radio agar penembakan dihentikan demi keselamatan kru yang terikat di dek, aksi tembak-menembak terus berlangsung selama enam jam. Rentetan peluru baru mereda setelah ada ancaman pelaporan diplomasi ke pemerintah Indonesia dan Pakistan.

"Jangan tembak, jangan tembak. Kru saya di dek, kru saya diikat di dek, jangan tembak," ujar Ashari menirukan ucapannya sendiri kala itu.

"Saya bilang kru saya di dek, kalian bisa bunuh kru saya," kata Ashari.

"Dia bilang: 'Saya tidak peduli, mau kru mati, mau pembajak mati. Yang jelas tidak ada pembajak lagi di Puntland'. Habis itu dia tetap menembak,"

"'Kalau kau tidak mau berhenti menembak, saya laporkan kau ke pemerintah Indonesia, pemerintah Pakistan'. Tidak lama dia jeda di situ sekitar dua menit," katanya.

"Habis itu menembak lagi. Para pembajak ketakutan, mereka sembunyi semua. Jadi yang tersisa di dek itu kru saya semua," jelas Ashari.

Begitu pertempuran mereda, pemandangan memilukan terlihat di area dek kapal dengan berjatuhannya korban jiwa. Duka mendalam menyelimuti sang kapten saat menyaksikan rekan-rekannya tergeletak tak bernyawa.

"Karena pembajak panik. Jadi setelah saya berdiri, sudah terkapar anggota saya. Di situ saya tidak berhenti menangis."

"Jujur sampai sekarang, kalau saya lihat anak saya, saya ingat anak-anak anggota saya yang meninggal," katanya.

"Karena setiap saya lihat anak saya, saya ingat anak-anak kru saya. Saya lihat ibu saya, saya lihat ibu-ibu kru saya. Betul-betul saya tidak bisa lupa sampai sekarang."

Kapal tanker MT Honour 25 yang membawa 17 pelaut dari berbagai negara dibajak oleh perompak Somalia sejak 21 April 2026 di perairan dekat pantai Somalia. Empat di antara total kru merupakan WNI, yaitu Ashari Samadikun, Adi Faizal, Wahudinanto, dan Fiki Mutakin. Operasi pembebasan oleh aparat wilayah semi-otonomi Puntland pada 29 September 2026 berhasil mengamankan 16 terduga pelaku, namun memakan korban jiwa lima ABK asing serta melukai lima lainnya termasuk satu WNI. Para pelaut Indonesia yang selamat akhirnya tiba kembali di tanah air pada 6 Oktober 2026 setelah melewati masa penyanderaan selama lebih dari lima bulan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

4 WNI Korban Sandera Perompak Somalia Pulang, Menko PMK Pastikan Perawatan Kesehatan Berlanjut

4 WNI Korban Sandera Perompak Somalia Pulang, Menko PMK Pastikan Perawatan Kesehatan Berlanjut

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:44 WIB

Gak Usah Lebay! Respon Nyeleneh Infantino Soal Wasit Somalia Ditolak Masuk AS

Gak Usah Lebay! Respon Nyeleneh Infantino Soal Wasit Somalia Ditolak Masuk AS

Bola | Jum'at, 12 Juni 2026 | 03:47 WIB

Wasit Somalia Gagal Bertugas di Piala Dunia 2026 Gara-gara Namanya Mirip Pemimpin Teroris

Wasit Somalia Gagal Bertugas di Piala Dunia 2026 Gara-gara Namanya Mirip Pemimpin Teroris

Bola | Kamis, 11 Juni 2026 | 12:51 WIB

Terkini

Cerita WNI Kapten Kapal MT Honour 25 Disandera Perompak Somalia: Jangan Tembak, Saya Muslim

Cerita WNI Kapten Kapal MT Honour 25 Disandera Perompak Somalia: Jangan Tembak, Saya Muslim

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41 WIB

Febrie Gugat Dakwaan Jaksa, Pertanyakan Kaitan Peran Ferry dengan Dugaan Pemerasan Rp55 Miliar

Febrie Gugat Dakwaan Jaksa, Pertanyakan Kaitan Peran Ferry dengan Dugaan Pemerasan Rp55 Miliar

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:38 WIB

Jamuan Panas di Bandung, Persib Incar Rekor Start Sempurna Kontra Cong Viettel FC

Jamuan Panas di Bandung, Persib Incar Rekor Start Sempurna Kontra Cong Viettel FC

Jabar | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:38 WIB

5 Cara Mengetahui Tipe Kulit Wajah Sendiri di Rumah agar Tak Salah Pilih Skincare

5 Cara Mengetahui Tipe Kulit Wajah Sendiri di Rumah agar Tak Salah Pilih Skincare

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:35 WIB

Yamaha Jadi Pemasok Tunggal Mesin Moto3 Mulai 2028

Yamaha Jadi Pemasok Tunggal Mesin Moto3 Mulai 2028

Otomotif | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:35 WIB

Wajah Baru Jalan Burung-Burung ke Bili-Bili Gowa, Kini Lebih Cantik dan Penuh Warna

Wajah Baru Jalan Burung-Burung ke Bili-Bili Gowa, Kini Lebih Cantik dan Penuh Warna

Sulsel | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:31 WIB

Usut 3 Laporan Baru Kasus Kekerasan Seksual Santriwati di Bekasi, Polisi Dalami Keterangan Saksi

Usut 3 Laporan Baru Kasus Kekerasan Seksual Santriwati di Bekasi, Polisi Dalami Keterangan Saksi

Jabar | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:31 WIB

Terhimpit Sawit, Bagaimana Orang Rimba di Jambi Berjuang Kurangi Ketergantungan Pangan pada Pasar?

Terhimpit Sawit, Bagaimana Orang Rimba di Jambi Berjuang Kurangi Ketergantungan Pangan pada Pasar?

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:28 WIB

Febrie Adriansyah Singgung Korupsi MBG dan Perlawanan Balik Pihak Berperkara di Balik Kasusnya

Febrie Adriansyah Singgung Korupsi MBG dan Perlawanan Balik Pihak Berperkara di Balik Kasusnya

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:28 WIB

Kapolda Metro Jaya Minta Anggota Lebih Humanis: Kehadiran Polisi Harus Benar-benar Dirasakan Warga

Kapolda Metro Jaya Minta Anggota Lebih Humanis: Kehadiran Polisi Harus Benar-benar Dirasakan Warga

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:25 WIB

×