- Dosen UMJT Fajar Junaedi menyatakan kelakar SBY tentang kesehatan Prabowo pada 15 Oktober 2026 adalah komunikasi politik matang.
- SBY memanfaatkan status seniman dan non-politisi untuk menyampaikan pesan sensitif mengenai stabilitas makroekonomi secara aman.
- Pesan bersistem berlapis tersebut berhasil disebarluaskan oleh media massa serta warganet tanpa memicu konflik elite.
Suara.com - Pernyataan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenai kondisi kesehatan Presiden Prabowo Subianto yang dapat memengaruhi pasar keuangan dinilai bukan sekadar gurauan biasa.
Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Fajar Junaedi, menilai kelakar tersebut sebagai kalkulasi komunikasi politik yang matang untuk menyampaikan pesan sensitif tanpa memicu ketegangan politik.
"Retorika SBY ini menarik. Ada daya tarik komunikasi politik yang dibangun. SBY menempatkan diri di luar arena politik praktis," kata Fajar saat dihubungi Suara.com, Kamis (15/10/2026).
Disebutkan Fajar, bahwa status sebagai seniman dan penegasan tidak lagi aktif dalam politik harian dimanfaatkan SBY untuk membingkai pesannya. Jarak aman tersebut mengubah narasi yang berpotensi menjadi kritik keras menjadi sebuah kelakar yang dapat diterima semua pihak.
"Dengan menyebut dirinya seniman dan menegaskan bahwa ia sudah tidak lagi aktif dalam politik sehari-hari, SBY membangun jarak yang aman. Adanya jarak itu membuat kelakar soal batuk Prabowo terdengar ringan, bukan seperti kritik atau peringatan dari rival politik," ujarnya.
Walau disampaikan dengan nada bergurau, isi pesan yang dibawakan SBY dinilai memiliki bobot substansial terkait stabilitas makroekonomi. Kondisi fisik dan persepsi publik terhadap seorang kepala negara merupakan variabel penting yang selalu dihitung oleh para pelaku pasar modal dan nilai tukar.
"Padahal, di balik humor itu terselip pengingat yang cukup tajam yaitu bahwa kesehatan dan citra seorang presiden tidak pernah benar-benar pribadi. Di pasar keuangan, bahkan isyarat kecil tentang kondisi pemimpin bisa langsung diterjemahkan menjadi risiko," tuturnya.
Lebih lanjut, Fajar menyoroti taktik penyampaian pesan SBY yang disusun secara sistematis dan bertahap. Efektivitas retorika tersebut semakin diperkuat oleh amplifikasi media massa serta jangkauan percakapan di media sosial yang masif.
"Strategi retorika ini efektif karena dibangun secara berlapis. Mulanya, SBY merendahkan diri sendiri, lalu membuat kontras dengan posisi Prabowo yang jauh lebih berat, dan akhirnya menutup dengan doa," ucapnya.
"Media kemudian membesarkan kelakar tersebut sehingga pesan tentang pentingnya kesehatan presiden bagi stabilitas ekonomi justru tersebar lebih luas. Perluasan pesan semakin massif ketika warganet di media sosial ikut berkomentar," tambahnya.
Gaya komunikasi ini dinilai sukses menempatkan SBY tetap berada di panggung kepemimpinan nasional tanpa harus terkesan mengintervensi jalannya pemerintahan yang sedang aktif berkuasa.
"Dengan cara ini, SBY berhasil menjaga relevansinya sebagai mantan presiden yang masih peduli pada stabilitas negara, tanpa harus terlihat sedang campur tangan atau mengkritik pemerintahan yang sedang berjalan," paparnya.
Langkah memanfaatkan humor di forum akademik terbukti menjadi sarana paling efektif dalam melempar wacana kritis ke tengah masyarakat tanpa memicu konflik antar-elite.