- Saiful Mujani Research and Consulting merilis survei kualitas empati tokoh publik pada September 2026.
- Mahfud MD meraih skor tertinggi dengan nilai 7,3, sementara Kaesang Pangarep memperoleh skor terendah 3,7.
- Survei di Gedung FISIP UIN Jakarta melibatkan 200 responden dari kalangan akademisi dan jurnalis.
Suara.com - Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei Opinion Leaders periode September 2026 mengenai penilaian kualitas empati para tokoh publik.
Empati didefinisikan sebagai sikap peduli/perhatian pada orang lain, bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, serta bisa menempatkan diri pada posisi orang lain dalam skala nilai 0 hingga 10.
Berdasarkan data survei tersebut, posisi puncak indikator empati ditempati oleh Mahfud MD dengan skor 7,3.
Disusul kemudian oleh Dedi Mulyadi (7,1), Anies Baswedan (6,9), dan Pramono Anung Wibowo (6,8).

Tokoh-tokoh lain yang turut berada di jajaran atas antara lain Zainal Arifin Mochtar (6,7), Sherly Tjoanda Laos (6,7), Basuki Tjahaja Purnama (6,6), Ganjar Pranowo (6,5), Usman Hamid (6,5), serta Sri Mulyani Indrawati (6,4).
Sementara itu, beberapa tokoh politik papan atas justru mencatatkan skor empati yang relatif rendah.
Prabowo Subianto tercatat memperoleh skor 4,9, sejajar dengan A. Muhaimin Iskandar (4,9) dan Puan Maharani (4,9).
Di bawahnya terdapat Bahlil Lahadalia (4,5), Zulkifli Hasan (4,5), Gibran Rakabuming Raka (4,2), serta Kaesang Pangarep yang berada di posisi paling bawah dengan skor 3,7.
Pendiri SMRC, Saiful Mujani, menyampaikan sorotannya terkait capaian skor empati para tokoh tersebut dalam paparannya.
"Sekarang empati. Juga Mahfud, Dedi Mulyadi, Anies, Pramono Anung dan seterusnya, ya. 10 terbawah, Kaesang lagi. Gibran lagi," kata Saiful Mujani dalam paparannya di Gedung FISIP UIN Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Saiful dalam kesempatan ini juga berkelakar, dengan pencapaian nillai Prabowo dalam survei ini. Pasalnya Presiden RI Prabowo Subianto hanya mendapatkan skor 4,9 dalam urusan empati.
"Prabowo skornya 4,9 untuk empati, dia nggak punya empati nampaknya menurut Opinion Leaders. Makanya dibiarin aja orang Kalimantan tuh terbakar," kelakar Saiful.
Survei ini melibatkan 200 opinion leader, terdiri atas 166 akademisi/ilmuwan dari berbagai bidang (politik/pemerintahan, filsafat/sejarah/agama/budaya, sosiologi/antropologi, ekonomi/pembangunan, sains/teknik, komunikasi, hukum, dan psikologi) serta 34 jurnalis.
Karena tidak ada daftar populasi opinion leader secara nasional, responden tidak dipilih secara acak, melainkan dengan teknik snowballing, terutama melalui media massa nasional dan daerah.
Karena itu temuan survei ini bersifat deskriptif: mencerminkan penilaian para responden, bukan populasi opinion leader secara keseluruhan.
Sebanyak 149 responden bersedia namanya dipublikasikan. Responden menilai 31 tokoh dengan skor 0 sampai 10.
Kelompok responden tersebut terdiri atas opinion leaders dengan latar belakang beragam, antara lain intelektual publik atau akademisi, pengamat, pimpinan media massa cetak, elektronik, dan daring, serta jurnalis senior yang biasa menjadi narasumber media massa.
Nama tokohtokoh nasional yang muncul dalam survei adalah nama-nama dalam top of mind (responspontan) survei-survei opini publik nasional.
Tokohtokoh yang dibicarakan terutama di media massa dandikalangan politisi nasional dalam kaitannya dengan pencalonan presiden atau wakil presiden.
Kemudian tokoh-tokoh intelektual dan aktivis yang banyak bersikap untuk masalah-masalah nasional dan politik nasional.