-
Pemadaman listrik total di Batam menghancurkan puluhan liter stok ASI perah milik warga.
-
Ibu menyusui mengalami kerugian emosional akibat hilangnya cadangan asupan bayi untuk masa MPASI.
-
Dampak pemadaman listrik melumpuhkan aktivitas 411.000 pelanggan serta berbagai sektor ekonomi dan sosial.
Suara.com - Perjuangan berminggu-minggu para ibu di Batam memompa air susu ibu perah sirnah seketika akibat pemadaman listrik total pada 12 Oktober 2026. Mati lampu belasan jam memaksa para orang tua membuang puluhan liter stok ASI yang mencair dan membusuk di dalam pendingin.
Ratusan kantong ASI perah yang disiapkan untuk cadangan tumbuh kembang bayi tidak lagi bisa diselamatkan karena krisis energi meluas. Kondisi ini memperlihatkan betapa buruknya dampak kelumpuhan fasilitas publik terhadap kehidupan domestik masyarakat urban.
Kerugian emosional dan fisik ini melengkapi dampak ekonomi serta sosial yang menimpa lebih dari 411.000 pelanggan di Batam dan Bintan. Tanpa adanya jaminan pasokan energi harian, hak dasar bayi atas asupan nutrisi esensial terancam secara mendadak.
Gamita Salendri harus merelakan 4,5 liter tabungan ASI perahnya terbuang sia-sia setelah kediamannya terputus dari aliran listrik selama lebih dari 15 jam. Perempuan yang akrab disapa Riri ini terpaksa membuang sekitar 30 kantong cadangan nutrisi bagi bayinya yang bersiap memasuki masa makanan pendamping ASI.
"Semua yang ada di chiller rusak. Yang di freezer juga rusak, cair semua," katanya dikutip dari BBC.
Proses pengumpulan cadangan asupan bayi membutuhkan waktu serta disiplin ketat yang kini hancur hanya dalam hitungan jam. Riri yang rutin memompa delapan kantong sehari kini kesulitan memproduksi ASI dalam jumlah melimpah seperti awal masa menyusui.
"Sakit hatilah pasti, apalagi sudah mau masuk enam bulan, ASI-ku sudah enggak sebanyak ASI pas di awal. Jadi emang aku ngestok untuk cadangan pas sudah mulai MPASI," katanya.
Niat memindahkan simpanan nutrisi ke lokasi lain tidak berbuah hasil karena wilayah sekitar turut mengalami kelumpuhan pasokan listrik secara bersamaan. Luasnya area yang terdampak menutup seluruh akses penyelamatan barang-barang sensitif suhu.
"Mau nitip ASIP-ku di tempat lain juga enggak bisa, karena semuanya kena," katanya.
Beban psikologis Riri semakin meningkat ketika sang buah hati terus menangis akibat kegarehan di tengah suhu udara yang menyengat. Usahanya untuk mengungsi ke tempat penginapan berpendingin udara juga kandas karena seluruh kamar telah terisi penuh.
"Mau pesan hotel juga udah enggak bisa. Pas mau booking, semua sudah full," katanya.
Nasib serupa menghampiri Devina Wistiasari yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Kota Batam. Pemadaman listrik selama 15 jam memusnahkan sekitar 100 kantong atau setara 15 liter ASI perah hasil perjuangannya selama empat bulan.
Stok melimpah tersebut ia persiapkan agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi saat dirinya harus kembali bekerja secara penuh di kampus. Peristiwa pahit ini meninggalkan trauma mendalam hingga membuatnya enggan menyimpan cadangan dalam jumlah besar kembali.
"Sakit hati dan sangat kesal sekali. Aku stok karena enggak tahu nanti saat bekerja, ASI-ku enggak keluar lagi," katanya.
Kelumpuhan pasokan daya ini secara keseluruhan berdampak pada lebih dari 411.000 pelanggan PLN di wilayah Batam hingga Pulau Bintan. Pemulihan aliran daya memakan waktu belasan jam di kawasan perkotaan, bahkan menembus hampir tiga hari di area Bintan.
Dampak krisis listrik ini merembet luas ke sektor usaha harian, gangguan proses belajar daring sekolah, hingga kegagalan nelayan menjual hasil tangkapan. Di tengah situasi darurat tersebut, warga menyayangkan minimnya transparansi informasi serta kepastian penanganan dari pihak berwenang.