- Indonesia dan Rosatom asal Rusia menandatangani kesepakatan pembangunan dua PLTN terapung di Maluku Utara pada 16 Oktober 2026.
- Proyek berkapasitas 200 megawatt tersebut ditargetkan mulai menghasilkan listrik untuk Pulau Halmahera dalam lima tahun mendatang.
- Rencana pembangunan PLTN terapung Indonesia di Maluku Utara ini turut menjadi sorotan dan perhatian dari negara Malaysia.
Perjalanan Malaysia menuju energi nuklir sebelumnya mengalami perubahan arah.
Pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak sempat mengambil langkah konkret melalui Malaysia Nuclear Power Corporation (MNPC), lembaga yang dirancang untuk mengembangkan program pembangkit nuklir sebagai bagian dari Program Transformasi Ekonomi.
Namun, setelah pergantian pemerintahan pada pemilihan umum Mei 2018, MNPC dibubarkan.
Rencana pengembangan pembangkit nuklir Malaysia pun tidak berlanjut sesuai rancangan awal.
Pertimbangan geopolitik dan kebutuhan energi kemudian mendorong Malaysia kembali mengevaluasi opsi tersebut.
Pada November 2024, Malaysia Programme Office for Power Electricity Reform (MyPOWER) Corporation ditugaskan menyusun arah pengembangan energi nuklir di bawah Kementerian Transisi Energi dan Transformasi Air.
Lembaga tersebut berada dalam lingkup pengawasan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Fadillah Yusof.