- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meraih elektabilitas capres tertinggi mencapai 33,7 persen berdasarkan riset nasional IPO.
- Direktur Eksekutif IPO menilai kesuksesan tersebut berasal dari pola kepemimpinan populis mirip Jokowi yang memanfaatkan media sosial serta kegiatan langsung bersama warga.
- Dedi Mulyadi berpotensi mempertahankan posisi teratas dalam bursa pencalonan presiden selama belum ada pesaing yang mampu menandingi strategi populis tersebut.
Suara.com - Melejitnya elektabilitas Dedi Mulyadi hingga memuncaki bursa calon presiden 2029 dinilai tak lepas dari kemampuannya membangun citra pemimpin yang dekat dengan rakyat.
Gubernur Jawa Barat itu disebut mengadopsi pola kepemimpinan populis yang sebelumnya mengantarkan Joko Widodo atau Jokowi ke puncak kekuasaan.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai, popularitas yang dibangun melalui media sosial dan aktivitas langsung bersama masyarakat menjadi modal utama Dedi Mulyadi atau KDM dalam merebut perhatian publik.
Hal itu tercermin dalam hasil riset nasional IPO bertajuk simulasi pilihan presiden.
Dalam pertanyaan terbuka, KDM meraih elektabilitas 33,7 persen. Namanya juga tetap berada di posisi teratas dalam simulasi daftar tertutup dengan perolehan 32,0 persen.
Dedi menjelaskan, popularitas merupakan salah satu faktor awal yang memengaruhi tingkat kesukaan masyarakat terhadap seorang tokoh sebelum menentukan pilihan politik.
“Popularitas itu mempengaruhi tingkat kesukaan mereka, artinya popularitas tetap menjadi panduan pertama sebelum responden itu menentukan akan memilih atau menyukai atau tidak,” ujar Dedi dalam sesi pemaparan hasil riset dan diskusi publik secara daring, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Dedi, KDM berhasil memanfaatkan momentum popularitas melalui konten media sosial sekaligus aktivitas yang membuatnya terlihat dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Kalau dilihat dari skema itu, maka Dedi Mulyadi cukup rasional ketika mendapatkan elektabilitas tertinggi. Yang pertama misalnya, mendapatkan momentum terkait dengan popularitas di media sosial, di aktivitas-aktivitas yang memang dekat dengan publik,” jelas Dedi.
![Presiden ke-7 RI Jokowi menghadiri kegiatan jalan santi di Car Free Day (CFD) saat melakukan kunjungan ke Kupang, NTT, Sabtu (1/8/2026). [Suara.com/dok]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/01/75649-jokowi-kunjungan.jpg)
Meniru Formula Populisme Jokowi
Pola komunikasi politik KDM dinilai memiliki kemiripan dengan pendekatan yang pernah digunakan Jokowi. Keduanya sama-sama mengandalkan popularitas, kedekatan dengan masyarakat, serta publikasi aktivitas sehari-hari untuk membangun citra sebagai pemimpin yang merakyat.
“Tokoh-tokoh seperti Dedi Mulyadi ini sebetulnya juga sudah linier dengan tokoh-tokoh sebelumnya, ya sebut saja misalnya Presiden Joko Widodo atau presiden ketujuh misalnya. Populer, disukai, dan juga elektabilitasnya tinggi karena banyak melakukan publikasi propaganda yang berkaitan dengan dekat dengan aktivitas-aktivitas publik,” tutur Dedi.
Strategi tersebut dinilai efektif di tengah kejenuhan masyarakat terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap elitis dan berjarak dari persoalan sehari-hari.
Kehadiran figur yang mudah ditemui dan menampilkan aktivitas bersama warga dapat memunculkan kesan bahwa mereka memahami kondisi yang dihadapi masyarakat.
“Ya memang ini agak dilematis ya, kenapa? Karena publik saya kira sudah cukup bosan dengan aktivitas-aktivitas pejabat yang yang elitis begitu ya, sehingga mereka cenderung lebih menyukai tokoh atau orang-orang yang memang dirasa mewakili kondisi hidup mereka,” terang Dedi.