- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meraih elektabilitas capres tertinggi mencapai 33,7 persen berdasarkan riset nasional IPO.
- Direktur Eksekutif IPO menilai kesuksesan tersebut berasal dari pola kepemimpinan populis mirip Jokowi yang memanfaatkan media sosial serta kegiatan langsung bersama warga.
- Dedi Mulyadi berpotensi mempertahankan posisi teratas dalam bursa pencalonan presiden selama belum ada pesaing yang mampu menandingi strategi populis tersebut.
Kecenderungan itu turut menjelaskan mengapa figur yang aktif di lapangan dan mampu mengemas kegiatannya menjadi konten digital berpeluang memperoleh perhatian luas.
Popularitas tidak hanya terbentuk dari pemberitaan, tetapi juga dari paparan berulang terhadap aktivitas dan persona seorang tokoh di media sosial.
Elektabilitas KDM Bisa Bertahan, tetapi Loyalitas Pemilih Belum Teruji
Dedi memperkirakan posisi KDM di puncak bursa capres berpotensi bertahan selama belum muncul pesaing yang mampu menandingi pendekatan populisnya.
“Dedi Mulyadi, sepanjang tidak ada nanti pembandingnya, artinya tidak ada yang nanti menyaingi berkaitan dengan aktivitas-aktivitas yang populis, banyak turun di masyarakat, apalagi ya mohon maaf ya, gimik-gimik di media sosial, maka sepanjang itu juga Dedi Mulyadi akan tetap menjadi yang teratas,” klaim Dedi.
Meski demikian, tingginya elektabilitas belum tentu menandakan terbentuknya basis pemilih yang solid.
Menurut Dedi, popularitas dan tingkat keterpilihan dalam survei masih perlu dibedakan dari loyalitas pemilih yang bertahan dalam berbagai situasi politik.
“Sejauh yang kami amati dari survei, belum ada tokoh yang punya loyalitas publik kuat, belum ada,” pungkasnya.