- Pengamat komunikasi politik Jamiluddin Ritonga menyatakan strategi komunikasi Jokowi di sidang ijazah palsu tidak mengubah persepsi masyarakat.
- Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis, 5 November tersebut bergantung sepenuhnya pada sikap awal publik.
- Komunikasi Jokowi hanya berdampak positif bagi pendukungnya, sementara kelompok antipati tetap memberikan penilaian negatif terhadap dirinya.
Suara.com - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai strategi komunikasi verbal dan nonverbal Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) selama bersaksi dalam sidang kasus dugaan ijazah palsu tidak serta-merta mengubah persepsi masyarakat terhadap dirinya.
Menurut Jamiluddin, pengaruh komunikasi yang ditampilkan Jokowi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11) lalu, sangat bergantung pada predisposisi atau sikap awal masyarakat terhadap mantan presiden tersebut.
"Bila sikap awal publik terhadap Jokowi positif, maka komunikasi yang dibangun Jokowi selama di persidangan akan dapat mempengaruhi persepsi publik yang juga positif," kata Jamiluddin di Jakarta, Minggu (8/11/2026).
Sebaliknya, apabila sikap awal masyarakat terhadap Jokowi sudah negatif, komunikasi yang dibangun selama persidangan dinilai tidak akan banyak mengubah pandangan mereka.
Jamiluddin mengatakan, kondisi tersebut membuat strategi komunikasi Jokowi memiliki penerimaan yang berbeda di tengah masyarakat. Pendukung Jokowi cenderung memandang penampilannya selama persidangan sebagai sesuatu yang positif. Sementara itu, masyarakat yang sejak awal tidak menyukainya akan tetap memberikan penilaian negatif.
"Karena itu, pendukung Jokowi tentu akan menilai komunikasi Jokowi di persidangan akan positif. Sebaliknya, bagi publik yang sejak awal sudah tidak suka kepada Jokowi, maka komunikasi yang dibangun Jokowi akan tetap dinilai negatif," tuturnya.
Jamiluddin pun menyimpulkan bahwa komunikasi Jokowi selama persidangan secara umum hanya akan memberikan pengaruh positif bagi pendukungnya. Sementara bagi masyarakat yang bersikap antipati terhadap Jokowi, komunikasi tersebut cenderung tetap dipersepsikan secara negatif.
Sebelumnya, Jamiluddin menerangkan bahwa Jokowi berakting selama persidangan dengan melakukan komunikasi verbal dan nonverbal. Salah satu komunikasi verbal yang ditunjukkan Jokowi ketika menyinggung persoalan etika pihak lawan, khususnya Roy Suryo. Namun, Jokowi menyampaikan tanggapan tersebut dengan nada suara yang terkendali dan terukur.
Menurutnya, intonasi dan nada bicara Jokowi cenderung datar dan tenang. Jokowi juga tidak menunjukkan fluktuasi emosi yang tinggi, seperti berbicara dengan nada meledak-ledak ataupun bersikap defensif secara berlebihan.
Selain komunikasi verbal, Jamiluddin menyoroti penggunaan komunikasi nonverbal Jokowi selama mengikuti persidangan. Menurutnya, Jokowi berupaya membangun bingkai sebagai korban atau pihak yang dirugikan dalam perkara tersebut.
Hal itu, kata dia, terlihat dari gestur, pembawaan, penampilan, hingga nada suara Jokowi di ruang sidang yang membentuk kesan bahwa dirinya merupakan pihak yang dirugikan atau menjadi subjek yang sedang diuji dalam perkara.
Jamiluddin mencontohkan sikap Jokowi yang duduk tenang dengan ekspresi wajah datar saat menjawab rentetan pertanyaan. Sikap tubuhnya juga dinilai terkendali dan minim ekspresi yang menunjukkan ketakutan, kemarahan, maupun kepanikan.