- Percobaan serangan ISIS ke Israel melonjak drastis pasca-peristiwa penyerangan 7 Oktober.
- Pola teror bergeser dari aksi mandiri menjadi pergerakan yang terhubung langsung dengan jaringan pusat.
- ISIS memanfaatkan media sosial untuk meradikalisasi remaja dan menyebarkan instruksi pembuatan bahan peledak.
Suara.com - Ancaman terorisme Islamic State atau ISIS terhadap Israel melonjak tajam dalam durasi beberapa tahun terakhir. Data riset terbaru membuktikan intensitas perencanaan aksi pembantaian meningkat dibanding kurun satu dekade sebelumnya.
Dikutip dari Yerusalem Post, peneliti Aaron Zelin memaparkan peningkatan operasi penggagalan teror oleh aparat keamanan pasca-serangan Hamas. Kenaikan kuantitatif ini berjalan beriringan dengan eskalasi kerumitan skema penyerangan di lapangan.
Jaringan internasional kini memegang kendali langsung atas sebagian besar perencanaan aksi teror lokal. Pendekatan pergerakan terorganisir tersebut mengikis dominasi aksi penyerangan mandiri yang biasa dilakukan pendukung lepas.
Penggagalan rencana pemboman gedung parlemen Knesset menjadi bukti nyata perubahan pola operasi mereka. Plot penyerangan gedung bertingkat dan pusat perbelanjaan turut berhasil digagalkan sebelum dieksekusi.
Aksi pembunuhan remaja berusia 14 tahun di Tepi Barat menjadi contoh serangan yang sempat lolos. Eskalasi penyerangan ini dinilai sebagai taktik merebut pengaruh dari Hamas di tanah Palestina.
Juru bicara ISIS Abu Hudhayfa al-Ansari pada Januari 2024 mendesak warga Palestina meninggalkan Hamas demi melawan "orang Yahudi karena mereka adalah orang Yahudi."
Doktrinasi kelompok ini menyasar negara pembendung di kawasan serta komunitas diaspora Yahudi global. Penjagaan ketat di perbatasan wilayah Arab diakui menjadi hambatan utama masuk ke kawasan Israel.
Jejak aksi teror bersenjata yang diilhami ideologi radikal ini pernah memicu jatuhnya korban jiwa. Insiden fatal pada 2022 membuktikan bahaya nyata infiltrasi pemikiran ekstremis di tengah masyarakat.
Radikalisasi secara daring kini mendominasi mekanisme perekrutan anggota baru dari kalangan usia muda. Komunikasi intensif via media sosial memfasilitasi pengiriman instruksi rakitan bahan peledak secara terstruktur.
Pemerintah meningkatkan penindakan lintas batas demi meredam potensi ancaman teror yang kian meluas. Operasi penangkapan malam hari serta serangan udara terus dilancarkan ke basis pertahanan lawan.
Keterlibatan ISIS dalam konflik di kawasan berakar dari upaya penyebaran pengaruh ideologi jihadis global. Persaingan berebut pengaruh dengan Hamas mendorong kelompok ini mengintensifkan serangan secara mandiri maupun terorganisir.
Kondisi keamanan yang memanas pasca-peristiwa 7 Oktober dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan radikalisasi anak muda. Peningkatan pengawasan ketat kini berfokus pada pencegahan aksi terorisme di dalam dan luar negeri.