“Ada menak, ada cacah, aya turunan ningrat, aya turunan cacah. Sehingga ada tingkatan bahasa,” jelasnya.
Akan tetapi, anggota DPR RI ini menyatakan, bahwa bahasa itu bukan kalimat 'maneh', bukan kalimat 'sia', bukan kalimat apa pun.
“(Bahasa) tergantung hati, hati kita. Jadi kalau pun bahasanya halus, ya, kalau hatinya benci, tetep aja nyelekit (menyakiti)," ujar Kang Dedi.
Sebaliknya, kata Kang Dedi, bahasa yang disebut kasar itu bisa berarti keakraban. Bahkan menjadi kata sayang.
Kang Dedi mengingatkan bahwa kata 'maneh' dipakai di beberapa wilayah untuk istri sebagai kesayangan, sebelum ada istilah 'bebeb' atau 'ayang'.
Juga pernah dipakai dalam sebuah lagu berjudul 'Potret Manehna' karya Nano S. Kata manehna ini untuk memanggil pujaan hati.
Walau begitu, Dedi Mulyadi mengkritik Sabil, lantaran 'maneh' tetap bisa debatable di sejumlah daerah. Apalagi bagi warga di wilayah Sunda Priangan, kata 'maneh' terkesan kasar bila disampaikan oleh warga kepada gubernur. (*)