NTB.Suara.com - Organisasi Persatuan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia mengukuhkan kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Provinsi NTB periode 2023-2027 sekaligus mengadakan musyawarah daerah kedua di wilayah tersebut.
Pelantikan pengurus baru PCTA Indonesia Provinsi NTB dilakukan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PCTA Indonesia Drs. Ismu Syamsudin, didampingi Prof. Dr. Ir. Tries Edy Wahyono, MM, dan Wakil Sekjen DPP PCTA Indonesia, Muchammad Solech, dan Kesekretariatan DPP PCTA Indonesia, Achmad Syafii. Kegiatan berlangsung di Hotel Grand Legi Mataram, Sabtu (2/7/2023).
"Alhamdulillah atas berkat rahmat Allah SWT pada siang hari ini, kami dari DPP PCTA Indonesia yang dijiwai manunggalnya keimanan, bersilaturahmi di Provinsi NTB. Di dalam silaturahmi ini sekaligus mengadakan musyawarah daerah yang kedua, sekalian pelantikan pengurus DPD PCTA Indonesia Provinsi NTB," kata Sekjen DPP PCTA Indonesia, Drs. Ismu Syamsudin.
Pendirian PCTA Indonesia diprakarsai oleh Kyai Muchammad Muchtar Mu'thi yang berawal dari seminar warisan Empu Tantular, kitab "Sutasoma". Di dalam kitab tersebut termaktub kata-kata yang diabadikan dalam lambang Negara Indonesia, yaitu "Bhinneka Tunggal Ika", "Berbeda-beda tapi Satu Jua".
Kemudian prakarsa itu ditindaklanjuti oleh Pesantren Majma'al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyah, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang dan diselenggarakan seminar Sutasoma dalam konteks peningkatan cinta Tanah Air, pada 20 Juli 2006 di Jombang, Jawa Timur.
Ismu menegaskan bahwa organisasi PCTA Indonesia adalah organisasi lintas agama, kebangsaan, suku yang dirajut menjadi satu. Di dalam organisasi ini utamanya adalah bagaimana menanamkan cinta Tanah Air indonesia untuk kembali kepada jati diri bangsa Indonesia.
"Ini sudah organisasi nasional dan kalau sudah tersebar di 19 provinsi, termasuk di Provinsi NTB. Nanti kita ke seluruh wilayah Indonesia sampai ke Papua," ujarnya.
PCTA Indonesia, kata dia, juga organisasi non-politik yang tidak ada kaitan atau berafiliasi dengan partai politik manapun karena murni sebagai organisasi sosial dan kebangsaan.
Fokus utama organisasi, lanjut dia, adalah bagaimana merajut kekayaan bangsa yang begitu luar biasa, mulai dari budaya, suku dan agama yang berbeda-beda.
Baca Juga: Baru Disahkan, UU Kesehatan Bakal Digugat Ke MK
Namun, keajaiban menyatukan semua perbedaan tersebut karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki Pancasila, UUD 1945, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu.
"Kita harus bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada bangsa Indonesia, makanya kita kedepankan 'Saya orang Indonesia beragama Islam, saya orang Indonesia beragama Hindu, saya orang Indonesia beragama Kristen, dan seterusnya," ucap Ismu.
"Jadi yang menjadi catatan adalah perbedaan itu tidak masalah yang tidak boleh itu pertentangan. Perbedaan kita itu adalah nilai kodrat yang harus kita terima," kata Ismu.
Ia juga berharap dengan kepengurusan PCTA Indonesia Provinsi NTB akan memperkuat persatuan dan kesatuan dan sikap cinta Tanah Air di daerah yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia serta keragaman suku, budaya dan agama tersebut.
"Sebab, cinta Tanah Air sangat penting sekali. Ada filosofi bahwa suatu bangsa suatu ngeara kalau sudah tidak cinta kepada tanah air maka robohlah negara tersebut," ucap Ismu.
Prof. Dr. Ir. Tries Edy Wahyono, MM, menambahkan dalam konteks PCTA Indonesia yang dijiwai manunggalnya keimanan dan kemanusiaan bukan hanya masalah agama, tapi merupakan suatu organisasi kebangsaan. Bukan hanya lintas agama, tapi juga lintas suku dan lintas budaya.