Menurutnya, latar belakang agama adalah latar belakang masing-masing orang. Hanya saja, ketika sudah berada di dalam PCTA Indonesia, harus lebih baik dalam beragama sesuai dengan yang diyakini dan menjadi lebih baik dalam berkemanusiaan. Artinya berbangsa dan bernegara.
"Jadi kami tidak membahas tentang perbedaan, tapi justru mempersatukan. Bangsa Indonesia sudah punya semboyan 'Bhinneka Tunggal Ika'. Tapi dibalik itu sebenarnya ada lanjutan, kalau kita mengambil dari kitab Sutasoma setelah itu dibelakangnya adalah 'Tan Hana Dharma Mangrwa'. Arti kalimat ini adalah berbeda-beda tetapi satu, tidak ada pengabdian yang mendua," katanya.
Sementara itu, Ketua DPD PCTA Indonesia Provinsi NTB, Didit Indra Kusuma, mengatakan tugas utama dari pengurus baru adalah memperkuat rajutan yang sudah terbangun oleh tokoh lintas agama, suku dan budaya di NTB, dalam satu wadah naungan persaudaraan cinta Tanah Air Indonesia.
Untuk menjalankan program sosial dan kebangsaan sesuai dengan arahan DPP PCTA Indonesia Pusat, pihaknya akan membentuk kepengurusan di tingkat kabupaten/kota di NTB.
"Kami ingin terus memperkuat rajutan kerukunan antar agama, suku dan budaya yang sudah tercipta sangat bagus di NTB," ujarnya. (*)