Kenangan Seorang Perempuan akan Bom Atom Hiroshima: Sempat Dikira Mati

BBC | Suara.com

Sabtu, 08 Agustus 2020 | 17:15 WIB
Kenangan Seorang Perempuan akan Bom Atom Hiroshima:  Sempat Dikira Mati
[BBC].

Suara.com - Pada pagi hari tanggal 6 Agustus 1945, Michiko ketiduran.

"Saya ingat pada saat itu saya berpikir, Saya bisa berangkat kerja tepat waktu jika saya naik kereta jadwal berikutnya, tapi saya mungkin masih bisa mengejar kereta jadwal saya biasanya jika saya lari ke stasiun," tulisnya, beberapa tahun kemudian ketika menuturkan kisahnya pada hari naas itu.

"Saya lari ke stasiun Yokogawa, dan saya naik kereta saya biasanya dengan tepat waktu."

Upaya Michiko untuk lari telah menyelamatkan nyawanya. Itu artinya dia aman berada di dalam tempat kerjanya, ketika kota tempat dia tinggal - Hiroshima - dihantam bom nuklir pertama yang pernah digunakan dalam perang.

"Jika saya ketinggalan kereta saya biasanya, saya akan mati di suatu tempat antara stasiun Yokogawa dan stasiun Hiroshima," tuturnya.

Michiko Yoshitsuka, 14 tahun, adalah pelajar di sekolah khusus perempuan di jantung kota Hiroshima. Tapi ketika kota itu mendaftarkan anak-anak sekolah demi kepentingan perang, dia mulai bekerja di pabrik Toyo Kogyo, yang berjarak 8 km dari pusat kota, membuat senjata untuk Tentara Kekaisaran Jepang.

Jika dia ketiduran hari itu, itu adalah karena kelelahan, bukan karena malas.

Dia menghabiskan waktu berjam-jam di pabrik.

Perang telah menyebabkan kurangnya pasokan makanan dalam jumlah besar, dia pun mengalami kelaparan dan malam sebelumnya - seperti malam-malam sebelumnya - pesawat pembom Amerika Serikat terbang di atas Hiroshima, memicu sirene serangan udara.

Sirene yang nyaring berbunyi sekitar pukul tujuh pagi.

Tetapi tidak seorang pun di luar Proyek Manhattan - kelompok penelitian pemerintah AS yang mengembangkan bom atom - dapat meramalkan kehancuran yang akan datang.

Pesawat Enola Gay telah terbang dari pangkalan AS di Tinian, di Kepulauan Mariana, ke Hiroshima beberapa jam sebelumnya.

Pada pukul 8.15 pagi pesawat itu menjatuhkan bom yang oleh orang Amerika dijuluki "Little Boy", melenyapkan kota.

Diperkirakan 140.000 orang meninggal di Hiroshima, baik segera atau setelah beberapa bulan mendatang.

Michiko selamat, berkat Hijiyama, bukit tinggi antara pabriknya dan pusat kota.

Dalam kekacauan yang terjadi setelah ledakan bom, dia menuju Nakayamatoge, jalan setapak pegunungan menuju rumah kerabatnya di Gion.

Di jalan, dia melintasi ribuan orang meninggalkan kota yang hancur.

"Orang terluka di mana-mana. Saya melihat puluhan orang yang tubuhnya terbakar atau bernanah, yang bola matanya menyembul karena tekanan akibat ledakan, atau yang organ dalamnya menyembul dari tubuh dan mulut," tulisnya.

"Ketika saya berjalan, seseorang tiba-tiba meraih pergelangan kaki saya dan memohon, 'Nona muda, bisakah Anda memberi saya air?' Saya menepis tangannya... dan berkata, "Maafkan saya, maafkan saya!" Saya dipenuhi rasa takut dan terus berjalan untuk melarikan diri."

Di Gion, Michiko merasa lega karena ibunya masih hidup. Namun tidak ada waktu untuk memulihkan diri.

"Selama 10 hari, ibu dan saya berjalan di sekitar Hiroshima, mencari kakak laki-laki saya,  seorang tentara. Kami kemudian menemukan... dia telah meninggal di pusat ledakan... Jenazah kakak saya tidak pernah ditemukan."

Dia mungkin selamat, tapi Michiko jatuh sakit segera setelah itu. Gejala yang dia alami menjadi familiar bagi para dokter yang masih hidup.

"Saya mulai munjukkan gejala penyakit radiasi... Saya mengalami pendarahan dari gusi dan hidung saya, saya mengalami diare parah, rambut saya rontok dan bintik-bintik ungu muncul di seluruh tubuh saya," tulisnya kemudian.

"Saya dimasukkan ke dalam isolasi di gudang milik kerabat teman dan saya antara hidup dan mati. Semua orang di sekitar saya mengira saya akan mati, tetapi secara ajaib, saya selamat."

Pemboman Hiroshima dan Nagasaki tiga hari sesudahnya tidak serta merta mengakhiri Perang Dunia II.

Blokade laut AS, invasi Rusia yang akan segera terjadi dan Deklarasi Postdam yang disusun ulang - syarat untuk penyerahan diri Jepang - untuk memungkinkan berlanjutnya pemerintahan Kekaisaran juga menentukan.

Pada 15 Agustus, penyerahan diri Kaisar Hirohito disiarkan di seluruh negeri.

Ketika dia mengumumkan bahwa Jepang akan "menanggung beban berat", banyak warga Hiroshima yang terkejut, bukankah mereka sudah menanggungnya?

Dalam beberapa hari, pekan dan bulan kemudian, Hiroshima dengan penuh ketabahan perlahan pulih.

Tiga hari setelah pemboman, kereta, trem dan bus beroperasi kemabali.

Dua bulan setelah itu, sekolah dibuka kembali meski kegiatan belajar mengajar dilakukan di gedung yang setengahnya hancur dan kelas di ruangan terbuka.

Dan dengan semua bank di seluruh kota hancur, kecuali Bank Jepang - satu-satunya yang selamat - mengundang pesaingnya untuk membuka kembali kantor cabangnya.

Hiroshima bangkit dari abu.

Michiko juga membangun kembali hidupnya.

"Pada 1948, ketika berusia 18 tahun, saya menikah. Pada April 1949, saya melahirkan bayi perempuan. Namun dia meninggal dua pekan kemudian. Saya percaya kematian bayi saya karena efek samping bom atom."

Dia melahirkan dua anak yang sehat, namun segera mendapat masalah lain. Suaminya kerap menghilang untuk menghabiskan waktu dengan kekasihnya, membawa serta penghasilan Michiko bersamanya.

Karena kelelahan akibat penyakit radiasi, frustrasi dengan perselingkuhan suaminya dan keinginan untuk bebas dari situasinya, Michiko sering menitipkan anak-anaknya ke kerabatnya. Ketika mereka kembali, dia akan melampiaskan rasa frustrasinya pada putrinya, Sanae.

"Pada tahun 1964, ibu saya meninggal karena kanker. Dalam keluarga saya, saya ditinggalkan sendirian. Ibu saya telah menerima tunjangan kehilangan akibat perang. Pemerintah Jepang menariknya setelah kematian ibu saya."

Ketika Michiko akhirnya menghadapi suaminya, dia mengaku berselingkuh dan meninggalkannya untuk kekasihnya. Tanpa dukungan keuangan dari suaminya atau negara, Michiko berjuang keras.

Dia mendapatkan pekerjaan sebagai pendamping tamu di sebuah restoran tradisional Jepang; setiap malam, dia mengenakan kimononya dan melayani pelanggan hingga larut malam.

Setiap tahun, pada 6 Agustus, Hiroshima mengadakan Upacara Peringatan Perdamaian, dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti Bunda Theresa, Fidel Castro dan Mikhail Gorbachev.

Tetapi Michiko tidak dapat mendamaikan pidato perdamaian dengan apa yang dia alami pada saat itu dan tidak pernah menghadiri upacara pagi.

Dia akan hadir di sana pada malam hari untuk menyaksikan lentera mengambang, yang melambangkan jiwa mereka yang meninggal, dilepaskan ke Sungai Motoyasu.

Ketika Sanae memiliki anak - perempuan dan laki-laki - hubungannya yang renggang dengan putrinya berangsur-angsur sembuh.

Selama Obon, liburan bulan Agustus ketika keluarga menghormati arwah nenek moyang mereka, dia mengunjungi keluarga Sanae. Bersama-sama mereka akan menonton drama TV tentang bom atom. Michiko menganggap drama TV itu tidak meyakinkan.

"Anna mono janai!" - "Bukan seperti itu!" - keluarganya ingat ucapannya.

Selama sebagian besar hidupnya, Michiko tidak banyak berbicara tentang pengalamannya pada tahun 1945.

Tetapi menjelang peringatan 50 tahun pemboman, pada tahun 1995, dokter Michiko menyarankan agar dia menulis sendiri tentang kejadian-kejadian tersebut, untuk membantunya menemukan jalan keluar.

Awalnya Michiko enggan, tapi akhirnya dia setuju; dia takut jika tidak, ingatannya akan hilang selamanya.

Pada saat itu, Hiroshima adalah kota modern yang berkembang pesat dengan jalan raya yang lebar, toko-toko mewah, dan sedikit peninggalan masa lalu yang tragis.

Michiko tinggal di sebuah flat di dekat pusat kota ketika dia dipindahkan ke Hesaka, pinggiran timur.

Apartemen barunya berada di dekat Nakayamatoge, jalur pegunungan yang dia lintasi pada hari pemboman.

Sosok yang mencengkeram pergelangan kakinya kembali menghantuinya.

"Saya tidak akan pernah bisa menghapus suara orang tersebut dari kenangan saya," ujarnya.

Ketika saya pindah ke Hiroshima, saya hanya tahu sedikit tentang sejarah tersebut. Namun, saya bertemu dengan seorang perempuan bernama Kaori, cucu yang menuturkan kisah Michiko. Beberapa tahun kemudian, sebagai suami dan istri, kami menerjemahkan tulisan Michiko - tergerak oleh kisahnya yang sedih dan kegigihan untuk bertahan.

Istri saya ingat Michiko mengalami depresi di tahun-tahun berikutnya.

Sebagai perempuan yang berpikiran kuat dalam masyarakat yang menghargai tatemae (sanjungan) daripada honne (kejujuran), dia selalu berjuang untuk mencari teman.

Tapi sekarang dia merasa benar-benar terisolasi. Kemudian, karena menderita demensia, dia pindah ke panti jompo. Michiko meninggal pada Januari 2012.

Catatan tertulisnya sekarang telah ditempatkan di Peace Memorial Hall di Hiroshima - kenangan seorang perempuan tentang hari yang mengubah sejarah dan mengubah jalan hidupnya sendiri selamanya.

Karya terakhirnya mengisyaratkan kemampuan manusia untuk mengatasi kesulitan dan membangun kehidupan kembali.

"Sekarang, pada peringatan 50 tahun bom atom, saya merasakan kembali betapa berharganya hidup."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Tips Aman Menyebrang Rel Kereta Api Gunakan Mobil Hybrid, Apakah Sama dengan Mobil Listrik ?

Tips Aman Menyebrang Rel Kereta Api Gunakan Mobil Hybrid, Apakah Sama dengan Mobil Listrik ?

Otomotif | Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:24 WIB

Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026

Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 19:32 WIB

Kasus Kekerasan Gender Tembus 376 Ribu, LBH APIK Ungkap Lemahnya Perlindungan Korban

Kasus Kekerasan Gender Tembus 376 Ribu, LBH APIK Ungkap Lemahnya Perlindungan Korban

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:20 WIB

Investigasi Kemenhub Ungkap Bus ALS Tak Miliki Izin Operasi

Investigasi Kemenhub Ungkap Bus ALS Tak Miliki Izin Operasi

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:15 WIB

8 Fakta Kecelakaan Maut Bus ALS vs Truk BBM di Muratara, 16 Orang Tewas Terbakar

8 Fakta Kecelakaan Maut Bus ALS vs Truk BBM di Muratara, 16 Orang Tewas Terbakar

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 13:10 WIB

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 11:49 WIB

Selalu Ingin Sempurna: Tekanan Tak Terlihat pada Perempuan yang Saya Rasakan

Selalu Ingin Sempurna: Tekanan Tak Terlihat pada Perempuan yang Saya Rasakan

Your Say | Jum'at, 08 Mei 2026 | 13:25 WIB

Seraut Kenangan dalam Secangkir Kopi di Kedai Tempo Doeloe Kalisat Jember

Seraut Kenangan dalam Secangkir Kopi di Kedai Tempo Doeloe Kalisat Jember

Your Say | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:20 WIB

Perempuan dan Standar Ganda: Apa Pun yang Dipilih Tetap Salah, Harus Gimana?

Perempuan dan Standar Ganda: Apa Pun yang Dipilih Tetap Salah, Harus Gimana?

Your Say | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:00 WIB

Bekasi Timur Berduka, Penumpang Mulai Bangkit dari Trauma

Bekasi Timur Berduka, Penumpang Mulai Bangkit dari Trauma

Video | Jum'at, 08 Mei 2026 | 09:09 WIB

Terkini

Studi Ungkap Cuaca Ekstrem Bisa Pangkas Jarak Tempuh Mobil Listrik dan Mobil Hybrid

Studi Ungkap Cuaca Ekstrem Bisa Pangkas Jarak Tempuh Mobil Listrik dan Mobil Hybrid

Otomotif | Sabtu, 09 Mei 2026 | 20:41 WIB

Bahaya Kebiasaan Menunda Isi Bensin Mobil yang Sering Diabaikan Pengendara

Bahaya Kebiasaan Menunda Isi Bensin Mobil yang Sering Diabaikan Pengendara

Otomotif | Sabtu, 09 Mei 2026 | 15:25 WIB

Daftar 13 SPBU yang Sudah Tidak Jual Pertalite Lagi

Daftar 13 SPBU yang Sudah Tidak Jual Pertalite Lagi

Otomotif | Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:18 WIB

Telat 1 Hari Bayar Pajak Motor, Apakah Kena Denda? Begini Penjelasannya

Telat 1 Hari Bayar Pajak Motor, Apakah Kena Denda? Begini Penjelasannya

Otomotif | Sabtu, 09 Mei 2026 | 13:20 WIB

KBA Servis Gratis Mesin Tempel Yamaha Perkuat Sektor Maritim Nasional

KBA Servis Gratis Mesin Tempel Yamaha Perkuat Sektor Maritim Nasional

Otomotif | Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:42 WIB

Tips Aman Menyebrang Rel Kereta Api Gunakan Mobil Hybrid, Apakah Sama dengan Mobil Listrik ?

Tips Aman Menyebrang Rel Kereta Api Gunakan Mobil Hybrid, Apakah Sama dengan Mobil Listrik ?

Otomotif | Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:24 WIB

Motor Listrik Bisa Tekan Konsumsi BBM, Ini 4 Pilihan Model Mulai Rp 13 Jutaan

Motor Listrik Bisa Tekan Konsumsi BBM, Ini 4 Pilihan Model Mulai Rp 13 Jutaan

Otomotif | Sabtu, 09 Mei 2026 | 08:58 WIB

Honda Berpotensi Merugi Pasca Batalkan Proyek Pabrik Mobil Listrik Rp 179 Triliun

Honda Berpotensi Merugi Pasca Batalkan Proyek Pabrik Mobil Listrik Rp 179 Triliun

Otomotif | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:38 WIB

Terpopuler: Subsidi Motor Listrik Jalan Lagi, Deretan Mobil Berbaterai Nikel

Terpopuler: Subsidi Motor Listrik Jalan Lagi, Deretan Mobil Berbaterai Nikel

Otomotif | Jum'at, 08 Mei 2026 | 19:10 WIB

Menyibak Pesona Motor Italia Sekelas Vixion tapi V-Twin, Harga Masih Jadi Misteri

Menyibak Pesona Motor Italia Sekelas Vixion tapi V-Twin, Harga Masih Jadi Misteri

Otomotif | Jum'at, 08 Mei 2026 | 17:01 WIB