"Di salah satu rumah sakit, saat saya masuk ruang IGD melihat banyak pasien Covid-19. Mulai ringan hingga berat. Itu situasinya sudah rumit sekali. Ada yang sesak dibantu oksigen, ada di kursi roda, ada yang sakratul maut, ada yang meninggal karena tidak tertolong," ucapnya perlahan.
Kondisi itu pun sempat membuatnya stres dan terbayang-bayang. Namun Sulis berusaha menguatkan dirinya.
"Ini sampai kapan terjadi seperti ini terus?" ujarnya setengah bertanya.
Rangkaian berbagai peristiwa penanganan pasien Covid-19 itu membuat Sulis Sudaryanto semakin mengingat kematian dan berusaha semakin dekat dengan Tuhan.
Terlebih saat menilik jasad yang ia antarkan tidak memandang usia. Baik tua maupun muda bisa saja menjadi korban keganasan Covid-19.
Hal inilah yang membuatnya emosi bila di jalan melihat masih banyak orang tidak mengenakan masker. Sulis menyebutkan sangat sakit hati dan kecewa melihat mereka yang masih abai dengan protokol kesehatan.
Bagaimana tidak, keganasan dari Covid-19 menjadi pemandangan kesehariannya setiap hari. Lantas kemudian melihat ada masyarakat yang tidak peduli dengan protokol kesehatan.
"Kita sudah capek seperti ini kok orang-orang tidak peduli sama protokol kesehatan! Saya emosinya itu, di jalanan masih banyak orang tidak pakai masker," tukasnya.
"Saya selalu sedia masker, kalau lihat orang atau pedagang tidak pakai masker terkadang saya beri. "Pakai maskernya", bagaimanapun itu saya minta agar masker dipakai. Kalau sudah begitu saya suka mikir: Sia-sia nggak sih saya kerja seperti ini, tiba-tiba ada yang abai," ungkapnya sedih.
Meski Tugas Penuh Risiko, Keluarga Mendukungnya
Sulis Sudaryanto sebagai driver ambulans relawan Imun Center di Depok setiap harinya bertugas mengantarkan tiga sampai empat jenazah menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU). Biasanya adalah TPU Tapos, Cilangkap, dan TPU Pasir Putih, Sawangan.
Bila dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, tugasnya sekarang jauh lebih berat dijalani. Dalam sehari harus bekerja selama 12 jam bahkan lebih, tergantung panggilan tugas.
Sebelum dan selama mengemudikan ambulans ia juga harus selalu mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Sehingga membuatnya bermandi keringat karena kegerahan. Keadaan ini belum termasuk risiko yang selalu mengintainya.

Yang membuat Sulis Sudaryanto tetap tekun menjalani tugas sebagai relawan sopir ambulans hampir setahun ini adalah dukungan dari keluarga. Tidak ada seorang pun menentang pilihan yang dijalaninya. Terlebih Sang Istri dengan dukungan sepenuh hati.
"Keluarga besar mendukung banget. Paling ibu saya bawel setiap hari ingatkan patuhi protokol kesehatan dan rajin bersih-bersih," tuturnya.
Selain itu, juga tidak ada perlakuan kurang mengenakkan dari lingkungan. Baik tetangga maupun teman-temannya tidak pernah menjauhinya.
Sementara dari dirinya pribadi, Sulis menyatakan selalu tahu diri saat selesai bertugas.
"Penting, selesai tugas saya bersih-bersih dulu. Mandi dan ganti baju sebelum pulang ke rumah," paparnya.
Karena adanya dukungan yang sangat besar itu, Sulis menyatakan sangat nyaman dengan tugas yang dijalaninya. Sejauh ini, tak pernah terlintas di pikirannya untuk berhenti. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu bertugas sampai pandemi benar-benar selesai.
Lantas bersama rekan-rekan relawan di Imun Center semuanya juga selalu berbagi dan saling menguatkan. Termasuk kesiapan menghadapi varian Covid-19 yang lebih ganas.
Imbauan Pakai Masker
Menilik sosok Sulis Sudaryanto serta seluruh rekan kerjanya, para tenaga kesehatan atau nakes dan jajaran garda terdepan penanggulangan Covid-19, rasanya kita bisa membantunya lewat hal yang sangat bisa dilakukan. Seperti selalu mengenakan masker dan tidak berkerumun.
"Yang sering kami teriaki itu soal masker. Minimal pakai masker. Kalau tidak penting-penting janganlah keluar, di rumah saja," pintanya.
Driver ambulans Covid-19 ini, relawan dari Imun Center ini, Sulis Sudaryanto selalu berharap: jangan sampai ada lagi masyarakat menjadi korban keganasan Covid-19. Dan kemudian berakhir di mobil ambulans yang dikemudikannya menuju tempat pemakaman.
Jangan sampai karena kelalaian kita, kerja keras mereka sia-sia. Bahkan para relawan Covid-19 itu harus menanggung risiko dari kesalahan yang tidak mereka perbuat. Seperti berkerumun, masih keluar rumah walau tiada kebutuhan mendesak, dan tidak memakai masker.