- Jet siluman F-35 Amerika Serikat dilaporkan berhasil ditembak oleh rudal pertahanan udara Iran.
- Rudal AD-08 Majid menggunakan sensor pelacak inframerah pasif yang mengecoh sistem peringatan jet.
- Sensor cerdas rudal mendeteksi panas mesin pesawat tanpa memancarkan sinyal radar yang mencurigakan.
Suara.com - Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat semakin memanas setelah sebuah rudal berhasil menghantam pesawat tempur siluman F-35. Insiden mengejutkan ini membuktikan bahwa teknologi canggih jet siluman generasi kelima tersebut ternyata bisa ditembus oleh persenjataan modern.
Selama ini, F-35 Lightning II diagung-agungkan sebagai jet tempur paling canggih di dunia berkat teknologi silumannya. Pesawat ini dirancang untuk menyusup ke wilayah musuh tanpa terlacak radar.
Namun, dunia militer dikejutkan oleh klaim Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) pada Sabtu (21/3/2026).
Mereka mengonfirmasi telah menembak jatuh F-35 milik Amerika menggunakan sistem pertahanan udara lokal.
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat mengakui bahwa jet canggih mereka memang terkena tembakan, tetapi membantah pesawat itu hancur total dan menyatakan F-35 berhasil melakukan pendaratan darurat.
Terlepas dari perdebatan tersebut, fakta bahwa F-35 bisa dikunci dan ditembak membuktikan bahwa jet seharga triliunan rupiah ini tidaklah sesakti yang dibayangkan.
Mengenal Rudal AD-08 Majid: Sang Penjaga Langit Iran
Insiden ini tercatat sebagai momen pertama kalinya sebuah rudal darat ke udara (Surface-to-Air Missile) berhasil melumpuhkan F-35.
Senjata yang bertanggung jawab atas kejutan ini adalah rudal AD-08 Majid.
Diproduksi oleh Defence Industries Organization milik Iran, rudal Majid pertama kali debut ke publik pada parade militer April 2021.
Secara fisik, rudal ini dirancang sangat taktis dengan spesifikasi sebagai berikut:
- Dimensi: Berat 75 kg, panjang 2,67 meter, dan diameter 156 mm.
- Kemampuan Jelajah: Jarak tembak hingga 8 km dengan ketinggian maksimal 6 km, sangat mematikan untuk pertempuran jarak dekat dan target di ketinggian rendah.
- Mobilitas Tinggi: Sistem peluncurnya dipasang pada kendaraan taktis Aras-2, sehingga sangat mudah bermanuver dan dipindahkan. Satu sistem dapat memuat 4 hingga 8 rudal sekaligus.
Rahasia Mematikan: Mengapa F-35 Gagal Menghindar?
Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana rudal sekecil itu bisa menemukan jet siluman? Jawabannya ada pada teknologi pelacaknya.
Rudal Majid bekerja layaknya seorang pembunuh senyap. Alih-alih memancarkan sinyal radar yang bisa dideteksi oleh musuh, rudal ini menggunakan sistem sensor inframerah pencitraan pasif.
Artinya, rudal ini sama sekali tidak mengeluarkan sinyal elektromagnetik. Sifat pasif inilah yang membuat sistem peringatan dini pada radar F-35 sama sekali tidak mendeteksi ancaman yang datang.
Teknologi pencari panas modern pada Majid menggunakan susunan sensor berpendingin untuk menciptakan citra termal target dengan sangat detail. Rudal ini akan mengunci bagian paling panas dari pesawat, yaitu area nosel dan asap knalpot dari mesin Pratt & Whitney F135 yang digunakan F-35.
Meskipun pesawat tempur buatan AS tersebut sudah dilapisi material penyerap radar dan didesain agar suhu knalpotnya menurun, semburan panas yang dihasilkan tetap menjadi "jejak" mematikan dalam pertempuran jarak dekat.
Hebatnya lagi, memori cerdas pada rudal Majid mampu membedakan mana panas mesin asli dan mana flare (suar pengecoh), dengan cara membandingkan bentuk target melalui profil digital yang sudah dimasukkan ke dalam sistemnya.
Rekaman militer yang beredar pasca-insiden menunjukkan presisi luar biasa dari peluncuran rudal tunggal ini.
Satu tembakan tajam sudah cukup untuk merusak jet siluman terbaik di dunia, membuktikan bahwa inovasi pertahanan udara Iran kini telah mencapai tingkat ancaman baru yang tak bisa lagi diremehkan oleh Barat.