- Pindah dari Pertamax ke Pertalite aman jika spesifikasi manual kendaraan hanya mensyaratkan minimal RON 90.
- Menurut Stanto, mesin tidak memiliki "kebiasaan" BBM, melainkan spesifikasi teknis yang wajib dipatuhi.
- Pertalite pada mesin kompresi tinggi memicu timing pengapian salah, boros BBM, detonasi, hingga piston rusak.
Suara.com - Kenaikan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter pada Rabu (10/6) sukses membuat banyak pemilik kendaraan roda dua putar otak.
Selisih harga yang cukup mencolok dengan Pertalite (RON 90) memicu satu pertanyaan klasik di kalangan bikers: "Motor saya dari baru selalu diisi Pertamax, kalau sekarang beralih ke Pertalite apakah mesinnya akan kaget dan rusak?"
Banyak yang beranggapan bahwa mesin memiliki semacam "kebiasaan" atau "kecanduan" terhadap jenis BBM tertentu. Menanggapi hal ini, Rustanto, Technical Engineer PT United Tractors dari kanal YouTube Rustanto_AutoInfo, membongkar tuntas mitos tersebut berdasarkan data teknis (technical data sheet) dari Pertamina.
1. Kualitas Dasar (Base Gasoline) Ternyata Mirip
Jika melihat kualitas dasar bahan bakar, Pertalite dan Pertamax sebenarnya tidak terpaut jauh. Hal ini dibuktikan dengan tingkat kandungan sulfur di dalamnya.
"Dari datasheet yang saya download, dua BBM ini antara Pertalite dan Pertamax memiliki kualitas base gasoline yang tidak terpaut jauh kualitasnya. Ini bisa dilihat dari sulfur content antara Pertamax dan Pertalite ini memiliki sulfur content yang sama," ungkap Rustanto
2. Perbedaan Utama: Angka Oktan (RON) dan Zat Aditif
Perbedaan paling signifikan yang membuat harga Pertamax lebih mahal ada pada teknologi zat aditif dan angka oktan (RON).
"Perbedaan yang paling signifikan antara Pertalite dan Pertamax adalah angka oktannya. Pertalite itu perbedaan paling signifikan ada di teknologi zat aditif untuk menaikkan angka oktan," jelas Rustanto, yang juga mengutip penjelasan Pertamina terkait penggunaan aditif berteknologi Pertatec pada Pertamax untuk membersihkan ruang bakar.
![Harga BBM Pertamax belum mengalami kenaikan setelah harga BBM Turbo melonjal. [Gemini AI].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/22/35395-harga-pertamax.jpg)
3. Mesin Tidak Punya "Kebiasaan", Tapi Punya "Spesifikasi"
Aman atau tidaknya beralih dari Pertamax ke Pertalite bukan bergantung pada kebiasaan motor, melainkan pada spesifikasi bawaan pabrik.
Rustanto dengan tegas meluruskan anggapan salah yang sering beredar di komunitas otomotif.
"Bukan masalah kebiasaannya. Namanya mesin itu bukan masalah kebiasaan, tetapi masalah spesifikasi. Kalau spesifikasinya masih masuk, dia aman. Kalau spesifikasinya tidak masuk, ya pasti akan ada efek yang timbul di situ," tegasnya.
Jika buku manual motor Anda mensyaratkan minimal RON 90, maka melakukan downgrade dari Pertamax ke Pertalite 100% aman.
Ibaratnya, spesifikasi mesin Anda memang meminta standar "nilai B" (Pertalite), namun selama ini Anda memberinya "nilai A" (Pertamax). Kembali ke "nilai B" tidak akan merusak mesin.
4. Efek Buruk Memaksa Pertalite ke Mesin RON 92
Masalah baru akan muncul jika Anda bersikeras mencekoki mesin berkompresi tinggi (seperti NMax terbaru atau PCX 160 yang butuh RON 92) dengan Pertalite demi berhemat.
Bahan bakar tersebut tidak akan kuat menahan tekanan di ruang bakar dan meledak sebelum waktunya.
"Ketika bahan bakar ini digunakan di sebuah kendaraan atau mesin yang memiliki kompresi tinggi, dia akan berpotensi terbakar sebelum busi memercikkan bunga api. Artinya di sini tidak sesuai dengan timing pengapian," papar Rustanto.
Lebih lanjut, ia menjelaskan efek berantai yang sangat merugikan bagi mesin.
"Efeknya apa? Tentu saja pembakaran tidak sempurna, timbul kerak, engine low power, boros BBM, bahkan detonasi. Kasus yang terberat bisa menyebabkan kerusakan di area ruang bakar atau di piston," pungkasnya.
Sebelum Anda memutuskan untuk pindah haluan dari Pertamax demi menyelamatkan isi dompet, cek dulu buku manual kendaraan Anda.
Sesuaikan pemilihan BBM dengan rasio kompresi mesin, bukan berdasarkan perasaan atau kebiasaan masa lalu. Jangan sampai niat berhemat puluhan ribu di SPBU justru berujung pada tagihan jutaan rupiah di bengkel akibat turun mesin!