- Bunyi berdecit pada sepeda motor sering terjadi akibat kotoran atau keausan komponen sistem pengereman cakram kendaraan.
- Masalah pada CVT motor matic, rantai kering, serta komponen suspensi yang aus dapat memicu suara bising tersebut.
- Kerusakan bearing roda akibat air atau kotoran berisiko menyebabkan ketidakstabilan motor sehingga memerlukan pemeriksaan dan penggantian rutin.
Suara.com - Suara-suara asing pada sepeda motor sering kali menjadi sinyal awal adanya kerusakan pada komponen tertentu. Salah satu yang paling mengganggu dan sering dikeluhkan pemilik kendaraan adalah bunyi berdecit.
Bunyi ini tidak hanya merusak kenyamanan berkendara, tetapi juga bisa menjadi pertanda bahaya jika sumbernya berasal dari sistem vital seperti pengereman.
Sebagai pengendara yang cerdas, memahami sumber suara sangatlah penting sebelum memutuskan untuk membawanya ke bengkel.
Mengutip dari berbagai sumber ahli otomotif, berikut akan dibedah tuntas penyebab motor bunyi berdecit dan solusinya.
1. Kampas Rem yang Kotor atau Menipis
Penyebab paling umum motor berdecit, baik saat melaju maupun saat direm, adalah masalah pada sistem pengereman.
Gesekan antara logam pada kampas rem dan piringan cakram (diskbrak) sering kali menghasilkan suara tinggi yang melengking.
Menurut laman resmi Astra Honda Motor (AHM), debu, pasir halus, atau sisa residu karbon yang menempel di antara kampas dan cakram adalah pemicu utama.
Selain kotoran, kampas rem yang sudah tipis akan membuat indikator logam pada kampas bergesekan langsung dengan cakram.
Solusinya: Bersihkan area pengereman dengan brake cleaner atau air sabun. Jika suara tetap muncul dan kampas terlihat tipis, segera ganti dengan part orisinal.
2. Masalah pada Bagian CVT
Bagi pengguna motor matic, bunyi berdecit sering kali muncul dari area Continuously Variable Transmission (CVT).
Bunyi ini biasanya terdengar seperti tikus yang mencicit, terutama saat motor baru mulai berakselerasi dari posisi diam.
Penyebab utama decit di CVT adalah kondisi V-belt yang sudah kering atau retak-retak.
Selain itu, tumpukan debu di dalam mangkok kopling (clutch housing) juga bisa menyebabkan selip yang menghasilkan suara
decit.
Solusinya: Lakukan servis rutin CVT setiap 8.000 km. Pastikan montir membersihkan debu di bak CVT dan memberikan grease (gemuk) khusus pada bagian pulley.
3. Rantai Motor Kering dan Berkarat
Bagi pengguna motor bebek atau sport, rantai adalah komponen yang paling sering "berteriak" jika tidak dirawat.
Bunyi berdecit muncul akibat gesekan antar plat rantai yang kering karena pelumasnya sudah hilang terkena air hujan atau debu jalanan.
Laman Planet Ban menyebutkan bahwa rantai yang kering akan lebih cepat aus dan kaku. Jika dibiarkan, rantai bisa putus atau merusak gear motor.
Bunyi decit ini biasanya semakin keras seiring dengan bertambahnya kecepatan motor.
Solusinya: Jangan gunakan oli bekas untuk melumasi rantai karena justru akan mengundang debu. Gunakan cairan chain lube khusus secara rutin, terutama setelah motor dicuci atau terkena hujan.
4. Bushing Swing Arm atau Shockbreaker Aus
Jika bunyi berdecit muncul saat motor melewati jalan bergelombang atau polisi tidur, sumbernya kemungkinan besar berasal dari sistem suspensi.
Bagian yang sering bermasalah adalah bushing swing arm atau seal shockbreaker yang sudah mengeras.
Karet bushing yang sudah pecah atau kering akan kehilangan fleksibilitasnya, sehingga terjadi gesekan besi-ke-besi atau besi-ke-karet yang kering saat suspensi bekerja naik-turun.
Solusinya: Semprotkan cairan pelumas silikon atau penetran pada area engsel suspensi sebagai pertolongan pertama. Namun, jika karet sudah pecah, penggantian bushing adalah harga mati untuk menjaga kestabilan motor.
5. Laher (Bearing) Roda Mulai Goyang
Bearing roda yang mulai aus atau kering (kehabisan gemuk di dalamnya) juga bisa menghasilkan suara decit yang konstan saat roda berputar.
Hal ini sering terjadi jika motor sering menerjang banjir atau dicuci dengan air bertekanan tinggi yang masuk ke celah seal roda.
Melansir dari sumber teknis Yamaha Motor Indonesia, bearing yang rusak tidak hanya berdecit, tetapi juga membahayakan keselamatan karena putaran roda menjadi tidak stabil atau goyang.
Solusinya: Cek kestabilan roda dengan cara menggoyangkannya ke kiri dan kanan saat motor dalam posisi standar tengah. Jika ada celah (play), segera ganti bearing roda dengan yang baru.