- Volkswagen menghadapi krisis finansial dengan rencana PHK 100 ribu pekerja akibat penurunan laba drastis sebesar 44 persen pada 2025.
- Manajemen berencana menutup empat pabrik di Jerman serta menjual aset strategis seperti Ducati dan Lamborghini demi menambah modal.
- Perusahaan menghentikan proyek swakemudi senilai 1,5 miliar euro dan fokus mengembangkan mobil listrik baru berbasis platform MEB+ yang efisien.
Suara.com - Volkswagen (VW), saat ini sedang berada dalam pusaran badai besar yang mengancam stabilitas internalnya.
Tidak tanggung-tanggung, sekitar 100 ribu pekerja di seluruh dunia kini dibayangi ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menurut Carscoops, gonjang-ganjing ini dipicu oleh merosotnya laba perusahaan hingga 44 persen pada tahun 2025, yang memaksa manajemen melakukan langkah efisiensi ekstrem demi bertahan hidup di tengah persaingan global yang kian ganas.
CEO Oliver Blume dan CFO Arno Antlitz menjadi tokoh sentral di balik rencana restrukturisasi besar-besaran ini.
Keduanya tengah mencari cara agar VW tetap kompetitif, terutama saat menghadapi gempuran dari Tesla dan dominasi merek-merek elektrik asal Tiongkok.
Keputusan final mengenai rencana penutupan empat pabrik besar di Jerman, yakni di Hanover, Emden, Zwickau, dan Audi Neckarsulm, kabarnya akan segera dibahas dalam rapat dewan pengawas pada 9 Juli 2026.
Jika produksi di lokasi-lokasi tersebut benar-benar dihentikan, lebih dari 45 ribu lapangan kerja di Jerman saja bisa hilang seketika.
Namun, urusan VW bukan cuma soal pengurangan staf. Strategi bertahan perusahaan juga mencakup rencana pelepasan aset-aset strategis dan mewah untuk menambah modal segar.

Salah satu kabar yang paling santer terdengar adalah rencana penjualan merek motor legendaris asal Italia, Ducati.
Para penasihat keuangan dilaporkan tengah mendorong VW untuk melepas aset bernilai tinggi ini setelah sebelumnya sukses menjual bisnis mesin laut, Everllence.
Selain Ducati, nama Lamborghini juga masuk dalam radar diskusi restrukturisasi. Meskipun Lamborghini mencatatkan keuntungan yang sangat solid, penasihat menyarankan VW untuk mempertimbangkan skema go public atau IPO bagi merek supercar tersebut guna mengumpulkan likuiditas.
Tekanan finansial ini semakin berat karena VW harus mendanai transisi besar-besaran menuju era kendaraan listrik (EV) yang memakan biaya sangat besar.
Di sisi teknologi, VW juga mengalami kemunduran yang cukup mahal. Proyek ambisius pengembangan teknologi self-driving atau swakemudi bersama Bosch kabarnya akan segera dihentikan.
Padahal, perusahaan telah mengucurkan investasi sekitar $1,7 miliar ke dalam proyek tersebut.
Sayangnya, hasil yang dicapai tidak memenuhi ekspektasi internal dan VW merasa masih tertinggal jauh dari sistem yang ditawarkan oleh para pesaingnya.