- Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo meluncurkan program Molinas pada Agustus 2026 guna mempercepat transisi energi.
- Media asing Rideapart menyoroti langkah Indonesia memberikan insentif uang tunai agar warga membeli motor listrik.
- Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp3 triliun untuk subsidi Rp3 juta per unit demi mencapai target 13 juta motor listrik.
Suara.com - Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sedang gencar mendorong program Motor Listrik Nasional atau Molinas guna mempercepat transisi energi.
Transisi energi sendiri merupakan istilah untuk proses beralihnya penggunaan energi kotor berbahan bakar fosil (seperti bensin) ke energi bersih yang ramah lingkungan.
Melalui program ini, pemerintah menargetkan jutaan kendaraan ramah lingkungan mengaspal di tanah air lewat berbagai skema insentif keuangan.
Insentif keuangan di sini berarti bantuan dana atau potongan harga dari pemerintah agar harga motor listrik menjadi lebih murah bagi masyarakat.
Sorotan Media Asing
![Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Motor Listrik Nasional (MoLiNas) beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). [Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/13/67785-alva-cikarang.jpg)
Langkah ambisius ini rupanya langsung menyedot perhatian dunia internasional. Media otomotif asing asal Amerika Serikat, Rideapart, menyoroti cara unik Indonesia dalam menarik minat warganya agar mau beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai.
Dalam artikel yang ditulis oleh jurnalis Enrico Punsalang, Rideapart memberikan ulasan dengan judul yang cukup tajam:
"Indonesia Wants People To Buy EV Motorcycles So Bad It’s Literally Offering Them Cash".
Jika diterjemahkan, kalimat tersebut berarti Indonesia sangat ingin warganya membeli motor listrik sampai-sampai rela memberikan uang tunai secara langsung (subsidi) kepada pembeli.
Meskipun ditulis dengan diksi yang santai, ulasan dari media asing ini mencerminkan fakta nyata di lapangan.
Di pasar roda dua Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga, memotong harga jual sebesar beberapa ratus dolar dapat menjadi faktor penentu keputusan pembelian yang sangat signifikan bagi konsumen.
Stimulus berupa bantuan uang tunai langsung dinilai jauh lebih efektif dibandingkan sekadar mengampanyekan manfaat lingkungan seperti mesin yang lebih senyap atau perawatan yang lebih mudah.
Mereka juga menyoroti soal langkah untuk merintis motor nasional.
"Dan Indonesia tidak berpikir kecil di sini. Pemerintah menginginkan 13 juta sepeda motor listrik di jalan-jalannya pada tahun 2030," tulis mereka.
"Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga mendorong ekosistem EV domestik yang lebih besar yang mencakup manufaktur, baterai, infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, dan dukungan purna jual," lanjutnya.
"Bahkan ada diskusi tentang program trade-in yang dapat mendorong pengendara untuk menukar sepeda motor bertenaga gas mereka yang ada dengan yang listrik."
Fakta soal Molinas dan Subsidi Motor Listrik

Kebijakan yang dinamakan program Motor Listrik Nasional (Molinas) ini resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada pertengahan Agustus 2026.
Melalui program jangka panjang tersebut, pemerintah mematok target besar, yaitu menghadirkan 13 juta unit motor listrik di jalanan Indonesia pada tahun 2030.
Untuk mencapai mimpi besar ini, pemerintah tidak hanya fokus pada subsidi penjualan unit motornya saja, melainkan juga membangun ekosistem pendukung yang lengkap.
Ekosistem di sini merujuk pada jaringan industri pendukung yang saling terhubung, mulai dari pembuatan baterai lokal, pabrik perakitan, stasiun pengisian daya (charging infrastructure), skema kredit pembiayaan, hingga layanan purna jual atau dukungan servis setelah motor dibeli konsumen.
Bahkan, ada rencana program trade-in atau tukar tambah (menukarkan barang lama dengan barang baru) di mana masyarakat bisa menukarkan motor berbahan bakar bensin lama mereka dengan motor listrik baru.
Namun, perjalanan penentuan angka subsidi ini sempat mengalami dinamika yang cukup dinamis di internal pemerintahan.
Pada awalnya, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian sempat merancang insentif senilai Rp5 juta per unit untuk kuota awal 100.000 unit yang awalnya direncanakan berjalan pada Juni 2026.
Namun, rencana tersebut belum terealisasi karena masih menunggu kesiapan aturan regulasi.
![Pekerja menata sepeda motor listrik Gesits yang telah selesai dirakit di pabrik PT Wika Industri Manufaktur (WIMA), Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/10/2021) [ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/10/27/17927-gesits-pabrik-02.jpg)
Setelah berkoordinasi intensif, angka insentif ini akhirnya disesuaikan. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa nilai subsidi yang akan berlaku disepakati sebesar Rp3 juta per unit.
Meskipun nilai subsidi per unitnya menyusut dari rencana awal Rp5 juta menjadi Rp3 juta, jangkauan kuota penerimanya justru diperluas secara luar biasa.
Pemerintah telah mengalokasikan total anggaran fantastis sebesar Rp3 triliun guna mendanai kuota hingga 1 juta unit motor listrik buatan lokal pada tahun ini.
Kebijakan ini diproyeksikan mulai berjalan paling cepat pada September 2026, segera setelah Kementerian Keuangan merampungkan Peraturan Menteri Keuangan atau PMK.
PMK sendiri merupakan aturan hukum tertulis yang diterbitkan oleh Menteri Keuangan sebagai landasan resmi untuk mengatur aspek teknik pencairan dana subsidi tersebut.
Langkah agresif dengan menggelontorkan dana triliunan rupiah ini diambil karena ada pelajaran penting dari masa lalu.
Sebelumnya, Indonesia pernah memberikan subsidi motor listrik yang lebih besar, yaitu Rp7 juta per unit, namun program tersebut berakhir pada awal tahun 2025.
Begitu subsidi dihentikan, angka pendaftaran motor listrik baru langsung anjlok sebesar 28,6 persen, dari 77.078 unit di tahun 2024 menjadi hanya 55.059 unit di tahun 2025.
Data ini membuktikan bahwa pasar Indonesia memang sangat bergantung pada stimulus harga.
Melalui subsidi Rp3 juta yang baru ini, pemerintah berharap dapat kembali menggairahkan industri otomotif ramah lingkungan di dalam negeri.