RIAU ONLINE - Penculikan disertai pembunuhan terhadap enam jenderal di Jakarta, kemudian dikenal dengan sebutan peristiwa Gerakan 30 September (Gestapu) 1965, hingga kini masih meninggalkan misteri, siapa pelaku dan otak dibalik itu semuanya.
Sisi lain dari Gestapu ini memunculkan seorang Soeharto, ketika itu berpangkat Mayor Jenderal, Panglima Komando Strategis TNI AD (Pangkostrad), luput dari penculikan terhadap jenderal-jenderal anti-komunis tersebut.
Zaman dulu, walau berpangkat bintang dua dan Pangkostrad, Soeharto tak miliki pasukan sebanyak Kostrad saat ini. Ia hanya memiliki pasukan diperbantukan, BKO-kan dari Kodam-kodam di Jawa, maupun Sumatera.