Benny sendiri menyebut kabar kudeta itu sebagai omong kosong. Ketika isu itu santer bertiup, Teddy mengaku langsung meminta pendapat kepada sejumlah jenderal seperti Tri Sutrisno, Jenderal Edi Sudrajat, dan Brigadir Jenderal Jasmine selaku atasan Prabowo di Kopassus.
Mereka kompak menyatakan tidak percaya akan isu tersebut. "Pernyataan Pak Benny Murdani mau kudeta adalah fitnah tanpa fakta," ujar Teddy dalam biografinya.
Lalu apakah Presiden Soeharto sendiri mempercayai isu tersebut? Sejarah membuktikan Soeharto tetap mengangkat Benny sebagai panglima ABRI menggantikan Jenderal M Yusuf.
Pada Februari 1988, suhu politik Indonesia menghangat. Berbagai kalangan menyebut nama Benny sebagai calon wakil presiden, selain Sudarmono.
Isu itu kemudian ditepis langsung oleh Benny. Alih-alih menyatakan keinginannya untuk menjadi wakil presiden, ia justru memberi jalan kepada koleganya Tri Sutrisno dengan mengorbankan jabatannya sebagai panglima ABRI.
"Kalau saya masih menjadi ketua partai ABRI, tetapi sejak 2 jam lalu ketua partai sudah bukan tangan saya lagi, melainkan Tri," ungkap Beni dalam biografinya.
Namun ternyata harapan Benny kandas, Soeharto justru memilih Sudarmono sebagai pendampingnya hingga 1993.
Meski Tri tidak terpilih sebagai wakil presiden, Benny tetap duduk di Kabinet Pembangunan 5 sebagai Menteri Pertahanan.
Dan Benny terus bermanuver untuk memuluskan Jalan Tri menjadi wakil presiden. Berbagai manuver politik yang dilakukan Benny, membuat sikap Soeharto berubah.
Ia mulai mencurigai Benny. Kecurigaan itu berubah menjadi kemarahan, saat putra-putri Soeharto beserta sebagian mantu-mantunya, terlibat dalam berbagai bisnis besar di Indonesia.
Banyak kalangan yang gerah melihat situasi tersebut. Teddy masih ingat, saat menjadi panglima ABRI, ia bersama Benny sempat membuat analisa bahwa kondisi itu akan menjadi faktor yang tidak menguntungkan secara politis bagi Presiden Soeharto.
Benny yang merasa bertanggung jawab atas keberlangsungan kekuasaan Soeharto, lalu berkunjung ke Cendana untuk menyampaikan permasalahan itu.
Akan tetapi Soeharto tidak menanggapi secara serius kunjungan Benny tersebut. Presiden malah mengajak Benny untuk bermain billiard.
Saat bermain billiard itulah, secara hati-hati Benny menyampaikan kekhawatiran jika tingkah laku anak-anak dan menantu Soeharto bisa mengancam posisi sang presiden.
Menurut Julius Pour, Benny menyebut kondisi tersebut membahayakan bagi Soeharto.