Suara Ponorogo - Situasi pendidikan di Ponorogo menjadi sorotan setelah terungkap bahwa sejumlah Sekolah Dasar Negeri di wilayah tersebut menghadapi masalah serius, yakni mayoritas Sekolah Dasar Negeri mengalami kekurangan siswa, bahkan beberapa diantaranya tidak memiliki siswa sama sekali.
Sekretaris Komisi D DPRD Ponorogo, Relelyanda Solekha Wijayanti, mengungkap bahwa masalah ini telah menjadi rutinitas yang mengkhawatirkan dan menimbulkan keprihatinan bagi para orang tua.
Lely sapaan akrab Relelyanda Solekha Wijayanti mengungkapkan kekecewaannya terhadap Dinas Pendidikan karena cenderung berpegang pada rutinitas dan kurang beradaptasi dengan perubahan zaman serta perkembangan pendidikan.
![Relelyanda Solekha Wijayanti, Sekretaris Komisi D DPRD Ponorogo [ponorogo.suara.com/dedy.s]](https://media.suara.com/suara-partners/ponorogo/thumbs/1200x675/2023/07/20/1-whatsapp-image-2023-07-20-at-150125.jpeg)
"Lagi-lagi ini terjadi setiap tahun. Saya sebagai sekretaris komisi D yang bermitra dengan dinas pendidikan sangat menyayangkan bahwa ini bentuk kerja yang hanya rutinitas dan tidak menarik lagi bagi masyarakat untuk menyekolahkan anak di sekolah negeri," ujarnya, Kamis (20/7/23).
Dia menambahkan bahwa para orang tua cenderung enggan menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah negeri karena dianggap tidak memberikan nilai lebih.
"Orang tua sekarang lebih cerdas, memiliki banyak wawasan, dan membuka diri terhadap pilihan pendidikan. Dinas pendidikan harus diperbarui, tidak hanya melakukan rutinitas seperti biasa yang tidak lagi menarik bagi masyarakat saat ini," tegas Relelyanda dalam wawancara tersebut.
Saat rapat internal di komisi D, isu terkait pendidikan sering menjadi fokus utama, termasuk regrouping sekolah, kekurangan siswa, masalah-masalah lain di dunia pendidikan, serta maraknya praktik pungutan liar (pungli) di sekolah negeri.
Namun, salah satu permasalahan yang paling mengkhawatirkan adalah kekurangan siswa di sekolah dasar, bahkan terdapat sekolah negeri favorit yang hanya memiliki satu siswa, menyebabkan kepala sekolahnya terpaksa menangis.
Lely mengkritik kurangnya kreativitas para guru dan kepala sekolah dalam menarik perhatian para wali murid untuk memilih sekolah negeri sebagai tempat pendidikan anak-anak mereka.
Ia menegaskan perlunya pendekatan yang lebih inovatif dan adaptif agar sekolah-sekolah negeri dapat kembali diminati oleh masyarakat dan memberikan kualitas pendidikan yang lebih baik.
Baca Juga: Minta Maaf ke Umat Katolik, Nena Jelaskan Pemberkatan Pernikahan Anjing Jojo dan Luna
"Kurangnya kreatifitas para guru dan Kepala Sekolah untuk menarik perhatian dari para wali murid" tekannya
Masalah kekurangan siswa ini menjadi sinyal penting bahwa sistem pendidikan di Ponorogo memerlukan perbaikan mendalam.
Dinas Pendidikan diharapkan untuk segera merespons kritik ini dan melakukan langkah-langkah konkret guna memperbaiki kualitas pendidikan, memperkaya kurikulum, dan meningkatkan daya tarik sekolah-sekolah negeri sehingga orang tua kembali merasa yakin untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sana.