ponorogo

Kebijakan Baju Tradisional di SD Ponorogo: Kontroversi Muncul

Ponorogo Suara.Com
Senin, 21 Agustus 2023 | 12:48 WIB
Kebijakan Baju Tradisional di SD Ponorogo: Kontroversi Muncul
postingan media sosial (tangkapan layar)

SUARA PONOROGO - kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Ponorogo, Jawa Timur, menginstruksikan seluruh pelajar di tingkat sekolah dasar untuk menggunakan baju tradisional dari tanggal 21 hingga 24 agustus 2023, tengah menjadi sorotan di kalangan wali murid di daerah ini. 

Meskipun bertujuan untuk memupuk rasa cinta akan budaya dan tradisi lokal, namun langkah ini menjadi kontroversi saat surat edaran diinformasikan secara mendadak oleh dinas terkait kepada wali murid.

Salah satu unggahan akun instagram @ponorogo.update yang membahas penggunaan busana tradisional untuk seluruh siswa Sekolah Dasar pada 21 Agustus langsung menjadi viral dan menarik perhatian dari warganet.

SURAT EDARAN DIKNAS PONOROGO [tangkapan layar]
SURAT EDARAN DIKNAS PONOROGO (sumber: tangkapan layar)

Admin akun tersebut menjelaskan bahwa sementara tujuan kebijakan ini adalah baik, yakni memastikan agar anak-anak tidak melupakan adat dan pakaian tradisional khas Ponorogo, namun informasi yang mendadak menjadi titik permasalahan. 

Dalam unggahan tersebut, admin juga memberikan pandangannya tentang kebijakan tersebut dengan mengutip, "Kasian juga jika anak SD gak punya pakaian adat khas Ponorogo pasti minder. Semoga kedepannya gak mendadak memberikan informasi."

Beragam reaksi muncul di bawah unggahan tersebut. Pengguna media sosial @risky_dwi mempertanyakan kondisi ekonomi wali murid yang tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan pakaian adat mendadak.

Ia menyampaikan, "Klo edarannya ndadak mending untuk guru atau ASN nya dulu yg nota bene pasti ada. Kalo buat anak-anak sulit juga ya karen gak semua wali murid itu berkecukupan ekonominya, mungkin juga jauh jaraknya klo harus beli dulu."

Pendapat serupa juga muncul dari akun @dimas_ariyanto_zulfikar yang mengapresiasi ide di balik kebijakan ini, namun menyoroti perlunya regulasi yang lebih terencana. Dia menulis, 

"Bagus konsepnya, hanya saja regulasinya sedikit mendadak, mungkin alangkah baiknya kedepan bisa diterapkan sepekan sekali atau dua kali pemakaian 'Nguri-nguri budaya', jgn hanya dipakai waktu kegiatan tertentu. Perlu dikaji ulang khususnya dari dinas terkait."

Baca Juga: 4 Drama Korea yang Angkat Tema Korupsi, Sarat Akan Intrik dan Isu Politik!

Kontroversi ini menunjukkan betapa pentingnya keseimbangan antara memelihara tradisi dan mempertimbangkan situasi ekonomi serta kesiapan wali murid dalam menjalankan kebijakan tersebut. 

Sembari perdebatan ini terus bergulir, para pemangku kebijakan diharapkan akan mengambil langkah-langkah yang lebih bijak untuk menjaga identitas budaya tanpa memberatkan masyarakat.
 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI