PURWASUKA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan mengingaktakn masyarakat Indonesia untuk waspada dampak fenomena La Nina yang mengkibatkan meningkatkan suhu usi Libur Lebaran 2023.
Peringatan mengenai dampak fenomena La Nina ini Luhut Binsar Pandjaitan ungkapkan lewat instagram resminya @luhut.pandjaitan pada 26 April 2023 kemarin.
"Hari pertama pasca libur Idulfitri, ada satu hal yang penting untuk saya koordinasikan setelah mendapatkan banyak pertanyaan sekaligus merasakan langsung mengapa akhir-akhir ini suhu di beberapa daerah terasa begitu tinggi." tulis Luhut Binsar dinukil pada 27 April 2023.
Dalam unggahan yang sama, Luhut juga memaparkan bahwa fenomena La Nina ini telah terjadi selama tiga tahun berturut-turut.
"Sekjen Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan bahwa fenomena La Nina yang telah terjadi selama tiga tahun berturut-turut dan membawa cuaca lebih basah akhirnya telah berakhir, Sebagai gantinya El Nino akan membawa suhu menjadi tinggi sehingga membuat cuaca menjadi lebih kering." tulisnya.
Berdasarkan data Luhut juga mengungkap bahwa, suhu laut juga telah mencapai rekor tertingginya setelah terakhir terjadi pada tahun 2016 yang lalu.
"Belum lagi gelombang panas yang mendorong rekor suhu tertinggi di Asia akhir-akhir ini. Dari pemodelan cuaca yang kami dapatkan El Nino di prediksi akan terjadi pada Agustus 2023 meski ketidakpastian tingkat keparahan El Nino masih sangat tinggi." sambungnya.
Belajar dari pengalaman tahun 2015 lalu yang terjadi di Indonesia, Luhut mewaspadi dampak dari El Nino berpotensi menyebabkan kekeringan yang luas dan juga kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah.
"Hal ini tentunya berkorelasi terhadap turunnya produksi pertanian dan pertambangan berdasarkan data IMF."
Baca Juga: Peneliti BRIN Pangeran Hasanudin Minta Maaf, Ternyata Punya Riwayat Autis
"Belum lagi dampak luas terhadap inflasi Indonesia dikarenakan besarnya kontribusi inflasi pangan terhadap inflasi keseluruhan. Hal ini terjadi karena diperkirakan 41% lahan padi mengalami kekeringan ekstrim di tahun tersebut."
Data World Food Programme bahkan menyebut bahwa 3 dari 5 rumah tangga kehilangan pendapatan akibat kekeringan, dan 1 dari 5 rumah tangga harus mengurangi pengeluaran untuk makanan akibat kekeringan.
"Untuk itu, kami akan bersiap dalam kondisi yang paling ekstrem sekalipun. Saya meminta seluruh K/L terkait juga Pemerintah Daerah untuk mulai bersiap sejak dini, memperhitungkan segala langkah yang mesti ditempuh agar pengalaman buruk delapan tahun lalu tidak terulang kembali. Setidaknya sejak saat ini kami menyiapkan teknologi modifikasi cuaca sebagai senjata menghadapi El Nino."
Atas hal tersebut, Luhut mengingatkan masyarakan di Indonesia untuk waspada dan saling menjaga di masa masa sulit seperti ini sehingga kerugian yang terjadi akibat peralihan cuaca bisa kita reduksi bersama demi kemaslahatan masyarakat Indonesia seluruhnya.***