PURWOKERTO.SUARA.COM, SOLO-Istilah piring terbang populer bagi masyarakat Solo. Tentu piring terbang yang dimaksud bukan kendaraan makhluk luar angkasa (alien) seperti dalam film.
Piring terbang adalah cara penyajian hidangan di acara pernikahan selain prasmanan. Dilansir dari portal resmi Pemprov Surakarta, menurut sejarawan Solo KRMT L Nuky Mahendranata, tradisi piring terbang ini sudah ada sejak tahun 1980-an.
Dimana pada masa itu jasa penyedia katering sedang berkembang pesat. Cara penyajian ini diterapkan untuk menghormati tamu. Sehingga mereka tak perlu repot mengambil sendiri makanan yang disediakan.
Lalu apa perbedaanya dengan prasmanan?
Jika di dalam prasmanan, tamu bisa mengambil sendiri hidangan di pesta pernikahan, lain halnya dengan piring terbang.
Pramusaji datang mengantarkan hidangan kepada tamu. Biasanya piring berisi makanan ditata hingga bertumpuk di atas nampan.
Hidangan dalam piring diantarkan dan dibagikan ke setiap tamu, sehingga piringnya seperti “terbang”. Tamu tinggal duduk manis menunggu makanan datang dari pramusaji.
Hidangan biasanya diawali dengan minuman manis seperti teh hangat yang telah disiapkan di atas meja.
Di samping teh, juga telah disiapkan snack seperti bolu/prol tape, risol/kroket dan kacang goreng.
Setelah jeda kurang lebih 5 menit, para tamu kemudian akan diberikan hidangan sup/selat solo. Setelah sup/selat solo, menu yang diantar selanjutnya adalah hidangan utama berupa nasi, dengan lauk pauk yang lengkap seperti sambal goreng, cap cay, acar kuning dan kerupuk.
Minuman es dipilih sebagai menu terakhir untuk dijadikan hidangan penutup. Hidangan penutup ini biasanya berupa es buah, es puter atau es krim. Setelah es dihidangkan ini menandakan bahwa acara akan segera berakhir.
Meskipun piring terbang melekat dengan Solo, tapi sebenarnya budaya ini tidak berasal dari Solo.
Piring terbang justru muncul dan berkembang jauh dari pusat kota Mataram pada masa itu. Tradisi piring terbang ini diduga pertama kali muncul dan mulai berkembang dari daerah sekeliling Solo, seperti wilayah Wonosari, Klaten, hingga Wonogiri.
Tanpa disadari tradisi piring terbang ini telah mendominasi konsep pernikahan di Kota Solo. Banyak warga memilih piring ini terbang dengan alasan tradisi. Ini lah yang membuat tradisi piring terbang ini masih eksis hingga sekarang.