PURWOKERTO.SUARA.COM, Sebagian umat Islam, di Indonesia khususnya masih suka memerdebatkan hukum bersalaman atau wiridan setelah salat. Bahkan mungkin ada yang menganggap salaman setelah salat jamaah bid’ah karena tidak ada dalil yang mendasarinya.
KH. Bahaudin Nursalim atau Gus Baha menjelaskan perkara ini. Umat tentu sulit ketika diminta menjelaskan hadits tentang salaman (mushofahah) setelah menjalankan salat berjamaah.
Karenanya, jika ada yang bertanya demikian, bisa dijawab tanpa harus menggunakan dalil, namun dengan jawaban sedikit nakal (cangkem elek).
“Ïtu dijawab haditsnya kita tentu akan kesulitan. Kalaupun ada, dhoif. AKhirnya jawab pakai cangkem elek,”katanya
Jika ditanya demikian, umat bisa balik bertanya, bolehkah menyalakan HP yang sempat off setelah salat? Pasti dijawab boleh. Lalu tanyakan lagi, boleh tidak ke kamar mandi setelah salat? Dijawab lagi pastinya, boleh.
Oh, berarti kencing setelah salat boleh, menyalakan HP boleh, yang tidak boleh ingat Allah. Karena kelompok itu mengkritik umat salaman dan wiridan untuk mengingat Allah setelah salat.
Padahal, tidak ada hadits juga yang menyinggung soal menyalakan HP atau ke kamar mandi setelah salat. Namun mereka tidak memermasalahkannya.
Mendapat penjelasan itu, orang yang melarang salaman itu pastinya akan memikirkan ulang pendapatnya. Namun giliran ada umat Islam mentradisikan wiridan dan salaman, mereka menentang.
Kelompok anti salaman akhirnya diberitahu, ia menjadi korban aliran supaya tidak ingat Allah, sehingga ketika ada umat mencoba mengingat Allah setelah salat dengan wiridan dikritik, namun giliran menyalakan HP diperbolehkan.
Baca Juga: Laptop Mulai Lemot? Hapus Cache, Cookie, dan Riwayat Browser Agar Lancar