Meski pada saat didirikan, benteng ini sempat diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) dari nama salah seorang Jenderal Belanda Frans David Cochius (1787-1876) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen yang kala itu merupakan ibu kota wilayah karesidenan Kedu.
Van der Wijck menggantikan nama benteng itu lantaran kemampuannya memimpin dan memenangkan berbagai peperangan di Indonesia. Benteng Van der Wicjk merupakan barak militer yang awalnya digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro.
Mengingat kehebatan beliau yang juga didukung pemimpin-pemimpin lokal di selatan Jawa harus membuat Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu pembangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasainya.
Tujuannya pembangunan itu sangat jelas, yakni untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karesidenan Kedu Selatan.
Meski demikian, ada sejumlah ahli yang yakin kalau benteng itu bukan merupakan benteng pertahanan, melainkan sebagai benteng logistik dan Puppilen School atau sekolah calon militer.
Hingga saat ini Benteng Van Der Wijck masih utuh dan jadi jujukan wisata sejarah di Kebumen. So, ketika kalian sempat mengunjungi wilayah pesisir selatan ini bisa dicoba untuk menengok sisa kolonial yang tetap utuh tersimpan.*(ANIK AS)