“Meskipun tahun ini masih diadakan secara virtual, namun saya berharap, konferensi ini memberi kita kesempatan besar untuk bertukar ilmu pengetahuan, serta membangun jaringan menjadi komunitas yang kuat dari persekutuan intelektual dan professional,” sebutnya.
ICSAB tahun ini menghadirkan 5 orang pembicara kunci (keynote speakers) dan 174 makalah yang masuk. Untuk 5 orang pembicara kunci yakni, Prof. Hiroki Oue, The Dean of United Graduate School of Agricultural Science, Ehime University, Japan; Assoc. Prof. Ts. Dr Shamsiah Abdullah Faculty of Plantation and Agrotechnology, UiTM Malaysia; Patpent Penjumras, PhD, Maejo University, Thailand; Dr. Wida Susanty Haji Suhaili, Universiti Teknologi Brunei, Brunei Darussalam; Suha Gaafar B. Elsoragaby, Ph.D, University of Khartoum, Sudan; dan Dr. Renny Eka Putri, Faculty of Agricultural Technology Andalas University, Indonesia.
Salah seorang Keynote Speaker dalam ICSAB 2022, Prof. Hiroki Oue dari Ehime University Japan, mengemukakan pembahasan tentang Perbandingan dalam Konduktansi Stomata dan Laju Transportasi Elektron dari Empat Kultivar Beras Jepang. Dikatakannya, kondisi iklim global dengan cuaca yang tidak menentu, dan dipengaruhi oleh suhu udara yang tinggi, produksi dan kualitas beras telah dilaporkan menurun.
Menurutnya, memilih panas kultivar toleran merupakan salah satu penanggulangan masalah ini. “Sebagai pendekatan mekanisme toleransi panas beras, sifat konduktansi stomata (gs) dan laju transpor elektron (ETR) dibandingkan antara empat kultivar; Koshihikari (KH), Nikomaru (NM), Hinohikari (HH)
dan Himenorin (HR) kultivar baru yang dikembangkan di Prefektur Ehime,” terang Hiroki.
Pembicara kunci lainnya, Renny Eka Putri memaparkan hasil penelitiannya dengan judul ‘Pertanian Presisi: Jalan Ke Depan di Mekanisasi Pertanian. Dijelaskan Renny, salah satu cara untuk mencapai target produksi tanaman adalah dengan meningkatkan hasil rata-rata tahunan melalui penggunaan varietas unggul, adaptasi teknik pertanian presisi, tepat pengelolaan tanaman selama masa tanam, dan penanganan tanaman yang tepat untuk mengurangi kehilangan gabah sebelum dan sesudah panen.
Menurutnya, mekanisasi dan teknik pertanian presisi selalu diprioritaskan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan pemanfaatan input
efisiensi produksi pertanian.
“Kapasitas lapangan mesin pertanian untuk tanaman budidaya biasanya jauh lebih tinggi daripada tenaga kerja manual. Misalnya kapasitas pengolahan tanah
dengan traktor tangan yang memiliki kapasitas mesin 3,7 kW adalah sekitar 1,5 kali kapasitasnya hewan sementara, kapasitas perontokan untuk pemanen listrik (5,3 kW) kira-kira 6 kali lipat kapasitas membanting,” bebernya.
Dengan demikian, sambung Renny, penggunaan mesin pertanian dapat dilakukan secara signifikan meningkatkan kapasitas untuk berbagai operasi pertanian.
“Banyak upaya penelitian di sekitar dunia telah menunjukkan bahwa pertanian presisi memiliki potensi untuk meningkatkan keuntungan dalam suatu
ekosistem pertanian. Pertanian presisi mengelola setiap input produksi (misalnya pupuk, air, batu gamping, herbisida, insektisida, dan benih) di lokasi tertentu untuk mengurangi limbah, meningkatkan keuntungan dan menjaga kualitas lingkungan,” ungkap Kepala Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB) Fateta Unand ini.
Pembicara kunci lainnya yang berasal dari University Of Khartoun, Suda, Suha Gaafar memaparkan hasil risetnya soal ‘Kinerja Lapangan, Penggunaan Energi, dan Gas Emisi Rumah Kaca dari Operasi Tillage Pada Produksi Beras.
Dia mengatakan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai operasi pengolahan tanah di sawah lahan basah melalui kinerja, distribusi waktu lapangan, distribusi pengeluaran energi, dan gas emisi rumah kaca.
Metode riset dilakukan berdasarkan lintasan pengolahan tanah yang berbeda. “Itu
hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kapasitas lapangan efektif dan teoritis, efisiensi lapangan, jam tenaga kerja, konsumsi bahan bakar, dan kecepatan operasi,” imbuhnya.
Hasilnya menunjukkan bahwa 80,7% dari total waktu yang dihabiskan untuk operasi olah tanah aktual sementara 17% dan 2,3% dari total waktu operasi
dihabiskan untuk memutar dan membalikkan, masing-masing.
“Hasil juga menunjukkan yang tertinggi kontribusi terhadap pengeluaran energi adalah energi bahan bakar yang mewakili 90,99% dari total energi. Itu
perkiraan energi manusia dari metode konvensional berbasis waktu berbeda secara signifikan dari energi manusia yang diperoleh melalui pengukuran langsung dengan Garmin,” tandasnya.