Alshad Ahmad menuai kontroversi usai mengabarkan anak harimau peliharaannya mati. Mengejutkannya, masalah ini sudah terjadi beberapa kali, ia mengaku sudah ada 7 anak harimau yang mati dibawah pengawasannya.
"Jikalau boleh bertanya, dr awal mulai memelihara harimau, sudah berapa ekor yang mati dibawah pengawasan bro alshad?" tanya musisi @tuantigabelas. "7 semua hasil breeding sendiri dari 1 indukan," balas Alshad.
Jawaban Alshad ini sontak menuai sorotan tajam dari publik. Ia kini disalahkan atas meninggalnya 7 anak harimau peliharaannya itu.
"Yang kayak gini masih dapat izin? BKSDA mana?" kata netizen. "Udah mati 7? Wow ini gak belajar dari kesalahan apa gimana sih, miris," balas yang lain.
Rupanya, kematian 7 harimau Alshad Ahmad ini sudah menjadi perhatian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) KLHK, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, mengungkap jika timnya akan menyelidiki masalah ini.
"Ada izin untuk penangkaran itu. Tim sedang teliti untuk kasus ini. Yang jelas harimau milik Alhsad ini adalah jenis Benggala bukan harimau Sumatera yang dilindungi," terang Satyawan.
"Kami akan turunkan tim untuk lakukan BAP. Ini harimau benggala (eksotik/bukan satwa asli Indonesia) sehingga statusnya tidak dilindungi UU," imbuhnya.
Satyawan juga menambahkan pihak KLHK selalu melakukan pengawasan terkait hewan liar yang dipelihara oleh masyarakat. "Kami melakukan assessment dan audit, serta pengawasan sesuai yakni Permen 19 tahun 2005," pungkasnya.