SUARA SEMARANG -- Kronologi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang yang dibeberkan oleh salah satu pendukung atau suporter Arema FC, ramai di media sosial.
Dalam akun twitternya LIBRA_12 @RezqiWahyu_05 ini menceritakan kronologi insiden yang terjadi di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022).
Mulai dari awal masuk stadion. Kondisi pemain sedang pemanasan, semua berjalan aman dan tertib.
Pukul 20.00, kick off dimulai dan pertandingan berjalan aman, tanpa kericuhan sedikitpun, hanya suporter Arema saling melontarkan psywar ke arah pemain persebaya.
Babak pertama selesai, dan saat jeda istirahat, ada sekitar 2-3 kali kericuhan sedikit di tribun 12-13, yang bisa segera diamankan oleh pihak berwenang.
Babak ke-2 berlanjut dan tim Persebaya berhasil mencetak gol yang ke-3. Arema FC semakin tampil menyerang menggempur gawang Persebaya, tapi tidak ada gol yang tercipta.
Hingga peluit ahir dibunyikan arema tidak bisa menambah golnya, dan harus menerima kekalahan.
"Disinilah awal mula tragedi dimulai...,"tulisnya.
![thread twitter kronologi tragedi Kanjuruhan oleh salah seorang suporter Arema FC [twitter / @RezqiWahyu-05]](https://media.suara.com/suara-partners/semarang/thumbs/1200x675/2022/10/02/1-thread-twitter-kronologi-tragedi-kanjuruhan-oleh-salah-seorang-suporter-arema-fc.jpg)
Setelah peluit dibunyikan, para pemain arema tertunduk lesu dan kecewa. Pelatih Arema dan manager tim mendekati tribun timur dan menunjukkan gestur minta maaf ke supporter.
Disisi lain, ada 1 orang supporter dari arah Tribun Selatan nekat masuk dan mendekati Sergio Silva dan Maringa. Terlihat sedang memberikan motivasi dan kritik kepada mereka.
Kemudian ada lagi beberapa oknum yang ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya kepada pemain Arema, terlihat John Alfarizie mencoba memberi pengertian kepadan oknum-oknum tersebut.
Namun, semakin banyak mereka berdatangan, semakin ricuh kondisi stadion karena dari berbagai sisi stadion juga ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya ke pemain.
Diikuti dengan lempar-lempar berbagai macam benda ke arah lapangan, dan para suppoter yang semakin tidak terkendali. Ahirnya pemain digiring masuk kedalam ruang ganti dengan kawalan pihak berwajib.
Setelah pemain masuk, supporter makin tidak terkendali dan semakin banyak yang masuk ke lapangan. Pihak aparat juga melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para supporter, yang menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis, dipentung dengan tongkat panjang, 1 supporter di keroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya.
Tapi saat aparat memukul mundur supporter di sisi selatan, supporter dari sisi utara yang menyerang ke arah aparat.
Karena semakin banyaknya supporter yang masuk ke lapangan dan kondisi sudah tidak kondusif, aparat menembakkan beberapa kali gas air mata ke arah suppoter yang ada di lapangan.
Silih berganti supporter menyerang aparat dari sisi selatan dan utara. Akhirnya, selain hujan lemparan benda dari sisi tribun, di dalam lapangan juga terjadi aksi tembak-an gas air mata ke arah supporter.
Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakkan ke arah supporter, di setiap sudut lapangan telah dikelilingi gas air mata. Ada juga yang langsung ditembakkan ke arah tribun penonton, yaitu di tribun 10.
Para supporter yang panik karena gas air mata, semakin ricuh diatas tribun, mereka berlarian mencari pintu keluar, tapi sayang pintu keluar sudah penuh sesak karena para supporter panik terkena gas air mata.
Banyak ibu-ibu, wanita, orang tua dan anak anak kecil yang terlihat, ikut berjubel untuk keluar dari stadion. Terlihat mereka sesak karena terkena gas air mata.
Seluruh pintu keluar penuh dan terjadi macet.
Di dalam stadion mereka sesak karena gas air mata yang sudah ditembakkan ke berbagai arah. Sedangkan untuk keluar stadion pun tak bisa karena macet di pintu keluar. Diluar stadion banyak yang terkapar dan pingsan karena efek terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata.
Sekitar pukul 22.30 juga masih banyak insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat, dan pengeroyokan supporter terhadap aparat yang dianggap mengurung supporter di dalam stadion dengan puluhan gas air mata.
Kondisi luar Stadion Kanjuruhan sudah sangat mencekam. Banyak supporter yang lemas bergelimpangan, teriakan dan tangisan wanita, supporter yang berlumuran darah, mobil hancur, kata-kata makian dan amarah, batu batako, besi dan bambu berterbangan.
Pemilik akun ini mengaku, selama jadi supporter, sejak dikenalkan mulai tahun 2007, Sabtu lalu merupan titik terendahnya menjadi seorang suporter.
"Saya masih belum percaya menyaksikan saudara-saudara saya dengan kondisi seperti ini. Saya sangat terpukul dengan adanya insiden ini. Semoga kejadian ini adalah yang terahir di semua cabang olahraga & hiburan, khususnya di sepak bola,"katanya.
Hingga artikel ini ditulis, thread di twitter ini sudah dikomentari ribuan orang dan di retweet lebih dari 28 ribu kali.