semarang

Teks Naskah khutbah Jumat Akhir Tahun 2022 menyambut Awal Tahun 2023 dengan Tema Resolusi Dalam Kehidupan

Semarang Suara.Com
Rabu, 28 Desember 2022 | 09:22 WIB
Teks Naskah khutbah Jumat Akhir Tahun 2022 menyambut Awal Tahun 2023 dengan Tema Resolusi Dalam Kehidupan
naskah teks khutbah Jumat yang akan membahas tentang Resolusi dalam kehidupan. sangat cocok untuk dijadikan referensi khutbah Jumat di penghujung akhir tahun 2022 untuk menyambut awal tahun 2023. (pixabay)

SEMARANG SUARA- Pada artikel berikut ini kami akan menyajikan naskah teks khutbah Jumat yang akan membahas tentang Resolusi dalam kehidupan. Ssangat cocok untuk dijadikan referensi khutbah Jumat di penghujung akhir tahun 2022 untuk menyambut awal tahun 2023.

Naskah teks khutbah Jumat yang ada pada artikel ini hanya sebagai referensi atau contoh untuk para khotib yng akan berkhutbah pada hari Jumat terakhir di bulan Desember 2022.

Dilansir dari laman bersama dakwah, berikut ini adalah sajian teks naskah khutbah Jumat singkat yang bisa digunakan pada hari Jumat terakhir di bulan Desember akhir tahun 2022 untuk untuk menyambut tahun baru 2023.

Resolusi dalam kehidupan

Khutbah Pertama

. . .

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,
Waktu berjalan demikian cepat. Seakan tak terasa ketika detik berganti, menit berlalu, jam demi jam kita lewati. Maka hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan kini tahun pun berganti. Kalender miladiyah 2022 kita lewati dan tahun 2023 kita masuki.

Pergantian tahun seperti ini umumnya menjadi momen evaluasi. Di instansi pemerintah maupun perusahaan swasta, ada laporan tahunan. Ada target baru di tahun mendatang. Ada resolusi.

Sesungguhnya, muhasabah atau evaluasi bagi seorang muslim tak perlu menunggu pergantian tahun. Demikian pula resolusi.

Baca Juga: Viral Penumpang Mobil Mewah Pukul Petugas SPBU Gara-gara Ngotot Beli BBM Subsidi

Pentingnya Muhasabah
Jamaah Jum’at a’zzakumullah,
Muhasabah adalah keniscayaan bagi orang-orang yang beriman. Dalam berbagai kesempatan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18)

Melalui ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bermuhasabah. Waltandhur nafsum maa qoddamat lighad. Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia perbuat untuk hari esok.

Seluruh ulama mufassirin sepakat bahwa ghad pada ayat ini maksudnya adalah akhirat. Sehingga muhasabah kita yang paling utama adalah terkait dengan apa yang sudah kita lakukan untuk akhirat nanti. Apa yang kita persiapkan untuk hidup setelah mati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan, muslim yang cerdas adalah muslim yang paling sering melakukan muhasabah. Tentang apa yang akan ia siapkan menghadapi hidup setelah mati.

Orang yang cerdas adalah orang yang menyiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dalam hadits yang lain, seorang Anshar pernah bertanya kepada Rasulullah tentang mukmin yang paling cerdas, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak baik persiapannya menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah; hasan)

Maka, inilah resolusi yang lebih utama bagi kita. Lebih penting untuk menjadi agenda lebih dari seluruh target-target dunia. Apalagi ketika kita disadarkan dengan banyaknya kematian yang datang tiba-tiba selama pandemi dua tahun ini.

Tahun baru harus menjadi semangat baru. Lebih baik dari tahun yang lalu. Bukan soal pencapaian target-target duniawi, bertambahnya kekayaan, atau naiknya jabatan. Namun soal memperbaiki kataatan dan meningkatkan ketaqwaan. Sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah kematian.

Bahkan, momen pergantian tahun ini selayaknya menjadi momen muhasabah bagi kita. Jika selama ini kita demikian bergegas mengejar dunia tetapi lamban dan lalai dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian.

Berjalan Untuk Dunia, Berlari Mengejar Surga
Jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Marilah kita renungkan bagaimana pengarahan Al-Qur’an mengenai cita-cita dan bagaimana seharusnya semangat kita dalam mengejarnya. Agar kita mendudukkan tujuan sesuai hakikatnya dan bagaimana kecepatan langkah kita meraihnya.

Sering kali kita terbalik. Dalam mengejar rezeki, kita demikian bergegas. Namun saat shalat jamaah kita malas. Dalam mengejar dunia, kita berlari secepatnya. Namun betapa lambannya kita saat menghimpun bekal untuk menghadap-Nya.

Padahal ketika berbicara tentang upaya meraih rezeki di dunia, Allah menggunakan lafazh famsyuu () yang artinya berjalanlah.

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya … (QS. Al Mulk: 15)

Ketika berbicara tentang ibadah khususnya shalat, Allah menggunakan lafazh fas’au () yang artinya bersegeralah.

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al Jumu’ah: 9)

Makna fas’au ini bukan berarti kita melangkah tergesa-gesa ke masjid, tetapi maknanya adalah kita berangkat di awal waktu. Lebih pagi lebih baik, tetapi jangan sampai terlambat. Dan termasuk terlambat ketika khatib sudah naik mimbar sementara kita baru datang.

Berikutnya, ketika berbicara tentang ampunan, Allah menggunakan lafazh wasaari’uu () yang artinya bersegeralah. Bersegera dengan kecepatan yang lebih tinggi dari fas’au.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS. Ali Imran: 133)

Dan ketika berbicara tentang menuju Allah, Dia menggunakan lafazh fafirruu () yang menggambarkan kecepatan sekencang-kencangnya.

Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS. Adz Dzariyat: 50)

Ayat-ayat ini mengingatkan kita untuk memperbaiki diri. Jika selama ini kita mati-matian mengejar rezeki yang telah Dia tentukan hingga melalaikan mengejar cita-cita tertinggi untuk hidup setelah mati, mulai hari ini kita perbaiki. Kita harus lebih bersemangat dan bergegas dalam beribadah, meraih ridha dan ampunan-Nya. Jangan sampai alasan mencari tambahan penghasilan, kita terlambat shalat jamaah. Jangan sampai alasan mengejar jabatan, kita tidak sempat shalat sunnah.

Maka di tahun 2023, shalat kita harus lebih baik daripada sebelumnya. Jika pada tahun 2021 kita jarang berjamaah, upayakan di tahun 2023 kita lebih rajin berjamaah. Bahkan kalau bisa, lima waktu kita berjamaah di masjid.

Jika pada tahun 2022 kita belum banyak shalat sunnah, upayakan di tahun 2023 kita lebih banyak shalat sunnah. Mulai dari shalat sunnah rawatib, sholat tahajud, hingga shalat dhuha. Demikian pula kita perbaiki secara kualitas agar lebih khusyu’ shalat-shalat kita.

Apabila di tahun 2022 kita jarang membaca Al-Qur’an, upayakan di tahun 2023 kita rutin tilawah kalau bisa sebulan sekali khatam. Juga kita perbanyak sedekah dan tingkatkan kepedulian.

Apabila tahun lalu kita masih suka marah, kita perbaiki kesabaran kita. Baik di rumah maupun di tempat kerja. Kita perbaiki akhlak kita, lebih sayang kepada sesama manusia. Dan semoga peningkatan ibadah dan amal-amal kebaikan ini menjadi bekal kehidupan setelah kematian; mendapatkan ridha dan surga-Nya.

Khutbah Kedua

. .

Jamaah Jum’at hafidhakumullah,
Ketika menafsirkan Surat Al Hasyr ayat 18 ini, Ibnu Katsir mengingatkan sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab mengingatkan.

Hitung-hitunglah diri kalian sendiri sebelum kalian dihitung (di akhirat nanti).

Hidup di dunia ini singkat. Jangan terperdaya hingga lalai mempersiapkan bekal untuk hidup di akhirat. Sebab akhiratlah masa depan kita. Akhiratlah yang akan kekal selamanya.

Semoga pergantian tahun ini menjadi momentum bagi kita untuk muhasabah, menghasilkan resolusi untuk kehidupan setelah kematian. Bertambah semangat ibadah, meningkat ketaqwaan. Mendapatkan ridha Allah dan surga-Nya.

. .

. .

:

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI