SUARA SEMARANG - Gunung Purba Dataran Tinggi Dieng menyimpan banyak eksotisme pesona alam, sejarah peradaban, hingga mitos yang tersimpan di salah satu wilayah di Jawa Tengah itu
Salah satu tempat eksotisme pesona alam yang menakjubkan itu tak lain yakni sumur purba raksasa awal terbentuknya Dataran Tinggi Dieng oleh letusan dahsyat di masa silam di Jawa Tengah itu.
Ya, Jawa Tengah punya salah satu wisata luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya ada di Kawasan Gunung Purba Dataran Tinggi Dieng, bernama Sumur Jalatunda dengan ukuran yang luar biasa.
Secara alamiah terbentuknya Sumur Jalatunda yang ada di Gunung Purba Kawasan Dataran Tinggi Dieng Jawa Tengah bukanlah danau, atau kawah gunung berapi pada umumnya di tengah gunung.
Keberadaan Sumur Jalatunda di kawasan Gunung Purba Dataran Tinggi Dieng disebut yang terbesar di Dunia.
Sumur Jalatunda memiliki diemeter 90 meter dan kedalaman yang diperkirakan lebih dari 100 meter.
Melansir laman Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Sumur Jalatunda berada di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Sumur Jalatunda merupakan wisata alam, yang berada di Kawasa Dataran Tinggi Dieng selain kawah Sikidang, Bukit Sikunir, dan lainnya.
Asal-usul Sumur Jalatunda
Baca Juga: Dikira Bukit Belaka, Tak Disangka Gunung Purba Raksasa di Jawa Tengah Ini Potensi Meletus Kapan Saja
Adapun asal-usul Sumur Jalatunda disebut kepundan Gunung Prahu Tua yang meletus bersamaan dengan terbentuknya Gunung Purba Kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Lebih jauh, ada sebuah mitos yang dipercaya masyarakat sekitar mengenai sumur Jalatunda sebagai salah satu wisata alam yang luar biasa tersebut.
Konon dalam kepercayaan masyarakat, Sumur Jalatunda merupakan salah satu pintu ghaib menuju penguasa laut selatan.
Ada yang percaya apabila, ada yang mampu melempar batu hingga ke sisi di seberang permukaan sumur, dipercaya permintaan orang tersebut akan terkabul.
Mitos tersebut disebutkan pula yang menjadi dasar pemberian nama pada sumur Jalatunda tersebut.
Arti nama Sumur Jalatunda yakni “Jala” berarti jaring, sementara “tunda” berarti yang belum terjadi atau terlaksana.