SUARA SEMARANG - Kondisi memprihatinkan terjadi pada embung Ringinarum di Kabupaten Kendal yang menyusut drastis di musim kemarau ini.
Embung Ringinarum yang dibangun dana APBD Pemprov Jawa Tengah tahun 2018 ini, selain air menyusut drastis juga kondisinya diduga tercemar.
Pengamatan di lapangan, Kamis 5 Oktober 2023, tampak dari kondisi air embung Ringinarum menyusut lebih dari separuh daya tampung serta berwarna merah dan banyak sampah plastik.
Tampak pula lahan-lahan petani di sekitar embung Ringinarum juga kering kerontang tak ada yang ditanam dan tanahnya retak-retak.
Tak pelak ,para petani yang biasa memanfaatkan air embung Ringinarum mulai was-was. Pasalnya, memasuki musim tanam padi para petani khawatir tidak ada lagi air untuk irigasi.
"Harusnya sudah musim tanam padi tapi ini belum tampak masuk hujan, air embung juga menyusut banyak," kata Misro, petani Ringinarum warga RT 7 RW 3.
![[Semarang.suara.com]](https://media.suara.com/suara-partners/semarang/thumbs/1200x675/2023/10/05/1-img-20231005-142836.jpg)
Misro menyebut, musim kemarau tahun ini adalah paling parah berdampak. Air embung sangat menyusut jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Kata dia, air embung Ringinarum mulai menyusut drastis sejak bulan April 2023. Air disitu juga menjadi andalan petani dalam pengairan, selain menyedot dari kanal kali Bodri.
Embung Ringinarum yang berkapasitas 30 ribu meter kubik ini, kekinian hanya bisa diambil airnya dengan cara disedot menggunakan mesin pompa dengan selang yang panjang sebab cerukan penyusutan cukup dalam.
"Itu pun hanya untuk lahan yang dekat dengan embung, jarak 100 meter tidak nyampe," katanya.
Ia mengaku, untuk menyiasati menyusut air embung Ringinarum, profesi petani ia ubah dengan menanam tembakau. Sebab hanya dibutuhkan sedikit air.
Meski demikian, ia kini dipusingkan dengan akan memasukinya musim tanam padi, sebab akan butuh air banyak.
"Tembakau kan cuman ambil di sungai sudah cukup, tapi kalau padi butuh banyak dan tiap pekan harus dialiri," katanya.
Butuh biaya ekstra jika dia memanfaatkan mesin pompa. Butuh sekitar Rp 50-100 ribu perpekan hingga mendekati panen.
"Tapi ini kapan musim tanam padi juga tidak menentu. Harusnya Oktober ini, tapi katanya akan molor sampai Januari tahun depan hujan turun," katanya.