SUARA SEMARANG - Banyak beredar di media dan media sosial (medsos) unggahan isi dari surat wasiat yang ditinggalkan korban bunuh diri. Tahukah kalian, bahwa itu bisa memicu tindakan copycat suicide.
Terlebih setelah fenomena bunuh diri yang sedang hangat dibicarakan oleh kalangan masyarakat luas baru-baru ini. Dengan kejadian mahasiswa di Kota Semarang mengakhiri hidupnya diduga bunuh diri menyertakan surat wasiat yang ditinggalkannya.
Lantas apakah hubungannya antara surat wasiat yang diunggah atau diupload di media atau medsos dengan copycat suicide, yang bisa memicu tindakan yang sama. Dalam hal ini tindakan bunuh diri.
Dari sisi mana pun, bunuh diri adalah tindakan yang tidak baik dan tidak dibenarkan. Hal ini akan meresahkan ketika terjadi beberapa kasus bunuh diri dalam waktu berdekatan dengan metode yang mirip.
Sebelumnya mari mengenal apa itu copycat suicide, yang pasti belum banyak orang mengenal istilah tersebut.
Copycat suicide dapat diartikan sebagai bunuh diri peniru. Istilah ini muncul terkait fenomena peniruan aksi bunuh diri yang dilakukan oleh orang lain.
Mengutip netsweeper, copycat suicide merupakan perilaku bunuh diri tiruan yang dilakukan setelah terpengaruh oleh tindakan bunuh diri lainnya.
Secara umum, orang disebut melakukan copycat suicide jika orang tersebut terprovokasi salah satunya terkait pemberitaan media soal metode bunuh diri yang digunakan.
Salah satu pemicu terjadi copycat suicide adalah informasi media. Kasus bunuh diri yang mendapatkan perhatian besar dari media kemungkinan besar berpeluang akan memicu kasus bunuh diri lainnya.
Hasil penelitian di Korea Selatan pada tahun 2005-2008 tentang setelah tujuh selebritas melakukan bunuh diri. Di mana salah satu korban adalah laki-laki yang menggunakan metode batu bara (charcoal) untuk bunuh diri, sisanya adalah wanita yang menggantung diri.
Penelitian menganalisis karakteristik pelaku bunuh diri dalam 28 hari setelah setiap kasus bunuh diri para selebritas tersebut. Hasilnya, terjadi peningkatan risiko relatif bunuh diri pada masing-masing periode tersebut sebesar 14,6% hingga 95,4%.
Laporan menunjukkan, pelaku bunuh diri adalah orang-orang dari populasi dengan jenis kelamin dan usia serupa dengan selebritas yang melakukan bunuh diri.
Metode yang digunakan untuk bunuh diri juga cenderung sama. Hal tersebut membuktikan bahwa fenomena copycat suicide memang benar adanya di lingkungan sekitar.
Masih dalam hasil penelitian itu, tentunya tanpa disengaja, media massa bisa memicu copycat suicide. Orang yang sedang rentan melakukan bunuh diri karena sedang menghadapi masalah tertentu tanpa sengaja pula mendapatkan ide pembunuhan kasus yang disiarkan atau diberitakan oleh media.
Pemberitaan di media online dan cetak dinilai punya efek copycat suicide lebih besar dibandingkan televisi. Pelaku bunuh diri bisa membaca berita kasus bunuh diri secara berulang-ulang dan mempelajari kasus tersebut.
Hal yang berisiko memicu terjadinya copycat suicide adalah pembahasan metode bunuh diri yang digunakan oleh pelaku bunuh diri.
Sementara itu, di Kota Semarang dalam dua hari ini terjadi kasus mahasiswa meninggal dunia diduga bunuh diri. Keduanya meninggalkan pesan yang disebut dalam pemberitaan adalah surat wasiat korban.
Kasus pertama seorang mahasiswi yang diduga bunuh diri dengan meloncat dari lantai 4 Paragon Mall Semarang pada Selasa 10 Oktober 2023. Ia meninggalkan surat wasiat di lokasi kejadian.
Kemudian, selang sehari pada Rabu 11 Oktober 2023, ditemukan mahasiswi meninggal dunia di dalam kamar kostnya. Di duga pula bunuh diri sebab meninggalkan pesan surat wasiat alasan bagaimana ia harus mengambil tindakan itu.
Surat wasiat korban pun beredar secara bebas di media dan medsos. Terlepas dari apa saja isi pesan surat wasiat tersebut, lepas pula dari perhatian seberapa kuat masyarakat mencerna isinya.
Seorang netizen pun akhirnya berani menyatakan bahwa surat wasiat yang bebas diunggah oleh media maupun medsos tanpa sengaja bisa jadi turut menyumbang perilaku copycat suicide.
"Mendiskripsikan peristiwanya dgn spesifik (spt caranya, tempatnya, dsb) bisa ngetrigger 'copycat suicide'. Peristiwa bunuh diri itu SANGAT BISA menular ke orang lain," tulis komentar akun @sepahitrobusta dalam thread Twitter @Jateng_Twit dari sebuah lampiran berita media yang mengunggah isi surat wasiat korban bunuh diri.
Dari fenomena surat wasiat itu, pelaku bisa dengan mudah akan menggampangkan cukup dengan isi surat wasiat maka tindaknnya akan dimaklumi. Lebih dari itu, jika isi pesan secara vulgar menyebut tentang cara, tempat, niatan bagaimana ia bunuh diri.
Di sisi lain, media massa sebenarnya punya kesempatan untuk mereduksi kasus copycat suicide agar tidak menular.
Salah satu cara adalah menyebarkan informasi soal penyebab bunuh diri, misalnya faktor kesehatan mental, dan cara mengatasi masalah tersebut.***
Catatan Redaksi:
Hidup seringkali sangat sulit dan membuat stres, tetapi kematian tidak pernah menjadi jawabannya. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan berkecederungan bunuh diri, sila hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah sakit terdekat.
Bisa juga Anda menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri melalui email [email protected] dan telepon di 021 9696 9293. Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan 24 jam.