semarang

Embung di Punggung Sindoro, tak Kering hingga Penghujung Musim

Semarang Suara.Com
Jum'at, 20 Oktober 2023 | 22:31 WIB
Embung di Punggung Sindoro, tak Kering hingga Penghujung Musim
Suasana senja di Embung Bansari, Desa Bansari, Kacematan Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kamis 19 Oktober 2023 (Suara Semarang/Diaz A Abidin)

"Program Gerakan Seribu Embung Pemprov Jateng ternyata tak hanya untuk pengairan pertania saja. Embung Bansari yang diresmikan Presiden Jokowi didampingi Ganjar Pranowo kini menjelma potensi wisata alam favorit di Kabupaten Temanggung"

SUARA SEMARANG – Udara tak begitu dingin, namun cukup segar dihirup hingga membuat paru-paru mengembang dalam satu kali tarikan nafas.

“Dekat mas 2 km lagi, masih bisa kalau buat berfoto,” kata Slamet, seorang petugas tiket di pos usai memberikan tiket masuk.

Sembari menaiki kendaraan roda dua, kabut tipis nan sejuk turun pelahan sekitar satu jam sebelum matahari jatuh di ujung cakrawala yang tertutup gagahnya Gunung Sindoro.

Sementara pohon-pohon cemara digelayuti kabut tipis menjulang di pematang-pematang kebun yang tertanam cabai, tembakau dan sayuran lain.

Kanan-kiri sejauh mata memandang, batang-batang tanaman tembakau di tanah terasering sudah terpangkas dan tertata di atas galengan, di waktu yang menuju penghujung musim kemarau ini.

Sebuah tanda, petani desa setempat baru saja menikmati hasil keringat usai masa panen tanaman tembakau.

Matahari sore kian bergerak turun ke arah belakang Gunung Sindoro yang melemparkan warna senja.

Di langit merasuk ke kornea mata, panorama warna lembayung menyebar ke langit dari balik gunung Sindoro yang berseberangan dengan Gunung Sumbing itu.

Baca Juga: Di Tangan 'Emak-emak', UMKM Ecoprint Masuk ke Kelas-Kelas

Sementara warna lembayung berpendar indah memantul dari permukaan air yang gemulai di Embung lereng Gunung Sindoro.

Begitulah gambaran dari Embung Bansari yang dibangun di ketinggian punggung Gunung Sindoro, Desa Bansari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Kamis, 19 Oktober 2023.

Embung Bansari yang berada di ketinggian punggun Gunung Sindoro itu jadi destinasi wisata favorit bari di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah [Suara Semarang/Diaz A Abidin]
Embung Bansari yang berada di ketinggian punggun Gunung Sindoro itu jadi destinasi wisata favorit bari di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (sumber: Suara Semarang/Diaz A Abidin)

Destinasi Wisata

Di kawasan embung itu, seorang kakek sedang mengajak dua cucunya berjalan-jalan, di sudut lain sekelompok remaja sudah mendirikan beberapa tenda untuk bermalam.

Luasnya kompleks Embung Bansari, membuat anak-anak kecil leluasa bermain dan bermain tentu dengan pengawasan sang kakek.

Momong putu (mengasuh cucu) mas ini,” kata dia.

Ya, kawasan Embung Bansari di Kabupaten Temanggung itu tak hanya menjadi wadah untuk menampung air bagi pertanian warga setempat.

Letaknya Embung Bansari berada di sisi Timur Laut Gunung Sindoro, sehingga akan membelakangi matahari saat waktu terbenamnya.

Momen ini cukup menjadi buruan meskipun sunset atau matahari tenggelam yang indah hanya tampak pantulan cahayanya saja.

Embung Bansari kini menjadi tren karena menjadi jujugan wisata bagi warga Jawa Tengah khususnya.

Populernya Embung Bansari cukup malang melintang diunggah di media sosial, hingga viral dan makin dikenal sejak diresmikan Presidan Jokowi didampingi Gubernur Ganjar Pranowo pada 2021.

Embung Bansari kini mendatangkan rupiah dan menggerakkan perekonomian di desa, di mana kini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Tirta Sembada.

Harga tiket masuk Rp 5 ribu, dan parkir kendaraan Rp 5 ribu jadi totalnya Rp 10 ribu.

Pengunjung boleh membawa tenda sendiri ketika ingin bermalam atau camping di Embung Bansari.

Bila tidak membawa peralatan camping, Bumdes Tirta Sembada menyediakan jasa persewaan yang bisa dipinjam.

“Kalau tenda kapasitas 3-4 Rp 50 ribu, kalau matras Rp 7 ribu, sleeping bag Rp 15 ribu,” ujar Slamet yang sedang bertugas hingga shift malam tersebut.

Slamet mengatakan, Embung Bansari makin lama makin ramai dikunjungi wisatawan sebagai salah satu potensi wisata di Kabupate Temanggung.

Seperti diketahui, sudah ada wisata serupa yakni Embung Kledung yang juga menjadi primadona wisata di Kabupaten Temanggung.

Selain itu Embung Manajar di lereng Gunung Merbabu, Selo, Kabupaten Boyolali yang juga menjelma jadi wisata.

“Kalau Sabtu itu pengunjung kadang bisa mencapai 150 orang, dan Ahad bisa 200-an lebih. Kalau harian itu pendapatan bisa Rp 500 ribu - 700 ribu-an ya sekitar 50 orang bisa datang,” ujar Slamet.

Menurut Slamet, wisatawan dalam bentuk rombongan di atas 25 orang juga bisa reservasi jauh-jauh hari.  

Deni, salah satu pemuda di Desa Bansari menjelaskan pemandangan akan bagus di Gunung Sindoro ketika bulan Juli-Agustus.

Langit lebih cerah di tangah musim kemarau, sehingga pemandangan bintang di langit akan memanjakan mata.

Sejumlah remaja mendirikan tenda di kompleks Embung Bansari yang telah menjadi lokasi wisata selain kegunaannya untuk penampungan air baku dan pertanian [Suara Semarang/Diaz A Abidin]
Sejumlah remaja mendirikan tenda di kompleks Embung Bansari yang telah menjadi lokasi wisata selain kegunaannya untuk penampungan air baku dan pertanian (sumber: Suara Semarang/Diaz A Abidin)

Embung Bansari tak Surut saat Kemarau

Embung Bansari pada musim kemarau ini terpantau tak surut, dan airnya masih bisa digunakan petani untuk menyiram tanaman.

Kompleks Embung Bansari seluas 1,5 hektar dibangun pada 2019 oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu-Opak di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Pembangunan selesai pada 2020 dan sudah berfungsi menyuplai air ke pertanian hingga menjadi destinasi wisata.

Embung Bansari memiliki kapasites volume tampungan 8558,00 M kubik, luas genangan 0,2500 Ha, elevasi mercu 3,50 m, dengan tipe embung tanggul tanah kedap Geomembran.

Adapun peresmiannya dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 14 Desember 2021.

Deni warga Bansari melanjutkan bila, dibangunnya Embung Bansari cukup membantu masyarakat sekitar untuk bertani seperti sayur-sayuran dan tembakau.

“Ya, cukup membantu. Warga sini mayoritas pertaniannya sayuran yang butuh air,” kata dia.

Deni menceritakan bila dahulu masyarakat mengandalkan air sumur untuk menyirami tanaman yang berada di lereng di sisi Timur Laut Gunung Sindoro itu.

Sementara letak desa berada di bagian yang lebih bawah dari Embung Bansari dan lading-ladang pertanian.

Memang banyak pula lading pertanian yang berada di bagia bawah desa itu.

“Dulu warga itu ambilnya air sumur terus ada yang dipikul menuju ke atas. Sekarang ada Embung sedikit-banyak cukup membantu,”katanya.

Untuk saat ini masyarakat baru saja panen tembakau, dan menunggu masa tanam selanjutnya untuk tanaman lain.

“Harga tembakau panen ini 1 kg rata-rata Rp 100 ribu. Ada juga yang kelas di bawahnya antara Rp 60-70 ribu,” ucap Deni.

Deni mengatakan masa tanam tembakau hanya satu kali dalam setahun, setelahnya akan diganti sayur-sayuran seperti cabai hingga kubis.

Saat ini petani menunggu musim penghujan untuk masa tanam selanjutnya usai menikmati cuan dari panen tembakau.

Embung 'Avocado Lake' di Kawasan Produksi Widuri Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, Selasa 10 Oktober 202e [Suara Semarang/Diaz A Abidin]
Embung 'Avocado Lake' di Kawasan Produksi Widuri Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, Selasa 10 Oktober 202e (sumber: Suara Semarang/Diaz A Abidin)

Kolaborasi Pemdes dan Masyarakat

Pentingnya embung juga dirasakan oleh di Kawasan Produksi Widuri di Dusun Wonokerto, Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.

Kawasan Produksi Widuri yang dimulai sejak 2019 merupakan penggerak konsep penataan sistem ekonomi dan sosial masyarakat berbasis kaidah produksi dan/dagang.

Widuri bergerak di bidang pengelolaan sampah, pertanian di antaranya tanaman buah dalam pot (tambulampot), peternakan seperti jangkrik/cacing, dan pemberdayaan masyarakat lainnya. 

Syarif Hidayat, salah satu pegawai di Widuri menjelaskan tambulampot yang mayoritas diisi tanaman buah alpukat, alpukat, dan mangga berada di atas lahan seluas kira-kira 2 hektar.

Butuh penyiraman setiap harinya supaya tanaman tidak kering apalagi di tengah musim panas yang mendera kali ini.

"Satu hari setidaknya sekali siram, ada kalau total 10.000 tanaman yang harus disiram. Kita bagi tugas beberapa orang," kata Syarif Hidayat saat ditemui di lokasi kebun, Selasa 10 Oktober 2023.

Jarak antara kawasan kebun produksi Widuri dan sungai cukup jauh berada beberapa kilometer di wilayah agak bawah perbukitan, sementara saluran irigasi kering.

Pada 2020, pihak pemerintah desa yang melihat potensi besar Widuri lantas saling bekerja sama membuatkan embung untuk memasok kebutuhan air tanaman.

Embung yang dinamai Avocado Lake itu dibuat secara mandiri oleh Widuri, di mana berdiri di tanah kas desa yang  didukung pemerintah desa setempat.

"Jadi embung itu (kalau musim kemarau seperti ini) airnya berasal dari sungai yang diambil dengan cara disedot ke atas (dalam embung)," kata Syarif, pria kelahiran Kabupaten Wonosobo itu.

Dengan adanya embung hasil kerja sama Widuri dan pemerintah desa, maka kebutuhan dasar tanaman akan air tercukupi.

Tanaman alpukat berbuah di Tambulampot Kawasan Produksi Widuri, harganya bisa mencapai kisaran Rp 2-3 juta bahkan lebih [Suara Semarang/Diaz A Abidin]
Tanaman alpukat berbuah di Tambulampot Kawasan Produksi Widuri, harganya bisa mencapai kisaran Rp 2-3 juta bahkan lebih (sumber: Suara Semarang/Diaz A Abidin)

Gerakan 1.000 Embung

Ya, Embung Bansari, Embung Manajar, hingga Embung Bancak, merupakan potret salah satu hasil dari kolaborasi bersama Gerakan Seribu Embung.

Gerakan ini digagas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat masih menjabat.

Program Seribu embung dimulai sejak 2015 di masa kepemimpinan Ganjar Pranowo - Taj yasin Maimoen (Gus Yasin) dan saat ini sudah finis tinggal mamaksimalkan pemanfaatannhya.

Pemprov Jateng sudah menyelesaikan sebanyak 1.135 embung selama delapan tahun terakhir ini, bahkan masih akan terus ditambah.

Ganjar Pranowo mengatakan keberadaaan embung besar manfaatnya untuk dirasakan masyarakat untuk menyuplai kebutuhan air pertanian.

Dia melihat, Jawa Tengah kerap dilanda bencana kekeringan saat musim kemarau, dan banjir saat musim hujan. 

Pembangunan embung akan bermanfaat di mana air yang ditampung bisa mengairi sawah saat musim kemarau, dan menyediakan sumber air baku untuk warga

Khusus pada saat musim penghujan, embung berfungsi sebagai penampung air dan pengendali banjir.

“Embung ini menjadi solusi persoalan kebutuhan irigasi dan air baku,” kata Ganjar Pranowo.

Ganjar Pranowo program Gerakan Seribu Embung digarap secara gropyokan atau kolaborasi bersama.

Anggaran yang digunakan untuk Gerakan Seribu Embung tersebut berasal dari APBN dan APBD Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 

Secara rinci, pembangunan embung yang didanai APBN dikerjakan oleh BBWS ada 141 unit, dan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah menyelesaikan 512 unit.

Kemudian pembangunan yang memakai dana APBD Jawa Tengah dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Dispusdataru) sebanyak 74 unit, Dinas Pertanian dan Perkebunan 4 unit, dan pemerintah kabupaten/kota 11 unit.

Jawa Tengah juga mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat untuk membangun 390 embung, dan hibah CSR perusahaan sebanyak 3 unit.

“Pembuatan embung tetap jalan terus sampai hari ini. Makanya kalau ada ruang-ruang sisa, maka kita manfaatkan,” tuturnya.

Melansir laman Pemprov Jateng, Kepala Dinas Pusdataru Provinsi Jateng Eko Yunianto menambahkan, pihaknya telah membangun 74 unit embung di 19 kabupaten/kota. 
Embung tersebut ditambah dengan 17 long storage milik Pusdataru  berkapasitas tampungan air mencapai 2,5 juta m3.
Untuk pemanfaatannya untuk irigasi 2.015 hektare lahan pertanian, dan sumber air baku untuk 27.912 kepala keluarga (KK).

Selain penggarapan embung, pihaknya juga menjelaskan terdapat 41 bendungan eksisting yang digarap. 

Eko menambahkan, saat ini tengah dibangun tiga bendungan baru, yakni Bendungan Jragung di Kabupaten Semarang, Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, dan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo.

“Ada pula empat bendungan yang sertifikasi operasionalnya masih berproses, yaitu Bandungan Logung di Kabupaten Kudus, Bendungan Gondang Kabupaten Karanganyar, Bendungan Pidekso Kabupaten Wonogiri, dan Bendungan Randugunting di Kabupaten Blora,” katanya.

Eko melanjutkan, bila bendungan dan embung yang dibangun tidak hanya dimanfaatkan airnya untuk irigasi dan sumber air baku untuk warga.
“Melainkan juga untuk menyuplai kebutuhan industri dan pariwisata,” kata dia.***

Kontributor: Diaz Azminatul Abidin

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI