SuaraSoreang.id-Kultur Indonesia mengenal dan mempercayai adanya ilmu kesaktian yang pernah eksis sejak zaman dulu.
Biasanya ilmu-ilmu kesaktian itu selalu diklasifikasikan dengan dua jenis aliran, yakni ilmu hitam dan ilmu putih.
Dalam kedua aliran ilmu itu terdapat ilmu yang serupa yang menarik untuk dibahas, yakni ilmu kekbalan alias ilmu kebal terhadap kematian yang dikenal dengan ilmu Pancasona dan ilmu Rawa Rontek.
Ilmu Pancasona dan Ilmu Rawa Rontek dipercaya memberikan kesaktian kepada si penggunanya akan sulit mati, dia akan menjadi hidup lagi walaupun badannya dipotong-potong, asalkan jasad si pengguna menyentuh tanah.
Jika pengguna ilmu ini ingin menerima ajal, salah satu syaratnya adalah kuburan penganut ilmu ini harus dikubur atau dimakam secara gantung, tidak menyentuh tanah.
Melansir kanal Youtube Bang Betz Illustration pada 25 Oktober 2022, berikut penjelasan dan informasi terkait ilmu Pancasona dan Rawa Rontek.
Bagi warga Blitar pada saat mendengar 2 kata makam gantung pasti sudah tidak asing lagi. Namun, bagi orang yang baru mendengarnya mungkin penasaran apa benar ada makam yang digantung?
Jika menyebut makam gantung maka orang biasanya langsung mengenal nama Patih Jojo Digjo, seorang patih yang berasal dari Kadipaten Blitar Jawa Timur yang sakti mandraguna.
Sang Patih dikenal sakti karena memiliki ilmu yang dikenal sebagai Pancasona. Atau, dia bisa hidup kembali apabila jasadnya menyentuh tanah. Sehingga, pada saat dia meninggal makamnya harus digantung supaya tidak menyentuh tanah.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Folk Horror sebagai Tontonan HALLOWEEN
Ilmu Pancasona disebut sebagai ilmu yang mampu melindungi diri dari senjata tajam. Secara bahasa, Panca memiliki arti 5 dan sona (zona) adalah tempat.
Pancasona diartikan sebagai ilmu yang didapat dari 5, yaitu langit, bumi, gunung, samudera dan surga.
Jika orang yang terkena senjata tajam, maka akan sembuh kembali tanpa bekas luka. Bila berputus, akan tersambung seperti semula.
Mneurut beberapa sumber, ilmu pancasona diawali dengan Bismillah. Disebut dengan ilmu putih atau aliran putih yang mana ritualnya pun terdiri dari puasa senin kamis selama 7 bulan. Setelahnya melakukan puasa 3 hari selanjutnya melakukan puasa sunnah 40 hari berturut-turut.
Dan pada hari ke 41, hari terakhir. Orang yang mengkaji ilmu tersebut tidak boleh tidur selama satu hari penuh selama 24 jam dalam keadaan suci dari hadas besar maupun hadas kecil.
Selama puasa pun, seusai shalat wajib diharuskan membaca ajian sebanyak 21 kali dan ada shalat hajat khusus dengan membaca ajian tersebut sebanyak 75 kali setelah shalat. Sebelum shalat hajat pun diwajibkan mandi besar dengan menggunakan air yang sudah diberi rapal sebanyak 21 kali.
Bahkan setelah selesai melakukan puasa secara keseluruhan, masih ada yang harus dilakukan sebagai rutinitas sehari-hari yang harus dibaca setiap 3 kali sesudah shalat wajib.
Patih Jojo Digdo sebelum diangkat menjadi Patih dikenal sebagai sosok yang suka melakukan lelakon dan suka berpuasa. Hingga memiliki berbagai ilmu kanuragan dan kesaktian yang mampu ia kuasai.
Diketahui, Jojo Digdo ini diwariskan ilmunya oleh gurunya yang sudah wafat. Bahkan, gurunya dikatakan bukan berasal dari manusia saja melainkan datang dari bangsa lelembut atau bangsa jin.
Jojo Digdo adalah sahabat sekaligus pengikut pangeran di Ponegoro. Ia memiliki keturunan darah biru atau trah ningrat dari kerajaan Mataram. Karena ia adalah putra dari Adipati Kulon Progo.
Kesaktian gurunya ini juga teruji pada saat peperangan antar Belanda melawan Pangeran di Ponegoro. Jojo Digdo yang dulu masih berusia 30 tahun dan ikut melakukan perlawanan dan ikut melakukan perang Gerilya meskipun pada saat itu Pangeran Diponegoro sudah ditangkap dan diasingkan.
Jojo Digdo ditakuti oleh Belanda karena kesaktian pancasonanya yang sudah ia kuasai. Ia juga beberapa kali hidup kembali setelah usai dieksekusi oleh Belanda.
Berkat kesaktiannya, ia terkenal. Hingga Adipati Blitar memberinya gelar Patih dan hadiah sebidang tanah di jalan Melati di Kota Blitar yang ia buat membangun rumah besar bersama keluarganya yang ia namai Pesanggrahan Jojo Digdo.
Hingga saat ini, rumah itu masih berdiri kokoh.
Jojo Digdo yang dikenal memiliki ilmu pancasona pun akhirnya wafat pada tahun 1909 di usia 82 tahun dengan masih memiliki ilmu pancasona.
Diketahui, orang yang memiliki ilmu ini bisa menjadi orang yang kekal bahkan bertahan hidup sampai kiamat selama ia masih menginjak tanah.
Seseorang yang memiliki ilmu pancasona agar wafat tubuhnya harus dipisah menyeberangi sungai dan digantung tidak menyentuh tanah. Jika jasadnya menyentuh tanah, maka potongan yang terputus akan bersatu dan hidup kembali.
Eyang Jojo Digdo diketahui pernah meninggal 3 kali sehari. Menurut Lasiman Juuru kunci makan di lokasi makam gantung mengatakan bahwa pada saat dikuburkan tubuhnya menyentuh tanah, ia bangkit dan hidup kembali.
Supaya Jojo Digdo tidak hidup lagi, jasadnya dimasukan kedalam peti besi dengan patiyang dengan tinggi 50cm. Dengan 4 pati yang digunakan sebagai penyimpanan pusaka dan baju perang milik sang patih. Maka dari itulah sejarah disebutnya makam gantung.
Jika ada ilmu putih, maka pasti ada ilmu hitam atau yang disebut dengan Rawa Rontek yang berarti kepala putus.
Orang yang dipercaya memiliki ilmu Rawa Rontek tidak dapat dibunuh dengan senjata tajam, senjata api, racun bahkan sihir. Melainkan hanya bisa mati karena sakit.
Ilmu Rawa Rontek sangat jarang bisa dikuasai dan mantranya saja hanya sedikit yang tahu.
Ilmu Rawa Rontek menjadi ilmu yang sangat populer dan legendaris karena dimiliki oleh Si Pitung, dengan menguasai ilmu ini Pitung bisa menyerap ilmu dari lawan-lawannya.
Siapa saja yang memiliki ilmu Rawa Rontek dikatakan tidak boleh menikah sampai akhir hayatnya.
Hal itu terbukti ketika pada usia 40 tahun Pitung mati ia masih bujangan.
Beda dengan Ilmu Putih Pancasona, orang yang memiliki ilmu Hitam Rawa Rontek dikenal sebagai orang yang mudah tersulut emosi, senang berbuat kejahatan dan anarkis. Hal itu karena sel-sel tubuh dalam penganut Rawa Rontek sudah dikuasai oleh Jin.
Ilmu Rawa Rontek memiliki 3 tingkatan, yaitu rendah, menengah dan tinggi.
Tingkat rendah diketahui adalah karena Jin bersemayam didalam aura pemiliknya untuk sekadar memiliki ilmu kebal tahan pukul, bacokan dan senjata tajam.
Tingkat menengah Jin mulai mendekati ke kulit pemilikinya. Kulit akan sekeras batu karang. Hingga lebih kebal dari apapun dan tidak bisa disakiti.
Tingkat tinggi, Jin sudah memasuki sel-sel tubuh hingga mampu membangkitkan energi tenaga dalam dan mempercepat regenerasi sel.
Pada dasarnya, Jin tidak bisa masuk ke dalam tubuh karena ruh lebih kuat. Namun, bila manusia yang sudah memberikan akses maka Jin dapat bersemayam dalam tubuhnya dan mengendalikannya sehingga pada saat tubuh terpotong akan bisa tersambung kembali.
Sama halnya dengan Ilmu pancasona, kelemahan pemilik ilmu hitam Rawa Rontek tidak boleh menyentuh tanah, harus dibakar atau menyangkutkan tubuhnya diatas pohon.
Kelangkaan ilmu ini tidak bisa diturunkan kepada orang lain melainkan harus melalui syarat-syarat atau rapal mantra yang harus dilakukan sendiri.
Ilmu Rawa Rontek berbeda dengan Ilmu debus yang hanya menekankan pada tusukan, tahan panas, tahan pukul bukan harus memotong atau melepaskan dengan tulang dari bagian tubuhnya itu sendiri.
Kesaktian orang zaman dahulu memang sulit dipercaya oleh orang zaman kini. Apalagi sudah ada teknologi pesat yang menjadikannya sangat maju dan berkembang. Namun, semuanya kembali kepada keyakinannya masing-masing.(*)
Sumber:Kanal Youtube Bang Betz Illustration