"Iya Mas."
"Yowes, saya tunjukkan jalur yang cepet ya Mas biar cepet sampai kesana."
"Oh gitu ya, oke deh bang."
"Tapi dengan syarat. Kalau kamu lewat ke jalur Candi Ceto, kalau ada yang manggil jangan nyahut, kamu lempar uang aja kalau ada yang manggil. Ngerti?"
Nando yang mendengar syarat dari Mas Tejo itupun mulai berfikir mengenai pasar setan yang sudah ia tahu.
"Jangan-jangan maksud dari si bang Tejo ini pasar setan itu." Pikirnya
Nando pun kembali melanjutkan perjalanan dengan mengikuti Mas Tejo dari belakang.
Setelah beberapa lama, Nando mulai mendengar suara-suara samar seperti ada keramaian dari jauh.
Semakin dekat, keramaian itu semakin terdengar. Seperti situasi orang-orang sedang berkumpul, namun Nando tidak melihat apapun disana.
Pada saat lewat di keramaian itu, Nando merasa ada yang manggil-manggil dia dengan menawari sesuatu. Nando merasa sedikit takut, namun kembali mengingat syarat dari Mas Tejo. Nando pun melemparkan uang koin, tanpa melihat keramaian suara tanpa jasad dibelakang.
Seketika setelah melempar koin, keramaian itupun menghilang.
Mas Tejo berhenti mengantarkan Nando setelah melewati Candi Ceto.
"Mas, sampai disini saja ya saya anterin. Saya masih ada urusan." Katanya.
"Oh iya mas, makasih banyak loh ini." Nando yang sedang berbicara pun menoleh ke belakang, namun Mas Tejo tadi sudah menghilang tanpa jejak. Nando dibuat kaget seketika.
Nando pun melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Lawu. Ia pun akhirnya berhasil sampai sehingga dapat melihat keindahan panorama dari puncak tersebut.