SuaraSoreang.id - Wanita bernama Deasy Tuwo merupakan seorang pawang buaya yang berasal dari Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
Deasy dikenal sebagai sosok yang periang semasa hidupnya, meski hingga usia 44 tahun masih melajang.
Deasy memiliki tanggung jawab untuk memelihara buaya milik bosnya di kantor, buaya tersebut diberi nama Meiri.
Buaya milik bosnya tersebut dirawat Deasy sejak kecil hingga buayanya berusia 20 tahun.
Meiri si buaya memiliki kebiasaan makan yang unik, Meiri biasa mengkonsumsi daging segar.
Meiri tidak suka mengkonsumsi daging yang sudah lama dibekukan atau tidak segar sama sekali.
Deasy bertanggung jawab atas keseharian Meiri si buaya, ia selalu memberi makan Meiri hingga memandikannya.
Hal tersebut dilakukan Deasy karena ia sangat menyayangi Meiri si buaya yang telah dirawatnya sejak kecil.
Hingga suatu ketika di bulan Januari 2019, Deasy tidak terlihat lagi di kantor dan diduga menghilang beberapa hari.
Rekan-rekan Deasy di kantor tiba-tiba melihat badan Deasy di dalam kandang buaya Meiri.
Badan Deasy sudah tidak utuh lagi, yang tersisa hanya kepala dan sebagian kakinya saja di kandang buaya tersebut.
Kejadian tersebut lantas dipalorkan ke polisi oleh rekan-rekan Deasy yang menemukannya di kandang buaya.
Pihak keolisian pun sempat kesulitan melakukan otopsi pada sisa tubuh Deasy yang tidak sempurna.
Kejadian yang dialami oleh Deasy diduga terjadi karena adanya kecelakaan saat Deasy hendak memberi makan sang buaya.
Namun tidak ada tanda-tanda yang mengarah pada kecelakaan di dalam kandang buaya tersebut.
Beberapa orang sempat beranggapan bahwa kejadian tersebut bukanlah sebuah kecelakaan biasa yang terjadi begitu saja.
Hal itu lantaran baju Deasy didapati masih utuh, padahal bagian badannya sudah habis terkoyak oleh buaya.
Selain itu sendalnya juga berada di tempat yang berbeda, sebelah sandalnya ada di luar kandang, sementara sebelahnya lagi ada di dalam kandang.
Akan tetapi tidak ada tanda bercakan darah di area luar kandang maupun di daalam kandang buaya tersebut.
Setelah kejadian tersebut buaya Merry disita oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara.
Dua pekan setelah Merry dipindahkan, ia akhirnya mati karena berbagai faktor seperti stress dan obesitas.
Setelah kematian Merry tersebut, perutnya dibelah dan sepotong tangan ditemukan dalam perut Merry.
Potongan tangan dan tulang itu diduga merupakan bagian tangan Deasy sang pawang buaya.
Kasus kematian Deasy itu akhirnya tidak pernah dibahas lagi lantaran tidak adanya bukti kuat yang mengarah pada selain kecelakaan.
Kisah mengenai Deasy si pawang buaya tersebut diceritakan dalam kanal YouTube Hiroata Radifan pada Rabu (7/12/2022) kemarin.(*)
Sumber: YouTube/ Hirodata Radifan