SuaraSoreang.id – Belakangan ini tindakan penganiayaan yang dilakukan anak pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang bernama Mario Dandy terhadap David anak dari pengurus pusat gerakan Pemuda Ansor yakni Jonathan Latumahina menjadi pembahasan publik.
Tidak sedikit publik mengomentari tindakan tersebut, salah satunya adalah Dewan L. Putra, Mahasiswa Jurusan Psikologi UGM yang memberikan komentar bahkan menganalisi kasus Mario Dandy ini. Ia mencoba menganalisis faktor-faktor apa saja yang menyebabkan seseorang berani melakukan tindakan tersebut.
“Nah, ini gue mau coba analisis dari sudut pandang anak psikologi,” kata Dewan dalam unggahan tiktok pribadinya, (25/2/2023).
Dewan menggunakan pendekatan yang murni asumsi sendiri dan beberapa diambil dari data keilmuan atau data riset serta dari apa yang ia pelajari sebagai mahasiswa jurusan Psikologi.
Menurutnya, kekayaan dan nilai diri yang menggembung (membesar) berkaitan dengan sosial kelas, entitlement atau hak, dan narsisme.
Dalam tulisan Paul K. Piff yang merupakan Associate Professor University of California Berkeley berjudul “Wealth and the Inflated Self: Class, Entitlement, and Narcissism,” Piff menunjukkan bahwa kekayaan dan nilai diri yang menggembung seringkali terkait dengan tingkat sosial kelas seseorang, entitlement atau hak, dan narsisme.
Dewan juga merujuk pada jurnal Peggy Drexler yang merupakan seorang Associate Professor Cornell University yang berjudul “Rich Kids: Serious challenges to bringing up kids who have it all.”
Menurut jurnal tersebut, anak seseorang yang memiliki uang yang banyak dan selalu berkecukupan cenderung memiliki sifat narsisme yang tinggi dibandingkan seseorang dari kelas menengah atau bawah.
Anak yang tumbuh terbiasa dengan uang merasa punya hak yang lebih ketimbang orang lain.
Baca Juga: Herman HN Akui Bantu Anggota DPRD Tulang Bawang Masukkan Anaknya di Unila karena Didesak
“Karena dia terbiasa tumbuh dengan uang maka dia merasa haknya lebih tinggi daripada yang lain, dia bisa memakai rubicon lah, moge lah yang mahal yang miliaran gitu,” ujar Dewan.
Karena merasa haknya lebih tinggi dibandingkan orang lain, seseorang seperti Mario Dandy bisa memandang orang lain jauh lebih rendah.
Selain itu, orang-orang yang memiliki uang yang banyak cenderung memiliki sifat narsisme dibandingkan dengan orang kelas menengah ke bawah.
“Sederhananya, karena mereka tumbuh dengan uang, mereka merasa nilai mereka lebih tinggi dari yang lain di dunia ini,” tutur Mahasiswa Psikologi UGM.
“Karena mereka terbiasa tumbuh dengan uang mereka merasa semuanya bisa dibeli dengan uang,” imbuhnya.
Dari analisisnya, Dewan berpendapat bahwa Mario Dandy memiliki sifat narsisme yang cukup tinggi dan merasa lebih tinggi dari orang lain.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran pacarnya di lokasi kejadian bisa memicu harga diri Dandy, sehingga ia melakukan tindakan penganiayaan tersebut.
Artikel ini merupakan bagian dari konten Cek Fakta soreang.suara.com (Suara Network Jabar) mitra suara.com.
Dibuat seakurat mungkin dengan sumber sejelas mungkin, namun tidak mesti menjadi rujukan kebenaran yang sesungguhnya (karena masih ada potensi salah informasi).
Lebih lengkap mengenai konten Cek Fakta bisa dibaca di laman ini.
Pembaca (publik) juga dipersilakan memberi komentar/kritik, baik melalui kolom komentar di setiap konten terkait, mengontak Redaksi Suara.com, atau menyampaikan isu/klaim yang butuh diverifikasi atau diperiksa faktanya melalui email [email protected]. (*Eggar Ryanto farisan).
Sumber: akun Tiktok @dewanptra